Tersangka

LINE TODAY Dipublikasikan 23.00, 13/12/2019 • Chaca
unsplash
unsplash

“Tuk… Tuk… Tuk…” suara menekan layar telepon genggam. Setiap hari, semua orang akan membuka dan menekan-nekan layar telepon genggamnya. Ada yang membuka pesan, menelepon seseorang, membuka media sosial, mengecek email, dan masih banyak lagi. 

 Portal berita dan media sosial selalu menjadi tempat yang paling sering dikunjungi oleh banyak orang. Apalagi jika terdapat berita atau topik yang sedang “trending” di salah satu akun media sosial, seperti beberapa hari ini. Berita atau topik tersebut akan selalu menjadi bahan pembicaraan utama di setiap kalangan, baik muda maupun tua. Hal tersebut juga terjadi di salah satu universitas ternama dan terbaik di Indonesia. 

 Semua mahasiswa yang bersekolah di tempat tersebut selalu terlihat sibuk dengan telepon genggam masing-masing. Mereka akan terus fokus memandang layar telepon genggamnya, tidak peduli waktu dan kondisi. Saat menyeberang jalan, mereka berjalan dan mengamati layar telepon genggamnya. Begitu pun, jika mereka sedang mengobrol dengan teman-teman kuliahnya.

 “Udah nentuin mau pilih yang mana?” 

 “Hmm… Tersangka kedua. Yakin deh.” 

 “Tersangka pertama kali. Baca deh penjelasan dari koran Semesta.” Beberapa mahasiswa tengah asyik mengobrol tentang berita “trending” tersebut.

 Obrolan mahasiswa tersebut di dengar oleh Bianca. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan tersebut, tetapi ia selalu saja mendengar kata “tersangka pertama, kedua, atau ketiga” sejak keluar dari mobilnya. Dan ia tidak bisa menanyakan kepada mahasiswa-mahasiswa tersebut, karena ia tidak mengenalnya. Ia benar-benar menunggu untuk segera bertemu dengan teman-temannya dan menanyakan rasa penasarannya tersebut.

 “Bii!!!” teriak riang salah satu temannya, begitu Bianca memasuki ruangan perkuliahannya. Temannya berlari menghampirinya dan diikuti oleh teman-teman lainnya. 

 Dipeluknya semua teman-teman dekatnya tersebut. Bianca tersenyum dan tertawa riang bisa bertemu kembali dengan teman-temannya tersebut. Pelukan dan senyumannya juga dibalas oleh Luna, Bulan, Wendy, dan Pamela. Mereka sudah berteman baik sejak pertama kali bertemu di universitas tersebut. Dan mereka juga mengambil jurusan yang sama, yaitu hubungan internasional. 

 “I miss you so much, girls,” ucap Bianca sembari memeluk.

 “Samaaa….” ucap Luna dan diikuti oleh anggukan kepala teman-temannya. Pelukan mereka semua dilepaskan dan berubah menjadi rangkulan hangat. Mereka kembali duduk di salah satu sudut ruangan tersebut. 

 “Nih, oleh-olehnya.” Bianca mengeluarkan beberapa kotak hadiah yang terbungkus manis dari dalam tasnya. Teman-temannya tersenyum bahagia melihat kotak-kotak tersebut.

 Bulan langsung menanyakan semua pengalaman Bianca selama berlibur di Mesir. Bianca sudah sekitar seminggu tidak bertemu dengan teman-temannya. Ia juga tidak bisa menghubungi teman-temannya, karena kedua orangtuanya mempunyai peraturan ketat terkait penggunaan telepon genggam. 

Ayah Bianca tidak akan membiarkan anggota keluarganya memegang telepon genggam masing-masing, terutama waktu bersama keluarga. Hal tersebut dilakukan agar setiap anggota keluarga dapat memberikan perhatian lebih terhadap anggota keluarga lainnya. Sangat sulit untuk memiliki waktu bersama keluarga, seperti saat itu. Ayah Bianca sibuk mengurus perusahaannya setiap hari, sehingga ia jarang bertemu dengan anak-anaknya. Begitu pula, ibunya yang sibuk dengan beberapa usaha makanan yang dimilikinya. 

Semua telepon genggam akan disimpan di sebuah tas kecil yang akan dibawa ke mana saja oleh asisten ayahnya selama perjalanan tersebut. Apabila ada urusan penting terkait pekerjaan atau keluarga besarnya, maka asisten ayahnya akan menyampaikan ke ayah Bianca. 

Bianca tidak begitu bermasalah dengan peraturan tersebut, karena ia tidak begitu tergila-gila atau ketergantungan dengan benda tersebut. Ia hanya ingin menghubungi pacarnya dan teman-temannya saja, tetapi ia tidak bisa melawan peraturan ayahnya sendiri. Dan ia baru bisa mendapatkannya kembali begitu tiba di rumah, pagi ini.

“Nah, sekarang aku mau tanya deh. Ada kasus pembunuhan ya?” tanya Bianca setelah menceritakan liburannya.

Semua temannya diam dan saling berpandangan satu sama lain. Mereka tidak tahu kasus apa yang dimaksud olehnya. Melihat teman-temannya kebingungan dengan pertanyaannya, Bianca pun menceritakan apa saja yang didengarnya. 

“Belum buka hp?” tanya Pamela.

Bianca hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan Pamela. Memang sejak sampai di rumah dan menerima kembali telepon genggamnya, ia belum menyalakannya kembali. Ia bahkan tidak tahu apakah baterainya penuh atau tidak. Ia pun buru-buru mencari telepon genggamnya di dalam tasnya dan menyalakannya. 

“Ting… Ting… Ting…” suara segala macam notifikasi dari telepon genggamnya selama seminggu. Ada telepon masuk, pesan, akun media sosialnya, email, dan notifikasi lainnya. Ada 999 notifikasi yang harus dibacanya.

“Waduh, banyak banget ya. Ya udah tutup aja deh hpnya. Aku ceritain aja deh ya, biar cepet,” ucap Luna dengan bersemangat. Luna memang senang menyampaikan berbagai macam informasi yang diketahuinya, karena ia memang suka mengikuti segala macam berita yang ada. Ia merasa tidak bersemangat, apabila tidak tahu 1 berita saja yang sedang dibahas di media sosial. 

  “Jadi, lagi ada berita “trending” gitu di internet. Semuanya lagi bener-bener fokus ke kasus itu, dari mulai koran sampe tv.” Luna menceritakan semuanya dengan begitu detail. Bianca sekarang pun mengerti mengapa setiap orang sedang membahas “tersangka”, karena di mana pun memang berita itu yang di bahas. Portal-portal berita unggulan yang biasanya membahas berita politik atau kondisi sosial ekonomi pun membahas “tersangka”. Acara-acara televisi pun juga membahasnya, baik acara berita maupun hiburan. Tidak ada satupun yang tidak tahu tentang berita tersebut, selain dirinya dan mungkin anggota keluarganya sendiri. Di dalam hatinya, Bianca benar-benar merasa terkucil karena dia satu-satunya yang tidak tahu berita tersebut.

 Pamela, Wendy, Bulan, dan Luna mengadakan taruhan tentang berita tersebut. Luna lah yang menyarankan taruhan tersebut. Yang salah memilih tersangka sebenarnya harus mentraktir pemenangnya. Dan pemenang bebas menentukan tempat dan makanan apa yang diinginkannya. Apalagi banyak ajakan untuk menentukan siapa tersangka sebenarnya di internet, dan siap apun yang mampu menjawab dengan benar akan mendapatkan hadiah. Bermacam-macam bentuk hadiahnya, seperti kosmetik, perawatan wajah, pakaian, dan sepatu. Ajakan berhadiah tersebut banyak dilakukan oleh artis-artis dan akun-akun resmi dari berbagai macam bidang atau produk. 

 “Kalau kalian pilih siapa?” tanya Bianca.

 “Tersangka kedua dong,” jawab Wendy dan Pamela bersamaan.

 “Tersangka pertama kali…” ucap Bulan.

 “Tersangka ketigalah. Gimana sih kalian,” ucap Luna sembari tersenyum kecut ke arah teman-temannya.

Wendy dan Pamela menjelaskan alasan mereka memilihnya dengan begitu bersemangat. Mereka yakin bahwa pelaku sebenarnya adalah tersangka kedua, karena semua bukti-bukti sangat cocok dengannya. Penjelasan tersebut langsung disangkal oleh Bulan dan Luna. Semua temannya sangat yakin dengan pemikiran masing-masing dan tidak ingin mendengarkan penjelasan dari teman-teman lainnya. Mereka hanya ingin pemikirannya di dengar dan diikuti oleh teman-temannya.

Bianca sendiri merasa pusing dan lelah mendengar penjelasan teman-temannya tentang tersangka tersebut. Ia tidak benar-benar tahu cerita tersangka tersebut, karena Luna hanya menceritakan bahwa berita tersebut ada di mana-mana dan bagaimana terus disampaikan dari satu orang ke orang lainnya. 

“Bentar, mending tunjukin berita utamanya di mana. Jujur, aku pusing dengerin kalian. Aku nggak ngerti sebenernya ini ceritanya gimana,” keluh Bianca.

Wendy membuka layar tablet putihnya sehingga semuanya bisa melihat bersama-sama. Ia membuka salah satu aplikasi yang menampilkan berbagai macam video dari seluruh dunia. Lalu, ia mengetik salah satu nama saluran terkenal “Juliudin”.

“Halo, semuanya! Balik lagi di channel Metube kita. Seperti yang kalian tahu, kita nggak sempet upload video. Kita, Juliudin, minta maaf sama kalian atas keterlambatan kita minggu lalu.

Jadi, hari ini kita mau cerita pengalaman kita minggu lalu. Iyaa alasan kita nggak bisa upload video sebenernya.

Minggu lalu, sore, kita abis nonton festival film di salah satu pusat kesenian kota. Nontonnya dari siang sampe sore. Laper dong ya! Jadi, kita cari makan.

Ada warung sate di deket tempat itu dan kayaknya sih enak. Kita belum pernah makan di situ. Ah iya, kita nggak bakal nyebutin lokasi pastinya ya. Nggak lucu kalo kita dituntut. Harusnya sih kita yang nuntut.

Si Juju pesen sate kelinci, Lili pesen sate sapi, Udin pesen sate ayam, dan aku pesen sate kambing. Semuanya pake bumbu kacang, pesen nasi putih sama es jeruk manis. 

Cuma Iin yang nggak pake sambel, tapi tetep aja makan sambel kan kita saling coba sate masing-masing.

Dan besoknya kita semua diare. Bener-bener diare yang sampe bolak balik ke kamar mandi. Diarenya cair gitu dan lemes banget. 

Kita jadi mikir dong. Sebenernya siapa sih tersangka utamanya? Pertama, si bumbu kacang. Kedua, si es jeruk. Ketiga, emang tempatnya nggak bersih. 

Kita nggak masukin si daging soalnya itu tergantung cara abangnya ngolah. Jadi, itu termasuk di tersangka ke tiga ya.” Video tersebut belum selesai diputar, tetapi harus berhenti. 

“Selamat pagi!” suara pak Khoirul memasuki ruangan tersebutlah yang mengakhiri video tersebut.

Semua teman-temannya mengembalikan posisi kursi dengan benar dan duduk manis mendengarkan setiap materi yang disampaikan oleh Pak Khoirul. Semuanya sibuk mencatat dan mengambil gambar tampilan power point Pak Khoirul. 

Bianca juga mengeluarkan telepon genggamnya kembali dan membuka salah satu fitur berita yang ada di salah satu media sosial yang berwarna hijau muda tersebut. Ia menggeser berita tentang bencana kebakaran hutan di salah satu pulau Indonesia dan ledakan gunung sampah di berbagai tempat. Ia mencari berita “tersangka” dan ingin membacanya lebih jauh lagi.

----

Profil Penulis

Chaca sudah menulis sejak kecil, tulisan pertamanya berhasil dimuat di salah satu majalah anak-anak, Mentari. Ia menceritakan tentang dirinya yang salah mendengar barang dagangan pedangan makanan yang lewat di depan rumahnya. Ia sangat senang memasak. Banyak resep masakan yang ditemukannya di internet dan telah dicobanya sendiri. Ada yang berhasil, dan ada pula yang tidak berhasil. Tetapi ia pantang menyerah dan tetap melanjutkan hobinya hingga kini.