Ulama Kenamaan Yaman Gelar Kajian Daring Pertama di Indonesia

Media Indonesia Dipublikasikan 03.55, 20/07 • http://mediaindonesia.com/
Ulama asal Yaman Habib Umar bin Hafidz (kiri)

ULAMA kharismatik asal Yaman yang konsisten menyebarkan dakwah Islam yang moderat dan merangkul, Habib Umar bin Hafidz, menggelar dauroh (kajian ke-Islaman) daring 40 hari untuk masyarakat umum di Indonesia dan negara tetangga.

Seperti diberitakan, metode dakwah Habib Umar bin Hafidz memberi pengaruh besar bagi perkembangan dakwah Islam secara global. Namanya selalu muncul dalam daftar “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia” selama lebih dari satu dekade.

Dalam pelaksanaan kegiatan dauroh, Majelis Al Muwasholah Baina Ulamai’il Muslimin menggandengan Pondoksanad.com. Ini untuk menyiasati kondisi masyarakat global yang terbatasi aktivitasnya akibat pandemi virus korona baru (covid-19).

Kurikulum pendidikan agama yang disusun oleh Habib Umar mendapat banyak pengakuan dari ulama dunia, karena dinilai otentik mengacu pada ajaran dakwah Rasullullah.

Dewan Penasehat Pondoksanad.com, Habib Muchsin Idrus Al Hamid, mengatakan program ini merupakan salah satu bentuk pendidikan Islam mutakhir dengan memanfaatkan teknologi. Bersamaan juga dengan pandemi Covid-19 yang membuat banyak masyarakat terbatas aktivitasnya.

“Pondoksanad.com mencoba untuk mengisi aktivitas masyarakat dengan konten pelajaran agama yang mengacu pada kurikulum salah satu pesantren besar dunia, Darul Musthofa,” ujarnya dalam sebuah keterangan yang dikutip, Senin (20/7).

Baca juga: 

Dijelaskan, daurah daring 40 hari ini ini pertama yang diselenggarakan di Indonesia. Peserta akan dibimbing oleh tenaga pengajar dari beberapa penjuru.

**“Para tenaga pengajar bersambung rantai sanad dan talaqinya, juga bersanad pemahaman dari materi-materinya kepada para ulama sampai kepada Nabi Muhammad,” kata perwakilan Majelis Al Muwasholah Indonesia, As Sayyid Mujtaba Shahab.

Proses belajar telah dimulai pada 11 Juli 2020, namun peserta dapat mendaftar kapan saja, dan tetap dapat mengikuti pelajaran-pelajaran sedari awal. Tidak ada persayaratan khusus untuk mengikuti kajian ke-Islaman ini, misalnya harus menguasai bahasa Arab. Pasalnya materi pengajaran akan dibawakan atau ditranlisterasi ke bahasa Indonesia atau Melayu.(OL-5)**

Artikel Asli