Update Karhutla: Diduga 1 Bayi Tewas, Jokowi & Menteri Rapat di Riau Malam Ini

LINE TODAY Dipublikasikan 14.00, 16/09/2019

Beberapa hari terakhir, kabut asap pekat kembali melanda Pekanbaru, Riau. Peristiwa Kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan di Riau bukan terjadi kali ini saja. Bisa dibilang, peristiwa karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) ini selalu berulang setiap tahunnya. 

Sejak awal tahun tercatat, karhutla di Riau mencapai 6.464 hektar. Peristiwa ini terjadi di lima kabupaten dan kota, yakni Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Kabupaten Bengkalis, Kota Dumai, Kampar, dan Kota Pekanbaru.

Manurut data AirVisual per Senin (16/9), Air Quality Index Palangkaraya mencapai 553 yang artinya termasuk Berbahaya. Sementara AQI Pekanbaru tercatat 163, yakni masuk golongan Tidak Sehat. 

Bila dilihat dari konsentrasi partikel polutan di Palangkaraya, kini telah melebihi nilai ambang batas yakni mencapai 599,5 mikrogram per meter kubik. Konsentrasi partikel udara yang memiliki diameter lebih kecil dari 2,5 mikrometer atau PM2.5, merupakan salah satu indikator pencemaran udara. Adapun batas nilai ambang batasnya, menurut BMKG, adalah 65 mikrogram per meter kubik.

Simak daftar kota-kota dengan kualitas udara terbaik dan terburuk per hari ini pukul 12 siang, di sini.

Bahkan dampak dari kabut asap tersebut, sejumlah penerbangan dari dua grup maskapai nasional, Lion Air dan Garuda, harus dibatalkan. 

Kabut Asap dan Karhutla, Peristiwa Tahunan yang Selalu Berulang

Kabut asap makin pekat di Pekanbaru, Riau, dengan jarang pandang sekitar 300 meter, Jumat (13/9/2019).(KOMPAS.COM/IDON)
Kabut asap makin pekat di Pekanbaru, Riau, dengan jarang pandang sekitar 300 meter, Jumat (13/9/2019).(KOMPAS.COM/IDON)

Kilas balik, pada 2015, hutan di kawasan Riau pernah mengalami kebakaran yang cukup parah yang juga mengakibatkan terjadinya kabut asap. Saat itu, kebakaran yang terjadi mengakibatkan 5.595 hektar lahan dan hutan terbakar. Dampaknya, perekonomian Riau lumpuh, sekolah diliburkan, bandara tutup, dan ribuan warga terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Secara keseluruhan, tahun 2019 menjadi kebakaran paling parah. Simak di sini untuk tahu perbandingan kerusakan hutan dan lahan yang terjadi dari tahun ke tahunnya.

Polri Tetapkan 185 Orang Jadi Tersangka Karhutla

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menyatakan tersangka pelaku karhutla mencapai 185 orang dan 4 korporasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menyatakan tersangka pelaku karhutla mencapai 185 orang dan 4 korporasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo mengatakan kondisi hutan yang terbakar di lapangan saat ini memasuki tahap musim kemarau El Nino. Namun dari penelusuran Polri, Dedi menegaskan bahwa karhutla di lapangan pun paling banyak disebabkan oleh buatan manusia.

"Pada saat peninjauan wakapolri dan TNI Riau memang disimpulkan 99 persen karhutla itu adalah faktor manusia," ujar dia.

Polri sudah menetapkan ratusan tersangka yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) se-Indonesia. Siapa saja? Klik link di atas untuk mengetahui.

Bayi di Banyuasin Meninggal Diduga karena Kabut Asap

Dampak dari karhutla ini ditengarai merenggut nyawa Elsa Pitaloka, bayi berusia 4 bulan dari Banyuasin, Sumatera Selatan. Anak dari pasangan suami istri Ngadirun dan Ita Septiana ini meninggal diduga akibat terpapar kabut asap. 

Kabut asap membuat Elsa alami pilek, batuk, dan perut kembung. Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyebut bayi Elsa meninggal akibat infeksi salurah pernapasan akut (ISPA), namun belum bisa dipastikan ISPA yang diderita Elsa akibat kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) atau bukan.

Dinkes menyebutkan kondisi udara di sekitar Elsa tinggal belum membahayakan jiwa ditambah kondisi rumah yang sudah permanen. "Makanya kita belum tahu penyebab pastinya," kata dia.

Sementara Gubernur Sumsel Herman Deru menyarankan agar Elsa diautopsi untuk mengetahui penyebab pastinya. Ia menambahkan, kasus ini harus ditindaklanjuti secara serius agar tidak terjadi kesalahpahaman informasi di masyarakat.

Jokowi Akan Datang Tinjau Lokasi Karhutla

Presiden Joko Widodo saat menerima gelar adat dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Sabtu, 15 Desember 2018. Jokowi diberi gelar adat karena dianggap bisa atasi asap akibat Karhutla di Riau.
Presiden Joko Widodo saat menerima gelar adat dari Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Sabtu, 15 Desember 2018. Jokowi diberi gelar adat karena dianggap bisa atasi asap akibat Karhutla di Riau.

Sejak Juli 2019 hingga kini, Provinsi Riau diselimuti kabut asap. Rencananya, hari ini, Senin (16/9), Presiden Joko Widodo akan berkunjung ke Riau untuk melihat langsung kondisi kabut asap yang semakin parah. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua DPRD Riau, Zukri.

Bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait akan menggelar rapat terkait kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Pekanbaru, Riau, malam ini. Rapat tersebut akan diikuti Menkopolhukam, Menko PMK, Menteri KLH, BNPB, Menkes, dan Mensos. 

Menurut Wiranto, Jokowi ingin langsung meninjau ke lapangan sekaligus ingin memantau laporan dari daerah terdampak kebakaran. Serta  ingin memastikan agar asap karhutla jangan sampai semakin berdampak jauh ke negara tetangga dan kemudian menimbulkan masalah antarnegara.

Asap Sampai ke Negara Tetangga

Singapura Tutup Sekolah jika Udara Buruk akibat Karhutla RI Singapura siap menutup sekolah jika kualitas udara kembali memburuk di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. (AFP Photo/Roslan Rahman)
Singapura Tutup Sekolah jika Udara Buruk akibat Karhutla RI Singapura siap menutup sekolah jika kualitas udara kembali memburuk di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. (AFP Photo/Roslan Rahman)

Melalui situs resmi, Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) pada Minggu (15/9) mengatakan akan menutup sekolah jika perkiraan kualitas udara pada hari berikutnya mencapai tingkat berbahaya.

Pernyataan ini dirilis sehari setelah Indeks Standar Polutan (PSI) di Singapura menembus tingkat tidak sehat untuk pertama kalinya sejak Agustus 2016 lalu akibat kabut asap dari Indonesia.

Sepanjang akhir pekan, warga pun sibuk melindungi diri sendiri dari dampak kabut asap sampai-sampai masker di berbagai toko dilaporkan ludes.

Namun pada Minggu, kualitas udara di Singapura dilaporkan berangsur membaik. Meski demikian, Singapura tetap menawarkan bantuan untuk menanggulangi karhutla di Indonesia.

Sekelompok profesional Malaysia mengusulkan pada pemerintahnya untuk menuntut Indonesia berkaitan dengan kabut asap yang diduga dari karhutla
Sekelompok profesional Malaysia mengusulkan pada pemerintahnya untuk menuntut Indonesia berkaitan dengan kabut asap yang diduga dari karhutla

Sementara itu, Sekelompok profesional Malaysia mengusulkan pada Pemerintah Malaysia untuk menuntut Indonesia berkaitan dengan kabut asap di Negeri Jiran yang diduga berasal dari karhutla di Indonesia.

Kelompok itu, yang terdiri dari dokter, pengacara, akademisi, aktivis sosial dan ekonom, mengatakan langkah itu untuk menuntut komitmen Indonesia dalam memadamkan kebakaran saat ini dan mencegah kebakaran di masa depan.

Mereka ingin Indonesia membayar 1 ringgit Malaysia atau ganti rugi sebesar Rp3.352 untuk kabut asap lintas batas, untuk memaksa Jakarta bertanggung jawab secara hukum atas kejadian yang hampir terjadi setiap tahun itu.

5 Tips Atasi ISPA Akibat Kabut Asap Karhutla

Sumatera dan Kalimantan dianggap sudah darurat kabut asap akibat banyaknya penyakit, kecelakaan, bahkan ditengarai ada kematian akibat kabut asap.

Kabut asap berdampak langsung terhadap kesehatan sistem pernapasan, salah satunya menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). ISPA menjadi penyakit terbanyak yang kini diderita oleh warga yang tempat tinggalnya terpapar kabut asap. 

Walau kerap dianggap 'sepele', namun gangguan saluran pernapasan seperti ISPA ini mesti mendapatkan perawatan dengan segera agar tak semakin parah, terutama untuk bayi, balita, anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Simak 5 tips atasi ISPA pada link di atas.