Uniknya Penamaan Kampung Berakhiran -an di Yogyakarta

kumparan Dipublikasikan 04.43, 14/11/2019 • Ayusandra Andany
Papan jalan Prawirotaman. Foto: Istimewa.

Yogyakarta memang terkenal sebagai kota budaya dan pendidikan. Tapi Yogyakarta memiliki suatu keunikan yang berbeda dengan kota lainnya. Keunikan itu adalah pola penamaan kampung-kampung yang selalu diakhiri dengan akhiran -an.

Erta Ardheana dalam skripsinya yang berjudul Pola Pembentukan dan Dasar Penamaan Nama Kampung Berakhiran -an di kota Yogyakarta menemukan 11 dasar penamaan nama kampung yang berakhiran –an di Kota Yogyakarta meliputi (i) profesi, (ii) Putra, Putri, atau kerabat Raja Keraton Ngayogyakarta, (iii) Prajurit Keraton Ngayogyakarta, (iv) suku, (v) tumbuhan, (vi) hewan, (vii) fungsi tempat, (viii) tokoh, (ix) perbuatan tokoh, (x) keadaan geografis, (xi) peristiwa.

Abdul Chaer dalam bukunya yang berjudul Pengantar Semantik Bahasa Indonesia menulis bahwa penamaan atau penyebutan terhadap sejumlah kata yang ada dalam leksikon dapat ditelusuri sebab-sebab atau peristiwa-peristiwa yang melatarbelakanginya, seperti dari hasil peniruan bunyi (onomatope), penyebutan bagian (pars pro toto), penyebutan sifat khas, penemu dan pembuat, (appelativa), tempat asal, bahan, keserupaan, pemendekan, penamaan baru.

Soepomo Poedjosoedarmo dkk. dalam bukunya yang berjudul Morfologi Bahasa Jawa menulis bahwa bahasa Jawa memiliki awalan N- yang seasal (cognate) dengan Bahasa Indonesia meN-; bahasa Jawa a- (literar) dan O- seasal dengan ber- dalam bahasa Indonesia; -in (literar), ka- (literar), dan di- seasal dengan di- di dalam bahasa Indonesia; akhiran –i dalam bahasa Jawa adalah seasal dengan –i dalam bahasa Indonesia; an- seasal dengan –an di dalam bahasa Indonesia; -kan bahasa Indonesia adalah padana dengan –ake dalam bahasa Jawa.

"Akan tetapi, berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa Jawa masih mempunyai imbuhan-imbuhan khusus untuk beberapa macam makna imperatif dan subyongtif seperti: -a, -na, - ana, -en, dan –na, yang nampaknya tidak ada padanannya di dalam bahasa Indonesia sisipan – in-dan-um- walaupun masih dipakai dalam ragam bahasa literer, penggunanya sudah tidak begitu produktif lagi. Seperti di dalam bahasa Jawa, bahasa Jawa juga memiliki sisipan – el-dan –er- walaupun sisipan itu hampir dikatakan telah menjadi beku," tulis Poedjosoedarmo.

Berikut ini adalah daftar dasar penamaaan kampung-kampung berakhiran -an di kota Yogyakarta.

1) Panembahan

Nama kampung yang didasarkan pada nama profesi panembah, panggilan untuk orang luhur (pendeta, bangsawan, bekas raja) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Panembahan yang berarti ‘tempat orang luhur (pendeta, bangsawan, bekas raja)'.

2) Giwangan

Nama kampung yang didasarkan pada nama profesi giwang (anting) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung giwangan yang berarti ‘tempat para pengrajin giwang'.

3) Jlagran

Nama kampung yang didasarkan pada nama profesi jlagra, tukang menatah batu yang diakhiri – an sehingga membentuk nama kampung jlagran yang berarti 'tempat kediaman para penatah batu'.

4) Kemetiran

Nama kampung yang didasarkan pada nama profesi kumetir, mandor kepala (yang diakhiri –an) sehingga membentuk nama kampung kemetiran yang berarti 'tempat kediaman para mandor kepala'.

5) Notoyudan

Nama kampung yang didasarkan pada nama putri Raja Keraton Ngayogakarta Notoyuda, nama seorang putri dari paduka Sri Sultan Hamengku Buwono I dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang beranama B.R.Ay. Notoyuda yang diakhiri –an, sehingga nama kampung Notoyudanyang berarti 'tempat kediaman B.R.Ay. Notoyuda'.

6) Mangunkusuman

Nama kampung yang didasarkan pada nama putra Raja Keraton Ngayogakarta Mangkusuma, nama seorang putra dari paduka Sri Sultan Hamengku Buwono I dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang beranama B.P.H. Mangkusuma yang diakhiri –an sehingga nama kampun g Mangkukusuman yang berarti 'tempat kediaman B.P.H. Mangkukusuma'.

7) Prawirodirjan

Nama yang didasarkan pada nama menantu Raja Keraton Prawirpdirja, menantu Sri Sultan Hamengku Buwono IV yang bernama K.R. T. Prawirodirja yang diakhiri –an sehingga nama kampung Prawirodirjan yang berarti 'tempat kediaman K.R.T. Prawirodirja'.

8) Wirobrajan

Nama kampung yang didasarkan pada nama prajurit Keraton Ngayogyakarta Wirobraja, nama salah satu dari 10 bregada/brigade prajurit Keraton Ngayogyakarta yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Wirobrajan yang berarti ‘tempat kediaman para Prajurit Wirobraja’.

9) Jogokaryan

Nama kampung yang didasarkan pada nama prajurit Keraton Ngayogyakarta Jogokarya, nama salah satu dari 10 bregada/brigade prajurit Keraton Ngayogyakarta yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Jogokaryan yang berarti ‘tempat kediaman para Prajurit Jogokarya’.

10) Patangpuluhan

Nama kampung yang didasarkan pada nama prajurit Keraton Ngayogyakarta Patangpuluh, nama salah satu dari 10 bregada/brigade prajurit Keraton Ngayogyakarta yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Patangpuluhan yang berarti ‘tempat kediaman para Prajurit Patangpuluh’.

11) Prawirotaman

Nama kampung yang didasarkan pada nama prajurit Keraton Ngayogyakarta Prawirotama, nama salah satu dari 10 bregada/brigade prajurit Keraton Ngayogyakarta yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Prawirataman yang berarti ‘tempat kediaman para Prajurit Prawiratama'.

12) Lempunyangan

Nama kampung yang didasarkan pada nama tanaman Lempuyang "cabe puyang‟ yang diakhiri–an sehingga membentuk nama kampung lempuyangan yang berarti 'tempat yang terdapat banyak tumbuhan cabe puyang'. Cabe puyang merupakan cabe jawa jenis rempah-rempahan yang biasa digunakan untuk jamu orang-orang jawa atau bisa juga bumbu dapur.

13) Peleman

Nama kampung yang didasarkan pada nama tanaman pelem 'mangga' yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung peleman yang berarti 'tempat yang terdapat banyak pohon mangga'.

14) Macanan

Nama kampung yang didasarkan pada nama hewan macan (harimau) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Macanan yang berarti ‘tempat memelihara harimau'.

15) Badran

Nama kampung yang didasarkan pada fungsinya bebadra (meditasi) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Badran yang berarti 'tempat untuk bermeditasi'.

16) Sanggrahan

Nama kampung yang didasarkan pada fungsinya sanggrah (singgah sebentar) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Sanggrahan yang berarti 'tempat persinggahan atau peristirahatan raja Kraton Ngayogyakarta beserta kerabatnya'.

17) Mrican

Nama kampung yang didasarkan pada nama tokoh mrica, Kyai Guna Mrica yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Mrican yang berarti 'tempat kediaman Kyai Guna Mrica'.

18) Depokan

Nama kampung yang didasarkan pada perbuatan tokoh depok (dipukul) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Depokan yang berarti 'tempat Raden Rangga, yaitu putra Panembahan Senopati dipukul oleh ayahnya sendiri'.

19) Gampingan

Nama kampung yang didasarkan pada gamping (kapur) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Gampingan yang berarti ‘tempat yang terdapat banyak kapur‟.

20) Serangan

Nama kampung yang didasarkan pada nama profesi serang (menyerang) yang diakhiri –an sehingga membentuk nama kampung Serangan yang berarti 'tempat peristiwa penyerangan atau pertempuran saat agresi militer belanda II'.

Artikel Asli