Three Empty Number - Part 1: Ponsel Jadul

Storial.co Dipublikasikan 04.07, 06/07 • AT Press Makassar
Ponsel Jadul

“Lebih mudah merindumu yang berada di Kutub Utara atau Selatan. Setidaknya, masih ada jarak yang bisa kuhitung, seberapa jauh tempatmu dan tempatku kini. Namun menunggumu yang bahkan tak tahu di mana, seperti menghitung rentang jarak yang melampaui batas.”

Surabaya, Desember 2017 …

Kotak kardus kecil, bungkus handphone keluaran super lama masih tersimpan di laci meja kamarnya. Lapisan kulit luarnya bahkan sudah mengelupas dan tulisan mereknya memudar seiring berlalunya waktu.

“Tia …,” panggilan Bundanya membuat Tiana bergegas menyimpannya kembali.

“Iya, Bun.” Ia turun dari kamarnya menghampiri Amara yang sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan putri semata wayangnya. “Bunda, ngapain sih, repot-repot begini. Kan ada Embak yang masakin?”

“Kamu kayak enggak tahu ayahmu. Bisa ngomel dua puluh empat jam kalau masakannya enggak sesuai selera lidahnya.”

Tiana terkekeh kecil. Orangtuanya terkadang memang aneh. Ayahnya terlalu pemilih soal rasa makanan. Catat. Bukan soal makanannya, tapi rasanya. Ayahnya bisa makan makanan apa saja asal enak. Sementara Bundanya adalah tipe istri pengabdi suami. Semua itu bermula dari perjanjian pra nikah mereka. Kalau ayahnya yang keturunan Tionghoa mau jadi muallaf, bundanya berjanji akan menjadi istri yang mengabdi pada suami dan melepaskan pekerjaannya yang kala itu sedang berada di puncak karir.

“Kamu tuh penampilannya makin hari makin berantakan. Kalau disorot media bagaimana? Masa anaknya pengusaha sukses penampilannya kumal begitu.”

“Bunda protes mulu. Ini namanya style, Bunda,” bantah Tiana masih cekikan.

Style apanya? Lihat tuh, rambut kamu berantakan begitu. Disisir yang rapi dong, sayang.”

“Buuun, ini namanya model rambut messy. Emang modelnya kayak begini.”

“Kamu tuh, ngebantah aja kalau dibilangin Bunda. Ini, taruh di meja makan!”

Tiana menurut dan memindahkan menu sarapan pagi mereka ke meja makan sebelum ayahnya turun dari kamar.

Tiana memang sudah banyak berubah. Sejak memutuskan mengabdikan dirinya mengurusi Yayasan Anak Jalanan, ia tidak lagi terlalu peduli pada penampilannya. Gaun-gaun yang dulu sangat disukainya sudah tersingkir dari almari. Tergeser oleh kaos, kemeja, jaket, dan celana yang beberapa tahun terakhir menjadi penguasa almarinya.

***

Ruang pameran masih sepi. Panitia EO masih tampak berseliweran mendekorasi ini dan itu. Seorang perempuan tinggi, berambut sebahu style asymmetrical bob, dengan kemeja putih, celana kulot hitam, dan sepatu high heels hitam tampak memberikan arahan dengan serius.

Tiana tersenyum sembari bersandar di salah satu tiang besar yang menopang bangunan. Sahabatnya, si Miss Perfect nan elegan itu tidak pernah berubah. Ia selalu ingin semuanya berjalan sempurna tanpa kesalahan sekecil apa pun. Kalau perlu, tidak boleh ada debu sebutir pun yang mengotori ruang pamerannya.

Kedua matanya menangkap bayangan Tiana dan membuatnya meninggalkan urusannya. “Tia.” Wajahnya semringah. “Kamu kok udah dateng?” tanyanya setelah mendaratkan pipi kanan-kirinya ke pipi Tiana.

Tiana tersenyum. “Aku ada kegiatan sama anak-anak nanti, makanya dateng sekarang. Ya, paling enggak nongolin muka ke kamulah,” candanya.

“Jahat, ih. Padahal udah janji mau dateng ke pameran. Enggak jadi aku kenalin ke pangeranku, dong?”

“Pangeran salah sambung?” canda Tiana. “Kapan-kapan ajalah. Lagian kayak enggak ada hari besok aja.”

Jovita melirik ke atas sejenak. “Iya juga, sih.” “Ya udah,  aku enggak bisa lama-lama. Sori.”

Tiana menggamitkan kedua telapak tangannya. “Sebagai gantinya kamu harus traktir aku makan enak.”

“Iya, siap, Miss Perfect.

Tiana meninggalkan ruang pameran. Ia sudah ada janji dengan orang-orang dari Yayasan Anak Jalanan (YAJ) Pentahouse. Katanya ada donatur baru.

***

Tiana terjebak macet. Ia kira setelah pindah dari Jakarta ke Surabaya, tidak akan terjebak macet lagi. Kenyataannya, Tiana lupa bahwa Surabaya adalah Kota Metropolitan kedua. Alhasil, ia telat sampai di kantor YAJ Pentahouse. Meeting yang dijadwalkan dimulai sejak satu setengah jam yang lalu sudah bubar.

“Ya ampun, Tia. Kamu dari mana aja, sih?” Ia disambut dengan omelan Avisena, CEO YAJ Pentahouse.

“Macet, Ko.”

Avisena mengintip jam tangannya. “Jam segini macet?”

“Ada kecelakaan tadi.” Tiana berlalu memasuki kantor.

Avisena menguntit di belakangnya. Bagaimana pun, bukan kesalahan Tiana juga jika terjebak macet karena kecelakaan.

Meetingnya gimana tadi?” tanya Tiana penasaran. Ia membuka pintu ruang kerjanya bersama Avisena dan beberapa staf yang lain.

“Lancar. Donaturnya baik. Masih muda lagi.”

“Oh, ya?” Tiana menyahut enggan.

Ditariknya kursi dan duduk. Ia langsung menyalakan laptop di mejanya.

“Kayaknya sih, masih single.” Avisena melirik Tiana dengan muka menggoda.

“Ya udah, pacarin aja,” sahut Tiana seenaknya.

Dahi Avisena seketika berkerut. “Pacarin?

Dia cowok kali. Ya, cocoknya sama kamu.”

Tiana hanya tersenyum kecut. Ia mengangkat cincin di jari manisnya. Sebagai isyarat bahwa ia sudah bertunangan. Meskipun teman sekantornya tidak pernah memercayai tunangan khayalan Tiana itu.

***

Tiana lagi-lagi memandangi ponsel jadul keluaran tahun „90-an yang barangkali sudah tidak diproduksi lagi. Ponsel itu milik ayahnya yang hampir dibuang. Namun, Tiana justru meminta untuk menyimpannya. Beserta sim card di dalamnya. Meskipun tidak pernah digunakan, Tiana rutin mengisi saldo pulsanya agar kartunya tidak terblokir.

“Masih nungguin dia ngubungin kamu?” Jovita yang sudah lama berdiri di pintu kamarnya terpaksa masuk begitu saja. Ia sudah mengetuk pintu berkali-kali, tapi tidak ada respon dari Tiana.

Tiana memasukkan ponsel antik itu ke dalam kotak kardusnya kembali. Kemudian memasukkannya ke laci meja.

“Enggaklah, ngapain nungguin dia? Paling- paling dia udah lupa sama aku. Udah tunangan sama cewek lain. Atau malahan udah nikah dan punya anak.”

Jovita tersenyum melihat ekspresi Tiana. “Enggak usah bokis1, deh. Keliatan kali dari muka kamu.”

Tiana lagi-lagi menunjukkan cincin di jari manisnya.

“Itu lagi yang dipamerin.” Jovita berpura bosan dengan alasan Tiana. Ia merebahkan pantatnya di atas tempat tidur Tiana.

“Kamu sendiri gimana? Sampai kapan mau nungguin Pangeran salah sambung kamu itu?”

Jovita tersenyum. “Tahu. Yang pasti, selama hatiku belum merasa lelah menunggu, aku akan terus menunggu.”

“Kalau seandainya cinta pertama Pangeran salah sambung kamu itu nongol, kamu bakal gimana?”

Jovita diam. Ia tampak berpikir. “Nongol bukan berarti mereka bakal bersama lagi, kan? Lagian, siapa tahu cinta pertamanya udah nikah.”

Tiana tertawa kecil. “Itu sih maunya kamu.” “Ya. Cinta memang harus egois. Kalau enggak, mana ada yang namanya perjuangan dan pengorbanan cinta.”

Tiana hanya tersenyum. Senyuman getir.

Jovita benar, cinta itu egois.

***

1 Bohong

Artikel Asli