Trauma

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 19/10/2019 • Rara

Malam ini tidak seperti biasanya. Langit begitu gelap tanpa cahaya bulan atau bintang karena dihalangi oleh awan yang sangat tebal. Seperti apa yang kurasakan saat ini. Semua cahaya yang berada dalam diriku terhalang akan lapisan awan gelap nan tebal. Besok merupakan hari penentuan apakah aku dapat melanjutkan segala mimpi yang telah kubangun atau harus mendengarkan perkataan ibu bahwa nasibku akan berujung buruk.

***

“Bu, kalau aku menjadi seorang hakim seperti Ayah, apakah itu mungkin?”

“Tidak, Nak! Kamu tidak boleh menjadi hakim! Sampai kapan pun ibu tidak akan merestuinya!” Suara ibu yang meninggi membuat nyaliku kendor.

“Ta … tapi, Bu… Aku dapat menjaga diri dengan baik. Tidak akan ada yang menggangguku. Selain itu ada Michael yang akan menjagaku. Ia akan menjadi seorang polisi. Semua akan baik-baik saja. Percayalah, Bu”

“Nak, apa kamu lupa mengapa kita bisa menjadi seperti ini? Kamu ingat betapa bahagianya keluarga kita sampai akhirnya semua lenyap dalam sekejap? Semua ini karena ayahmu adalah seorang hakim! Ibu tidak ingin kehilangan kamu, satu-satunya orang yang ibu punya. Untuk itu, kamu tidak boleh menjadi hakim! Ganti mimpimu dengan hal yang lain!”

***

Itulah terakhir kalinya aku meminta izin kepada ibu untuk menjadi hakim, sekitar setahun yang lalu. Atau lebih tepatnya, enam bulan sebelum ibuku meninggal karena sakit. Aku sempat berpikir apakah kematian ibu menjadi jawaban atas doaku selama ini, sehingga aku dapat mendaftarkan diri sebagai mahasiswi jurusan hukum. Namun, di dalam diriku masih ada keraguan. Masa lalu keluarga kami menjadi satu hambatan besar, yaitu ketika ayah meninggalkan kami berdua untuk selamanya karena menjadi korban balas dendam atas kasus yang ditugaskan padanya. 

***

Ayah merupakan seorang hakim terkemuka pada masanya. Pihak-pihak yang benar akan dibela dan dimenangkan, tanpa memandang seberapa besar uang kotor yang ditawarkan kepada beliau.

Aku sangat kagum kepada ayah dan pekerjaannya. Yang kutahu, aku ingin menjadi seperti ayah, menjadi seorang hakim. Hingga suatu hari, ayah ditugaskan untuk mengadili tersangka utama dalam kasus pembunuhan yang dilatarbelakangi oleh dendam antar sekelompok mafia kelas kakap.

Menjelang hari persidangan, banyak teror yang menghantui rumah kami. Paket-paket berlumuran darah di bagian dalam dan pesan dengan nada mengancam seringkali diterima di kediaman kami. Diriku yang saat itu baru berumur 10 tahun masih ingat dengan jelas bagaimana gemparnya ibu. Ia menjadi lebih sering menangis. Tetapi, ayah selalu merespon dengan tersenyum, walaupun kutahu bukan senyuman bahagia.

“Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” kata ayah menenangkan ibu. Aku sangat mempercayai ayah. 

Sampai suatu ketika, ibu histeris setelah menjawab panggilan dari nomor yang tidak kuketahui. Ibu langsung bergegas membawaku pergi. Sembari menyetir dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya, air mata ibu terus-menerus membasahi pipi merahnya. Aku hanya diam dan bingung, tetapi tidak ada satu pun pertanyaan yang berani kutanyakan. Perasaanku tidak enak. Hingga ibu berbelok dan memasuki sebuah rumah sakit.

“Siapa yang sakit, Bu?” tanyaku di saat rasa penasaran sudah meluap dalam benakku. Alih-alih menjawab, Ibu tetap fokus menyetir dan memarkirkan mobilnya di tempat yang kosong.

Aku tidak mengingat apa pun yang terjadi setelah itu, tetapi yang jelas aku tahu bahwa ayahku sudah tiada. Aku sangat kecewa, baik akan perkataan ayah dan diriku yang mempercayainya. Yang terparah, aku kecewa akan profesi hakim. 

Setelah hari itu, kehidupanku dan ibu memburuk. Kami memulai segalanya dari awal. Ibu mulai melamar berbagai jenis pekerjaan untuk menghidupiku. Aku pun menjalani kehidupan yang baru. Kehidupan tanpa ayah dan masa depan yang jelas. Aku tidak lagi menginginkan untuk menjadi seorang hakim, bahkan membencinya. Walaupun tidak sebesar rasa benci ibu terhadap profesi tersebut, tetapi aku sudah muak memikirkan semua hal yang berkaitan tentangnya.

Tahun pun berganti, entah mengapa diriku dan hukum menjadi suatu hal yang saling berkaitan. Berbagai hal yang kujumpai mengarahkanku kepada jurusan hukum, seperti takdir. Mulai memasuki jenjang SMA, berbagai hal yang berbau hukum mulai kudalami. Perlahan, tingkat kebencianku terhadap hukum dan profesi hakim semakin menghilang, bahkan berganti dengan rasa ingin tahu yang lebih.

Walaupun belum sepenuhnya melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu, namun aku sangat menikmati saat membaca semua hal yang berkaitan dengan profesi ayah. Hingga akhirnya aku memantapkan diriku untuk mengambil jurusan hukum dan menjadi seorang hakim.

Meskipun sudah pasti, banyak pertanyaan yang ada di benakku. Bagaimana jika aku menjadi seorang hakim yang dibenci oleh kaum tertentu, seperti ayah? Bagaimana jika hidupku senasib dengan ayah? Bagaimana nasib keluargaku nantinya? Terutama, aku akan menjadi seorang ibu, siapa yang akan merawat anakku nantinya? Dan bagaimana reaksi ibu kalau ia tahu? Aku tidak bisa melihat ibu kembali emosional jika aku membahas hal ini dan pastinya ibu tidak akan menyetujuinya. Apa yang kupikirkan ternyata benar. Setelah percakapan aku dengan ibu setahun yang lalu, aku tidak pernah lagi membahas akan keinginanku, namun secara diam-diam aku tetap mewujudkannya. 

***

“Pat, kok kamu melamun?” tanya Michael sambil membawakan dua gelas cokelat panas dan memberikan satu kepadaku.

“Duh, sayang… Gimana nasibku besok? Aku takut semua hal akan terulang kepadaku. Apalagi aku belum dapet restu dari ibu untuk masuk jurusan ini.” Aku melontarkan segala kegelisahan sambil meraih gelas yang diberikan kepadaku.

“Oh iya! Ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu,” balas Michael yang langsung beranjak menuju tasnya, mencari sesuatu dan memberikannya kepadaku.

“Ini surat yang ibumu titipkan beberapa hari sebelum beliau meninggal. Ibumu ingin aku memberikannya kepadamu di saat kamu sudah mantap masuk ke jurusan hukum,” penjelasan pacarku yang mencengangkan. Perlahan, aku membuka dan membaca surat dari ibu. Walaupun hanya surat pendek, tetapi dapat membuatku menitikkan air mata bahagia.

Patricia sayang…

Maafkan ibu yang pernah menolak keras cita-citamu untuk menjadi seperti ayah. Ibu tidak ingin segalanya terulang. Cukup kamu dan ibu yang merasakannya. Tetapi, ibu tahu sebenarnya kamu memiliki potensi yang sama dengan ayah, menjadi hakim yang benar dan adil. Walau ibu harus menerima kenyataan pahit dari profesi tersebut, tetapi ibu yakin kamu akan sangat berkembang dalam hal itu. Ibu tidak bisa egois melarang cita-cita kamu karena nantinya, kamu lah yang akan menjalani hidupmu sendiri bila ibu tak ada lagi di dunia ini.

Oleh karena itu, ibu setuju kamu mengambil jurusan hukum dan menjadi seorang hakim. Yang jelas, selalu jaga diri baik-baik. Ibu percaya Michael akan menjaga dirimu dengan sangat baik. Kejar dan raihlah mimpi itu, Nak! Ayah dan ibu akan sangat bangga kepadamu.

Dari orang yang sangat menyayangimu, Ibu.

***

Tentang Penulis

Seorang perempuan berumur 22 tahun yang tinggal di Jakarta.