Ulama: Kesepakatan UEA-Israel Pengkhianatan tertinggi

REPUBLIKA ONLINE Dipublikasikan 14.38, 15/08 • Christiyaningsih
Klaim UEA tentang kesepakatan akan menghentikan aneksasi wilayah Palestina adalah keliru, kata Persatuan Ulama Islam Internasional  - Anadolu Agency
Klaim UEA tentang kesepakatan akan menghentikan aneksasi wilayah Palestina adalah keliru, kata Persatuan Ulama Islam Internasional - Anadolu Agency

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA - Kesepakatan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menormalisasi hubungan dengan Israel sama saja dengan "pengkhianatan tingkat tinggi” terhadap dunia Islam, kata sebuah kelompok ulama global pada Jumat.

Dalam sebuah pernyataan, Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS) mendesak dunia Muslim untuk mengambil "posisi tegas terhadap konsesi semacam itu dan mengerahkan upaya untuk melindungi hak penuh rakyat Palestina".

Kelompok itu juga menolak klaim UEA bahwa kesepakatan itu akan menghentikan pencaplokan Israel terhadap wilayah Palestina, mengutip pernyataan perdana menteri Israel bahwa rencana pencaplokan wilayah Tepi Barat tetap akan dilaksanakan pada masa yang akan datang.

Kesepakatan untuk menormalkan hubungan UEA-Israel diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Kamis, dalam sebuah langkah yang mencegah rencana kontroversial Israel untuk mencaplok sebagian besar Tepi Barat yang diduduki.

Perkembangan tersebut menandai ketiga kalinya sebuah negara Arab telah membuka hubungan diplomatik penuh dengan Israel, juga menjadikan UEA negara Teluk Arab pertama yang melakukannya. Negara Arab lainnya yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel adalah Mesir dan Yordania.

Kelompok-kelompok Palestina mengecam perjanjian baru itu, dengan mengatakan itu tidak melakukan apa pun untuk melayani kepentingan Palestina dan mengabaikan hak-hak rakyat Palestina. 

Kesepakatan perdamaian UEA dengan Israel adalah "tikaman berbahaya di belakang rakyat Palestina," kata Hamas dalam sebuah pernyataan.

Artikel Asli