Uang Tabungan Kuliah Puluhan Juta Rupiah Habis untuk Main Game FIFA

Kompas.com Dipublikasikan 00.45, 16/07 • Kevin Rizky Pratama
BBC News
Jonathan Peniket, seorang remaja berusia 21 tahun asal Inggris yang menghabiskan Rp 55 juta untuk bermain game online

KOMPAS.com - Bermain game merupakan salah satu kegiatan paling ampuh untuk menghilangkan stress. Game menawarkan dunia fantasi, di mana pemain dapat menjadi pahlawan super atau tokoh menakjubkan lainnya.

Untuk menjadi "hebat" di dalam game, pemain umumnya akan menghabiskan waktu puluhan hingga ratusan jam untuk mencari barang atau karakter tertentu.

Namun untuk mempersingkat waktu, pemain dapat memilih cara instan yakni dengan membeli barang virtual (item in-game) menggunakan uang.

Hal itulah yang dilakukan Jonathan Peniket, seorang remaja berusia 21 tahun asal Inggris.

Jonathan diketahui telah menggelontorkan uang sebanyak 3.000 Poundsterling atau setara dengan Rp 55 juta di game sepakbola, FIFA memainkan mode Ultimate Team.

Ia mengaku rela menghabiskan uang tabungan kuliahnya itu untuk membeli loot box, sebuah paket di dalam game yang memuat barang-barang tertentu.

Dengan membeli loot box, Jonathan bertekad untuk mengumpulkan berbagai karakter langka yang ada di dalam game.

"Player (karakter) tertentu dapat memberikan pemain keuntungan, dan ada mata uang virtual dan pasar khusus tempat karakter-karakter ini diperdagangkan. Pemain dapat membeli paket (loot box) berisi karakter secara acak," kata Jonathan.

Karena mengandung karakter acak, maka tidak ada jaminan bagi pemain yang membeli loot box untuk mendapatkan karakter tertentu yang diinginkan.

Terlebih beberapa karakter memiliki "rate" yang sangat kecil. Akibatnya, pemain seakan dipaksa untuk membeli banyak loot box untuk mendapatkan satu buah karakter langka.

Mulai Kecanduan Menghabiskan Uang Untuk Game Online, Hingga Dianggap Berjudi

Jonathan pun menjelaskan bahwa ia telah menggandrungi game FIFA sejak kecil. Namun kebiasaannya untuk menghabiskan uang di game online baru bermula sejak tahun 2012 lalu.

Ia mengaku rutin membeli loot box untuk memuaskan rasa kecanduannya untuk "berjudi". Rasa candu itu semakin parah ketika Jonathan telah memiliki kartu debit sendiri.

"Empat tahun saya menghabiskan banyak uang untuk membeli paket karakter. Seiring berjalannya waktu, saya semakin merahasiakannya sehingga orang tua saya tidak akan tahu berapa banyak uang yang saya habiskan," jelas Jonathan.

Setelah bertahun-tahun rutin menghabiskan banyak uang untuk game online, Jonathan mulai kehabisan uang. Terlebih, kala itu ibu kandung Jonathan telah divonis mengidap kanker.

"Uang yang telah dikumpulkan orang tua dan kakek nenek saya sebagai tabungan untuk masa depan saya. Saya telah menghabiskan hampir 3.000 Poundsterling (Rp 55 juta)," ungkap Jonathan.

Menurut Komite Perjudian asal Inggris House of Lords, kegiatan pembelian barang dengan hadiah acak dianggap sebagai kegiatan perjudian.

Dirangkum KompasTekno dari BBC News, Kamis (16/7/2020), pihak pemerintah Inggris pun kini berencana untuk mengatur kegiatan tersebut ke dalam undang-undang perjudian.

Respon dari EA Sports

Publisher resmi dari FIFA, EA Sports angkat bicara mengenai kasus yang menimpa Jonathan. Pihaknya menyangkal keputusan House of Lords, dan menjelaskan bahwa kegiatan menjual loot box tidak tergolong sebagai perjudian.

EA Sports menyebut bahwa FIFA Ultimate Team dapat dimainkan secara gratis dan pembelian item in game adalah sepenuhnya opsional alias tidak wajib.

Lebih lanjut, EA Sports menjelaskan bahwa bebeberapa game termasuk FIFA Ultimate Team memiliki kemampuan "parental controls", sehingga para orang tua dapat mengawasi dan membatasi pengeluaran uang untuk pembelian dalam game.

Penulis: Kevin Rizky PratamaEditor: Reska K. Nistanto

Artikel Asli