Tinggalkan Barcelona yang Glamor, Reputasi Guardiola Ternoda di Italia

INDOSPORT.com Diupdate 10.29, 05/08 • Dipublikasikan 13.32, 05/08 • Editor: Nugrahenny Putri Untari

INDOSPORT.COM - Berikut perjalanan seorang Pep Guardiola setelah hengkang dari klub LaLiga Spanyol, Barcelona, menuju tanah Italia, tempat di mana reputasinya sempat ternoda.

Dikenal sebagai salah satu pelatih sekaligus mantan pemain sepak bola yang hebat, Pep Guardiola nyatanya tak lebih dari seorang pribadi yang pernah punya pengalaman buruk selama meniti karier di dunia si kulit bundar.

Sebelum memutuskan pergi mengembara ke Italia, Guardiola telah menghabiskan banyak waktunya bersama Barcelona. Ia adalah salah satu produk akademi La Masia yang tumbuh di bawah asuhan legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff.

Bersama Barcelona, Guardiola sukses menyabet banyak gelar dalam kurun waktu satu dekade lebih berada di tim utama. LaLiga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, dan Piala Super Eropa hanya beberapa dari koleksi titelnya.

Namun karier seorang Pep Guardiola juga sesekali mampet dan puncaknya adalah musim 1999-2000 ketika prestasi Barcelona terjun bebas tanpa rem. Mereka gagal meraih trofi-trofi domestik, tampil buruk saat tengah musim LaLiga, dan bahkan terhempas dari Liga Champions.

Sementara itu, situasi yang tak kalah memprihatinkan juga menghinggapi Guardiola yang mengalami cedera dan berada di ambang batas akhir kontraknya. Ia pun kemudian memberanikan diri untuk pergi mencari pengalaman baru dan meninggalkan zona nyamannya.

Setelah hengkang dari Barcelona, Guardiola tak langsung menyematkan hatinya ke klub lain. Ia harus berpikir matang-matang dalam menentukan pelabuhan selanjutnya mengingat tak lama lagi ia bisa saja pensiun sebagai pemain.

Hingga akhirnya, pilihan pria kelahiran 18 Januari 1971 tersebut jatuh ke klub Liga Italia, Brescia. Keputusannya ini bisa dibilang cukup menggemparkan jagat sepak bola karena banyak yang mengira ia akan bergabung dengan klub papan atas yang paling tidak levelnya setara Barcelona saat itu.

Pep Guardiola semasa masih berada di klub Brescia sebagai pemain. Copyright: telegraph.co.uk

Pep Guardiola semasa masih berada di klub Brescia sebagai pemain.

Guardiola akhirnya pergi merantau ke Italia di usianya sudah menginjak 30 tahun. Brescia Calcio, meski memiliki pemain sekelas Roberto Baggio, nyatanya belum bisa membuat presiden mereka saat itu, Gino Corioni, puas.

Hasratnya Corioni memiliki pemain kelas dunia pun dipenuhi oleh Pep Guardiola, yang juga jadi pelengkap kedatangan Roberto Baggio satu tahun sebelumnya. Keduanya pun bermain di bawah asuhan Carlo Mazzone.

1. Pep Guardiola dan Masa Kelam di Italia

Pep Guardiola pernah menjalani masa-masa kelam selama bermain di Liga Italia, baik bersama Brescia maupun AS Roma.

Kasus Doping

Namun meski begitu, tanah Italia juga menyimpan kenangan buruk bagi Guardiola lantaran reputasinya sebagai pemain sepak bola ternodai kasus doping pada tahun 2001.

Ia terindikasi mengonsumsi zat steroid anabolik jenis nandrolone menyusul kemenangan Brescia 1-0 atas Piacenza. Parahnya, kasusnya pun berlanjut usai timnya kalah memalukan dari Lazio dengan skor 0-5, ia kembali dinyatakan positif doping.

Buntutnya, Guardiola dijatuhi sanksi larangan bermain selama empat bulan, yang artinya ia terpaksa absen membela Brescia sebanyak 16 pertandingan. Namun mendengar tuduhan tersebut, Guardiola jelas tak tinggal diam.

Ia berusaha membantah dan membela diri demi membersihkan namanya yang tercemar. Meski mengaku tak sengaja mengonsumsi nandrolone lewat suplemen makanan, hukuman tetaplah hukuman dan ia harus lapang dada menerimanya.

Pada tahun 2005, pria kelahiran Santpedor, Spanyol, tersebut mengajukan banding namun tak disetujui pengadilan Brescia. Hingga akhirnya, perjuangannya membuahkan hasil pada tahun 2007 dan ia dibebaskan dari segala tuduhan.

Tapi nanti dulu, penyelesaian isu yang berpihak pada Guardiola ternyata membuat Komite Olimpiade Italia (CONI) kebakaran jenggot. Kasus doping tersebut dibuka kembali pada tahun 2009 ketika Guardiola sudah jadi pelatih sepak bola dan menangani mantan klubnya, Barcelona.

Masalah yang dibawa Guardiola sejak zaman ia bermain di Italia tersebut terus menghantuinya meski sudah lewat bertahun-tahun lamanya. Beruntung, setelah menjalani sidang, namanya pun akhirnya benar-benar bersih.

Tanah Italia yang Tak Ramah

Sepak terjang Pep Guardiola di Liga Italia pada tahun pertamanya terbilang cukup lumayan tapi cenderung biasa saja, namun setidaknya ia sudah menyelamatkan Brescia di klasemen akhir musim 2001-2002. Klub berjuluk Le Rondinelle itu finis di posisi 13 dengan raihan 40 poin.

Selain reputasinya yang sempat ternoda karena kasus doping, Guardiola juga tak banyak mencetak momen mengesankan selama membela Brescia. Pencapaiannya di sana jauh berbeda bak langit dan bumi ketimbang yang ia peroleh ketika membela Barcelona yang glamor.

Hanya tampil sebanyak 12 kali di semua kompetisi jelas membuat Guardiola frustrasi. Bagaimana tidak? Dulu selama berseragam Blaugrana, ia mencatatkan banyak penampilan, setidaknya lebih dari 30 kali dalam semusim.

Hal ini pun kemudian berdampak pada kans Guardiola membela Timnas Spanyol untuk ajang Piala Dunia 2002 dan ia bahkan kehilangan tempat di skuat José Antonio Camacho.

Sempat pindah ke AS Roma pada tahun 2002, Pep Guardiola kembali ke Brescia setelah satu tahun. Akan tetapi tetap saja, namanya tak bergaung di industri sepak bola Italia hingga akhirnya ia memutuskan hijrah bermain di klub Qatar, Al-Ahli.

Walaupun pernah mengalami masa-masa kelam ketika berada di Italia, Pep Guardiola kini telah menjelma sebagai salah satu pelatih sepak bola masa kini yang sukses bersama tim yang ditanganinya.

Bersama Barcelona, Bayern Munchen, dan Manchester City, ia merengkuh seabrek gelar yang melelahkan jika dihitung dengan jari. Trofi-trofi tersebut pun seolah menutup reputasi kelamnya ketika bermain di Italia dua dekade lalu.

Artikel Asli