Tersesat selama 3 hari di gunung Ciremai - Part5

Storial.co Dipublikasikan 14.25, 06/08 • Utis Sutrisna
Bab5.Goa Walet Yang Ada di Dekat Puncak Gunung Ciremai

Mungkin kurang lebih sekitar dua jam lagi perjalanan apabila dilihat dengan mata kepala Kami bisa sampai dipuncak, tiba-tiba Peking menghentikan perjalanan ia berkata.

"Woy break dulu yah kayaknya gw gak sanggup lanjutin lagi perjalanan, lagian juga  gw susah nafas terus sudah sore gimana kalo kita buka tenda disini?…” Teriak Peking.

"King bentar lagi sampe ke puncak tuh dah kelihatan Puncaknya!” Balas Saya.

Peking tetap saja tidak bisa melanjutkan perjalanan lagi mungkin karena oksigen mulai menipis karena ketinggian, Peking makin terasa susah bernapas. Akhirnya Kami memutuskan untuk ngecamp atau membuka tenda. Ternyata disekitar kita ada sebuah Goa yang tidak Kami ketahui sebelumnya, Kami tahu karena melihat papan petunjuk yang dipasang dipohon yang bertuliskan "Goa Walet"yang posisinya berada dibawah sana. Tetapi Saya pribadi jujur awal melihat mulut Goa tersebut merasa sangat takut lalu Saya berpendapat.

"Gimana kalo diriin tenda di luar Goa aja?….”

"Gw gak mau kalo diriin tenda di luar goa mending di dalem aja lebih Aman, kalo ada badai kita gak bakal kena badai” Protes Peking.

Saya berpikir gak akan terkena badai karena posisi untuk menjangkau kegoa tersebut harus turun  mungkin sekitar 5-7 meter dari kami berdiri, jadi sebenarnya walaupun Kami mendirikan diluar goa kita terlindung dibalik tebing yang ada disekitar kita atau tepatnya Kami semua berada disekitar antara tebing tersebut.

Akhirnya Peking malah emosi dia tetap saja memaksa Kami semua untuk mendirikan tenda didalam goa sampai ia membanting dirigen stok air minum yang ia bawa. Akhirnya Encam dan Naning menenangkan keadaan saat itu mereka bilang,

"Ya udah Tis kita cek aja dulu kedalam goa itu siapa tahu ada tempat yang enak?…”

Lalu Kami semua mengecek kedalam goa, dimulut goa banyak sekali botol-botol air mineral yang berfungsi menampung tetesan air yang jatuh dari stalaktit yang ada di sekitar mulut goa. Yang ada dibenak Kami, mungkin air itu untuk membantu para pendaki yang kehabisan stok air untuk menuju puncak karena sudah tidak ada lagi sumber air untuk menuju puncak selain tetesan air dari stalaktit tersebut. 

Dengan bantuan senter dan lampu badai untuk menerangi pandangan mata Kami untuk melihat  kedalam goa, karena benar-benar tidak ada cahaya selain dari senter dan lampu badai tersebut saat Kami mulai kedalam goa itu.

Akhirnya Kami menemukan tempat yang sangat sempit tetapi cukup untuk berbaring empat orang, tanahnya sangatlah halus mungkin seperti rumah-rumah dipedesaan yang lantai hanya tanah yang sudah keras dan mengkilat hitam, kurang lebihseperti lantai yang terbuat dari tanah dan di atasnya sudah diberikan plastik untuk menahan tetesan air dari atas goa tersebut. Kamipun tidak pernah tahu siapa yang memasangnya, akhirnya Kami memutuskan menginap di tempat itu karena dari yang Kami lihat hanya tempat itu yang terbaik menurut Kami.

 Kami semua membawa peralatan Kami kedalam Goa itu dan merapihkan untuk menginap semalam ditempat itu walaupun Kami tidak bisa mendirikan tenda untuk Kami tidur, Kami hanya menggunakan tenda dan matras untuk mengalasi Kami tidur. 

Di atas langit-langit goa tersebut memang banyak sekali sarang burung walet karena burung-burung walet banyak bersarang diantara celah  atap goa dan berterbangan dari langit-langit Goa tersebut. Kami berpikir mungkin Goa ini dinamakan "Goa Walet" karena banyak sekali burung walet yang bersarang di Goa ini. 

Tanpa Kami sadari dari tempat berbaring Kami yang kurang lebih 2x3 meter di bawah kaki Kami ada lubang yang sangat gelap,  Kami cek dengan menjatuhkan batu kedalam lubang atau rongga Goa tersebut untuk mengetahui apakah dangkal atau sebaliknya. Ternyata lubang itu sangat dalam sampai batu yang tadi Kami jatuhkan sangat lama menyentuh dasar lubang  pantulannyapun saat terdengar menunjukan bahwa lubang itu cukup dalam, rasa ketakutan Saya semakin tambah, lalu waktu semakin malam Kami memutuskan untuk berbaring, tidak lama kemudian Encam berteriak disaat Kami semua sudah mulai tidur.

"Aduh gw kebakar, Aduh gw kebakar…!!” Kami semua terbangun lalu bertanya.

"Apa yang ke bakar Cam?….,”

"Ini badan gw kaya kebakar?…” Kata Encam Menjelaskan.

Lalu Encam membuka jaket yang ia pakai dengan penerangan senter dan lampu badai Kami melihat kearah yang terasa terbakar pada tubuh Encam tepatnya dibawah ketiaknya ternyata kulitnya terkelupas, bahkan ada bagian kulit yang ikut menempel dijaket Encam karena jaket Encam berupa rajutan benang atau sweater rajut, kulit yang terkelupas mungkin kurang lebih lebarnya setelapak tangan orang dewasa. Lalu Kami mengobatinya dengan peralatan P3K yang Kami bawa, ternyata penyebab kulit Encam terbakar karena, minyak tanah yang tumpah dijaketnya dari lampu badai yang dia taruh didalam Carriernya yang dibalut jaket untuk terhindar dari benturan. ternyata isi minyak di dalam lampu itu masih tersisa dan tumpah dijaketnya. 

Pengalaman yang kita dapat dari kejadian itu ternyata minyak tanah sangat berbahaya apabila dikeadaan suhu tertentu yang dingin apabila terkontak langsung dengan kulit. Lalu Kami semua melanjutkan tidur suasana didalam Goa semakin mencekam tidak lama kemudian Naning membangunkan Saya.

"Tis bangun…!"

"Kenapa Ning?..”

"Gw pingin kencing tapi dimana yah gw serem nih?..”            "Sama gw juga dari tadi nahan kencing Ning!”

Encam dan Peking akhirnya terbangun dari tidurnya karena mendengar obrolan Kami berdua merekapun menyarankan,

"Ya udah kencing aja di depan sini Ning!”

Jadi akhirnya Kami berdua buang air kecil dilubang yang ada dibawah kaki Kami yang sebelumnya lubang yang Kami cek dalam sekali itu, 

Kami berdua melanjutkan istirahat karena besok pagi Kami semua harus sudah melanjutkan pendakian kepuncak. 

Pagi hari pun tiba Kami lihat jam sekitar 06.15, tetapi Kami semua tidak melihat cahaya matahari sedikitpun yang masuk kedalam Goa. Tiba-tiba Peking bangun dari tidurnya belum sedikitpun ia minum ataupun mengucek kedua matanya ia seperti orang menyanyi dan yang sangat anehnya ia menyanyikan lagu yang asing liriknya karena pas Saya perhatikan lalu Saya tanyakan.

 "King lo nyanyi lagu siapa?… “

“Gw gak nyanyi apa - apa kok?…” Jawab Peking dengan santainya.

Sayapun bingung karena Saya jelas-jelas mendengar Peking menyanyikan sebuah lagu, syair lagu yang Peking nyanyikan yang Saya masih ingat dengan jelas"Aku Terdampar di Hutan yang Luas Ini"dan jujur saja nadanya lumayan bagus Peking nyanyikan, yah sudah Saya mengabaikan nyanyian tersebut, lalu Kami semua mengepak barang masing-masing untuk melanjutkan pendakian ke puncak.

Artikel Asli