Viral, Diskriminasi di Industri Kuliner Indonesia, Pernah Mengalami?

Trending Now! Dipublikasikan 23.00, 05/06
Photo by Bimo Luki on Unsplash
Photo by Bimo Luki on Unsplash

Kematian George Floyd memicu amarah publik dunia. Gelombang protes pun muncul dari berbagai kalangan, dengan tuntutan agar aparat bersikap adil serta tidak diskriminatif dalam menegakkan hukum. 

Selain ikut menyuarakan protes terhadap apa yang dialami Floyd, warganet juga menyoroti diskriminasi di negara sendiri. Salah satu yang disorot adalah yang terjadi di industri kuliner.  Disadari atau tidak, perilaku diskriminatif ini kerap terjadi, bahkan mungkin kamu juga pernah mengalaminya. 

Akun @tthekenedycurse mencuitkan perilaku pemilik dan pelayan bisnis kuliner yang justru merendahkan rekan sebangsanya dengan mengistimewakan turis.

Rasisme di bidang F&B juga lumayan banyak, dimana kalau warga lokal mau makan tapi bajunya kurang rapih (menurut standar mereka) ga boleh masuk
Tapi kalau ada warga kulit putih padahal bajunya biasa aja & cuma beli beer doang wuadu langsung tu senyum ampe melar tu pipi

— SK (@tthekenedycurse) June 3, 2020

Cuitan tersebut viral usai memperoleh belasan ribu tanggapan pengguna Twitter. Melihat twit itu, warganet pun ramai memberikan berbagai reaksi. Mereka membenarkan masih adanya rasisme di Indonesia.

Bener banget. Lucunya aku pernah ngalami ini saat nelpon resto untuk booking, pake Bahasa Indonesia. Stafnya bilang full. Terus suamiku nelpon, pake Bahasa Inggris. Eh ada meja! 🤦🏼‍♀️

— Kate Walton (@waltonkate) June 3, 2020

Tak sedikit warganet yang mengeluhkan adanya pelayanan yang masih rasis terhadap warga lokal.

F&B menengah keatas bule dapet privilage, harga sama
F&B menengah kebawah bule dapet harga 2x lipat, tapi tetep dapet privilage wkwkwk

— Ricky Argarista (@rickyargarista) June 3, 2020

Apakah kalian memiliki pengalaman serupa? Share di kolom komentar.