Tradisi Brahatan di Mojokerto, Kupat-Lepet Pererat Silaturahmi

Jawapos Diupdate 14.38, 16/02 • Dipublikasikan 14.38, 16/02 • Ilham Safutra
Tradisi Brahatan di Mojokerto, Kupat-Lepet Pererat Silaturahmi

Sebentar lagi bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa atau bulan Syakban dalam kalender Hijriah. Pada pertengahan bulan tersebut, di Kabupaten Mojokerto terdapat berbagai kegiatan sebelum bulan puasa. Warga di utara Sungai Brantas punya tradisi berbeda. Mereka punya brahatan.

PEMERHATI budaya dan folklor Mojokerto Iwan Abdillah mengungkapkan, brahatan adalah sebuah tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat desa setempat. Tradisi itu dilakukan dengan ritual berdoa bersama tepat di malam 15 bulan Syakban. ’’Sebenarnya hampir sama dengan ritual nisfu Syakban pada umumnya. Tapi, di wilayah utara sungai lebih dikenal dengan istilah brahatan,’’ ungkapnya.

Tak jauh berbeda dengan kegiatan nisfu Syakban, di malam pertengahan bulan itu warga muslim menggelar doa di masjid maupun musala. Yaitu dengan membaca surah Yasin sebanyak tiga kali dan memanjatkan doa kepada Sang Khalik. Dengan harapan memohon dipanjangkan umur dalam ketakwaan, diluaskan rezeki yang halal, dijauhkan dari bencana, hingga memohon diberi ketetapan iman sampai akhir hayat.

Sebab, tanggal 15 bulan kedelapan dalam tahun Islam itu diyakini sebagai malam keberkahan. Itu diambil dari bahasa Arab, bara’ah. Di malam nisfu Syakban itu pula dipercaya bahwa pintu ampunan terbuka dan semua doa bisa mustajabah. ’’Brahatan juga simbol ruwatan jelang Ramadan,’’ tutur alumnus Jurusan Antropologi Universitas Airlangga (Unair) tersebut.

Brahatan bisa juga diartikan sebagai mempersiapkan diri dan hati dalam menyambut bulan suci Ramadan. Salah satu simbolisasinya adalah aneka makanan. Masyarakat membawa ketupat, lontong sayur, dan lepet. Mirip hari raya ketupat yang biasanya dilakukan seminggu setelah Idul Fitri.

Dalam tradisi Jawa, dua makanan itu sangat filosofis. Ketupat atau kupat merupakan akronim dari ngaku lepat yang berarti mengakui segala kesalahan. Bukan hanya itu, makanan yang terbungkus dari janur atau daun kelapa muda berbentuk segi empat tersebut juga melambangkan hati. Sehingga, setelah bersama-sama saling mengakui kesalahan, hati disimbolkan seperti ketupat yang telah dibelah. Yaitu tampak isinya yang putih dan bersih tanpa dikotori penyakit hati. Seperti sifat hasut, iri, maupun dengki.

Pun demikian dengan lepet. Makanan yang dibuat dengan bahan dasar beras ketan itu melambangkan hubungan tali silaturahmi setelah sama-sama mengakui kesalahan. Sehingga erat seperti lengketnya ketan dalam makanan lepet. ’’Oleh karena itu, masyarakat saling membawa ketupat dan lepet sebagai bentuk saling mengakui kesalahan memaafkan,’’ terang penulis buku Ngaos Cerita Rakyat, Asal Usul Desa di Wilayah Kecamatan Jetis tersebut.

Di Kabupaten Mojokerto, tradisi brahatan itu dikenal di wilayah utara Sungai Brantas. Seperti di Kecamatan Jetis, Kemlagi, Gedeg, dan Dawarblandong. ’’Sementara untuk wilayah kecamatan di sisi selatan Sungai Brantas maupun wilayah Kota Mojokerto hampir tidak ada yang mengenal brahatan,’’ tandas asisten administrasi umum Setdakab Mojokerto tersebut.

Iwan menyebutkan, dalam agenda tahunan itu, masyarakat berharap bisa memaafkan sesama manusia dan mendapat ampunan dari Sang Pencipta untuk menata hati menyambut bulan suci.

(RIZAL AMRULLAH/JAWA POS RADAR MOJOKERTO)
Artikel Asli