Tersesat selama 3 hari di gunung Ciremai - Part2

Storial.co Dipublikasikan 12.32, 06/08 • Utis Sutrisna
Bab2.Proses Keberangkatan

Sebenarnya kedua orangtua Saya tidak pernah mengizinkan Saya untuk mendaki Gunung, tetapi anak seusia Saya pada saat itu lagi senang-senangnya mencari sebuah pengalaman baru. Jadi setiap Saya  ingin melakukan pendakian, peralatan pendakian Saya selalu lebih awal dipacking karena apabila  ibu Saya sampai tahu pasti Saya akan batal melakukan pendakian, jadi caranya Kami  meminta izin kepada kedua orang tua Saya. Dengan cara Kami semua sebelum berangkat datang dahulu kerumah Saya setelah ibu Saya selesai Shalat subuh lalu Kami meminta izin kepadanya dengan perlengkapan yang sudah ada dipunggung Kami masing-masing, itulah waktu yang sangat tepat menurutku untuk meminta izin kepada orangtua bisa dikatakan dengan cara memaksa. Akhirnya kedua orangtua Saya mau tidak mau mengizinkan Kami walaupun wajah mereka menunjukkan tidak ikhlas mengizinkan Kami semuabpergi mendaki, Sayapun langsung mencium tangan kedua orangtua Saya sambil meminta doanya 

"Mah Utis berangkat dulu doain yah mah?…”Encam, Naning, Pekingpun bergantian meminta do'a kepada kedua orangtua Saya.

Kami semua melakukan keberangkatan pada hari selasa pagi kurang lebih  mulai berangkat dari rumah sekitar jam 5 pagi menuju terminal Bekasi, dan sebenarnya Kami semua tidak tahu dimana Gunung Ciremai itu tepatnya. Tetapi yang terpenting untuk Kami hanya tahu dikota mana Gunung Ciremai itu berada untuk Kami itupun sudah cukup, dan itu memang selalu yang Kami lakukan karena apabila dari salah satu teman mendaki Kami sudah tahu atau pernah mendaki Gunung yang akan Kami daki pasti Kami membatalkan pendakian ke Gunung tersebut, karena Kami merasa kurang asyik apabila sudah ada yang mengetahui Gunung yang akan Kami daki, alasan Kami kita berusaha ingin mengerti Gunung yang kita daki dengan bersama-sama mencari jalan sampai kepuncaknya, akhirnya kita semua menuju ke kota Cirebon dengan bus jurusan Cirebon dari terminal Bekasi.

Di separuh perjalanan bus yang Kami tumpangi, bus tersebut istirahat disalah satu SPBU lalu Kami  membeli makanan untuk mengganjal perut Kami tidak lama kemudian ada seorang lelaki berjaket kulit, berkacamata hitam kurang lebih berusia 30 tahunan menghampiri Kami.

"Mau ke mana mas?..”

"Ga ke mana - mana kok mas!” Kami menjawab

"Ah Mas - mas mau mendaki yah itu bawa tas besar - besar?…” Tanya lelaki jaket kulit penasaran

"Ia mas Kami mau naik ke Ciremai!" Jawab Encam.

"Oh mau ke Ciremai kalo mau naik ke sana?.., lebih baik lewat jalur Palutungan aja mas lebih landai dan pemandangannya lebih indah kalo dari jalur sana!” Balas lelaki jaket kulit.

"Oh gitu ya mas" ia sebenarnya rencana Kami semua ingin mendaki belum tahu lewat jalur mana tapi rencana Kami mau lewat jalur Linggarjati mas!” Encam menjelaskan.

"Wah lewat Linggarjati jalurnya lebih curam mas Saya juga suka membawa rombongan anak – anak Universitas  untuk melakukan pelantikan, di perkemahan di bawah kaki Gunung Ciremai lewat Palutungan!” Kata Lelaki Jaket Kulit menyarankan.

Kalo Mas-masnya mau nanti Saya antar kearah jalurnya, Kami merasa sudah sangat akrab dengan lelaki itu padahal Kami cuma bertemu ditempat istirahat bus, ia pun memberikan no. telepon dikertas kepada Saya lalu Saya simpan didalam dompet. Akhirnya kita semua mempercayai ucapan lelaki itu karena alasannya sangat masuk akal dan kelihatan dari ucapannya yang cukup mengetahui Gunung Ciremai dan terlihat postur tubuhnya lelaki itu seperti seorang pendaki yang berpengalaman dan iapun mengantar Kami sampai kearah jalur Palutungan, Kamipun berpisah setelah lelaki itu bilang kamu naik aja angkot itu dia kearah Palutungan kok.

Artikel Asli