Tuntut Jokowi Mundur, Ruslan Buton Pernah Minta Organisasinya Diberi Senjata Buat Lawan Papua Merdeka

Trending Now! Dipublikasikan 02.17, 29/05

Ruslan Buton tengah hangat dibahas di media sosial. Ia adalah penulis surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Jokowi yang isinya protes terhadap kebijakan pemerintah. 

Ruslan menuntu Jokowi mundur disertai ancaman, "Namun bila tidak, bukan menjadi sebuah keniscayaan akan terjadinya gelombang gerakan revolusi rakyat dari seluruh elemen masyarakat," tulisnya. 

Kamis siang (28/5) Ruslan dijemput polisi dan dibawa ke Polres Buton, Sulawesi Tenggara. Polisi memeriksanya terkait surat terbuka tersebut. Penangkapan itu memicu trending topic "Ruslan Buton" dan tagar #SaveRuslanButon.

Ini bukan pertama kalinya Ruslan yang menyebut diri Panglima Serdadu Eks Trimatra membuat pernyataan terbuka.  Pada Agustus 2019 ia membuat pernyataan terbuka yang ditujukan kepada Pemerintah, Kapolri, dan Panglima TNI soal Organisasi Papua Merdeka. Pernyataan ini beredar di media sosial.

Ruslan menyitir pemberitaan soal pengibaran bendera bintang kejora dan penembakan terhadap masyarakat sipil dan personil TNI di Papua. "Mereka melakukan itu dengan sangat keji, anarkis dan tidak terkendali. Pertanyaannya adalah, di mana keberadaan negara saat ini?" tulisnya.

Bagi setiap Prajurit, kata Ruslan, mati dalam medan tugas adalah suatu kehormatan. "Akan tetapi bila Prajurit mati konyol karena kedunguan dan ketololan pimpinannya yang salah mengambil kebijakan itu adalah sebuah pengkhianatan."

wikipedia
wikipedia

Dalam surat itu Ruslan menulis ia memimpin Serdadu X-Trim Nusantara dengan kekuatan setara satu batalyon siap diterjunkan ke Papua. Ia meminta dipersenjatai dan diberi akomodasi dan makan selama bertugas menghadapi OPM di Papua, tanpa perlu digaji. "Kami bukan Serdadu X-Trim bayaran, tapi panggilan jiwa demi ibu Pertiwi masih tetap melekat di tubuh kami," ujarnya. 

Ruslan menutup pernyataan terbuka itu dengan kalimat jika tulisannya itu dianggap upaya makar maka, "Mohon aparat kepolisian jangan tangkap saya. Namun cukup telepon saya, maka saya akan datang pada kesempatan pertama."

Dalam pernyataan terbukanya, Ruslan mengatasnamakan mantan anggota TNI. Ia sendiri berpangkat terakhir kapten dan pada 2018 dipecat dari Angkatan Darat serta dihukum penjara 1 tahun dan 10 bulan oleh Pengadilan Militer Ambon karena terbukti bersalah dalam kasus penganiayaan yang menyebabkan kematian seorang petani bernama La Gode.

La Gode awalnya ditangkap karena dituding mencuri singkong parut 5 kilogram yang ditaksir bernilai sekitar Rp20 ribu. Ia dititipkan di pos militer, sempat kabur, lalu ditangkap kembali. Setelahnya La Gode tewas dalam kondisi mengenaskan. Selengkapnya soal kasus La Gode cek DI SINI.