Tren Tinggalkan Sedotan Plastik, Seberapa Besar Kontribusinya untuk Lingkungan?

Kompas.com Dipublikasikan 03.08, 24/07/2019 • Luthfia Ayu Azanella
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi sedotan logam.

JAKARTA, KOMPAS.com – Gaya hidup ramah lingkungan kian menjadi tren. Salah satu persoalan lingkungan yang menjadi sorotan adalah penumpukan sampah plastik. Tak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia.

Langkah yang dilakukan salah satunya adalah mengubah kebiasaan menggunakan barang sekali pakai berbahan dasar plastik ke bahan dasar lainnya yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Belakangan, yang menjadi tren adalah penggunaan sedotan berbahan non plastik. Banyak yang memilih tak lagi menggunakan sedotan plastik sekali pakai.

Pilihannya, bisa sedotan berbahan logam, kayu, maupun bambu.

Seberapa besar kontribusi yang diberikan bagi lingkungan dari peralihan penggunaan sedotan plastik ke sedotan non plastik?

Penggunaan yang bijaksana

Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Dwi Sawung menilai, apa pun bahannya, selama digunakan dengan bijaksana, maka akan berdampak baik untuk lingkungan.

“Bukan di jenis sedotannya. Tapi kalau kita bandingkan antara sedotan besi dengan plastik, sedotan besi yang dipakai berulang-ulang, ya lebih baik sedotan besi daripada sedotan plastik yang sekali pakai,” kata Dwi saat dihubungi Kompas.com, Jumat (19/7/2019).

Meski demikian, ia mengakui, maraknya penggunaan sedotan besi/logam juga membawa dampak terkait pertambangan.

Akan tetapi, dampaknya tidak sebesar dampak yang ditimbulkan oleh limbah sedotan plastik.

“Punya dampak lingkungan, cuma enggak sebesar plastik. Walaupun ada pertambangan besi, ada peleburannya, cuma kan dia berkali-kali dipakai dan bisa terurai. Kemudian bisa didaur ulang juga,” jelas Dwi.

Hal senada juga disampaikan oleh Juru Kampanye Urban Green Peace Indonesia Muharram Atha Rasyadi.

“Yang menjadi catatan adalah bagaimana masyarakat mulai dapat secara perlahan meninggalkan ketergantungan pada plastik sekali pakai dan beralih kepada penggunaan kembali. Mindset untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai yang menjadi perhatian dalam hal ini,” kata Atha, saat dihubungi secara terpisah.

Sedotan besi, bambu, kertas, atau yang lainnya, tidak membawa dampak serius bagi lingkungan karena bisa dipakai berulang kali dan mudah diurai kembali.

"Sebenarnya ini kan langkah awal mengurangi plastik. Kalau ada yang paling mudah itu lah sedotan,” kata Dwi Sawung.

“Bagus, tapi mereka harus meningkat ke yang lain sih. Tapi sekarang saya lihat udah meningkat bukan sekadar sedotan ya, sudah botol, kantong, sudah banyak,” lanjut dia.

Meski demikian, WALHI maupun Green Peace mengingatkan bahwa peralihan penggunaan barang-barang yang tak sekali pakai akan lebih berdampak jika terkait penggunaan sehari-hari.

Sedotan dinilai bukan barang yang wajib diperlukan dalam konsumsi sehari-hari.

Kecuali, bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik sehingga proses minum harus dibantu dengan sedotan.

“Langsung diminum saja tanpa alat bantu, kecuali beberapa orang yang difableyang perlu sedotan. Jadi kalau misal bisa enggak pakai sedotan, ya enggak usah pakai sedotan,” ujar Dwi.

Sementara itu, Atha mengatakan, sedotan bukan salah satu kebutuhan primer yang harus ada.

“Kami melihat pada konteks sedotan, ini bukan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat. Dan lebih ke arah gaya hidup yang sudah menjadi kebiasaan. Kecuali kalau kita bicara dalam hal para difabel yang memang memiliki kebutuhan khusus,” jelas Atha.

Penulis: Luthfia Ayu Azanella

Editor: Inggried Dwi Wedhaswary

Artikel Asli