Viral, Cuitan Netter Pentinganya Tidak Baper di Dunia Kerja: "Sebuah Skill yang Underrated"

Trending Now! Dipublikasikan 23.00, 08/07
Photo by Unsplash/arlington_research
Photo by Unsplash/arlington_research

Dunia kerja memang penuh dengan persaingan yang ketat. Ada yang bekerja dengan profesional, jujur dan sportif. Para pekerja berlomba untuk bekerja keras demi meraih sukses di kantor, namun tidak sedikit dari mereka kerap terbawa perasaan terhadap pekerjaannya.

Seperti yang dikeluhkan seorang warganet baru-baru ini di Twitter.

Dalam cuitannya akun tersebut membagikan sejumlah pengalamannya dalam dunia pekerjaan, ia mengingatkan perlunya mental kuat serta tidak membawa perasaan ketika sedang bekerja.

“Dimarahin klien? Bukan kamunya yang dimarahin, kantor kamu yang dia komplen. Gak usah baper,” ujarnya.  “Sudah kerja super keras tapi gak diapresiasi? Cari kerja lain atau minta naik gaji. Gak usah baper."

Akun tersebut menjelaskan, beberapa pernyataannya itu berdasarkan apa yang pernah ia alami sebelumnya. “Aku bisa endorse hal-hal di atas karena I leaned it the hard way. Aku dulu baper sampe ke level pernah tidur nangis gara-gara salah kalkulasi,” tuturnya

Ia mengatakan sempat menyampaikan keluhan mengenai pekerjaan kepada atasannya, namun akun itu justru mendapatkan jawaban yang cukup mengejutkan.

Dalam akhir cuitannya ia pun mengingatkan kepada publik untuk bersikap profesional dalam bekerja, tidak perlu membawa perasaan dan pentingnya memiliki batasan karena setiap orang punya kehidupan masing-masing.

“Pada akhirnya kerjaan ya kerjaan. Profesional. Bisnis ya bisnis. Bikin boundaries, kamu punya hidup sendiri dan punya pilihanmu sendiri. Jangan sampai kerjaan yang mendikte hidup kamu, gak usah baper,” tambahnya.

Cuitan ini kemudian viral usai memperoleh 18.600 retweets serta 33.700 likes.

Tweets ini menuai berbagai reaksi dari warganet, mereka mengatakan sependapat untuk tidak membawa perasaan ketika bekerja.

Tidak sedikit dari warganet membagikan pengalaman mereka dalam dunia pekerjaan yang kurang sehat hingga akhirnya ia keluar.

Partnership Associate Kalibrr Derrel Marvianus menjelaskan, ketika bawa perasaan (baper), suasana hati seseorang cenderung terganggu. Hal ini berimbas pada performa pekerja saat menyelesaikan tugas.

“Ini bisa membuat seorang pekerja dinilai kurang baik oleh atasan dan perusahaan. Sebab, perasaan mudah baper akan dianggap sebagai bentuk ketidakprofesionalan seseorang,” kata Derrel.

Pekerja cenderung menyalahkan keadaan saat hasil yang diperoleh tidak sesuai. Informasi selengkapnya dapat dibaca DI SINI