Tewas di Rumah Kekasih, Mahasiswi S2 Hukum di NTB dalam Kondisi Hamil, Ini Penjelasan Polisi

Kompas.com Dipublikasikan 06.26, 14/08 • Michael Hangga Wismabrata
KOMPAS.COM/HANDOUT
Ilustrasi Pembunuhan

KOMPAS.com - Misteri penyebab kematian LNS, mahasiswi S2 Fakultas Hukum di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mulai terungkap.

LNS yang ditemukan tewas tergantung di rumah kekasihnya, R (22), pada hari Sabtu (25/7/2020), ternyata dalam kondisi hamil.

Selain itu, menurut hasil otopsi, korban tewas karena kehabisan oksigen.

"Tim penyidik menduga ada tindak pidana dalam kasus kematian Linda, salah satunya pasal 338 KUHP," kata Kasat Reskrim Polres Kota Mataram, AKP Kadek Adi Budi Astawa di ruang kerjanya, Kamis (13/8/2020).

Baca juga: Anak Gugat Ibu Soal Warisan Ayah di Lombok: Kalau Ada Putusan, Tahu Hak Kita Apa

 

Amankan sejumlah barang bukti

Astawa menjelaskan, penyelidikan polisi terus berlangsung. Saat ini sejumlah barang bukti telah diamankan, salah satunya rekaman CCTV.

"Kita tidak bisa menyimpulkan secara spesifik bahwa orang yang kelihatan di sana siapa saja, belum bisa kami simpulkan," katanya.

Lalu dari rumah kekasih LNS, R, polisi mengamankan barang bukti lainnya, di antaranya tali berwarna kuning, pisau, anak panah, minyak urut, sprei, baju, dan sebuah kursi.

"Kursi yang kami duga digunakan untuk menaikkan korban. Salah satu kursi itu ada yang terjatuh. Kita belum bisa memastikan bagaiman pelaku mengunakan kursi itu," ujar Astawa.

 

Baca juga: Ditemukan Tergantung di Rumah Kekasih, Mahasiswi S2 Hukum Ternyata Dibunuh

Untuk anak panah, kata Astawa, masih dalam penyelidikan apakah terkait dengan kasus tersebut atau tidak.

Lalu, hingga saat ini sudah ada 23 saksi yang telah dimintai keterangan.

Saat terakhir berjumpa keluarga

Menurut Syamsul Hidayat, koordinator pendamping keluarga LNS yang berasal dari tim kuasa hukum Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Mataram (BKBH-Unram), korban terakhir terlihat di rumah para Kamis (23/7/2020).

Saat itu, menurut Syamsul, korban pamit hendak pergi mengurus kuliah.

"Sejak kamis itu korban tidak pernah terlihat lagi, dan Sabtu justru ditemukan meninggal tergantung di rumah R. Tidak ada tanda-tanda korban mengalami tekanan, gerak gerik korban terlihat normal. Hanya saja kakak korban melihat korban sedikit murung, tapi tak lama korban kembali ceria," kata Syamsul.

 

Bercak darah dan tali

Syamsul menambahkan, kejanggalan juga ditemukan di lokasi kematian korban. Salah satunya potongan tali berwarna kuning.

"Logikanya jika orang mau gantung diri tidak akan memikirkan ada kelebihan tali. Untuk apa sempat-sempat memikirkan, 'ooh, ini kelebihan talinya, tidak bagus untuk estetika', terus kemudian dia potong, kan tidak. Mau satu, dua meter pasti dia pakai," kata Hadi.

(Penulis: Kontributor Kompas TV Mataram, Fitri Rachmawati | Editor: David Oliver Purba)

Editor: Michael Hangga Wismabrata

Artikel Asli