Terkuak: Cara Mengalahkan Manchester City

kumparan Dipublikasikan 12.13, 17/10/2019 • Billi Pasha Hermani
Ekspresi kecewa Ederson saat kebobolan dua gol dari Wolves. Foto: Andrew Yates

Manchester City tak sesuper dulu. Mereka telah menelan 2 kekalahan dan sekali imbang hingga pekan kedelapan Premier League musim ini.

Betul, baru 5 kemenangan yang dipetik The Citizens. Ini kalah jauh dari Liverpool yang sukses menyapu bersih 8 pertandingan. Alhasil, margin City dengan Liverpool kini genap 8 angka. City pun cuma berjarak 2 poin dari Crystal Palace yang berada di peringkat keenam.

Dari segi produktivitas, sih, tak ada yang salah. City masih menjadi tim terproduktif dengan rata-rata 3,4 gol per laga --unggul jauh dari Liverpool di posisi kedua di angka 2,5.

Nah, problem City ada di divisi pertahanan. Tercatat sudah 9 gol yang bersarang ke gawang Ederson Moraes sejauh ini. Jumlah tersebut tak lebih baik dari Sheffield United dan Manchester United --dua tim yang bertengger di papan tengah.
Dalam perspektif lain, persentase tim-tim lain untuk memecundangi City makin meningkat. Buktinya, kesebelasan angin-anginan macam Wolverhampton Wanderers --yang kadang mengejutkan, kadang melempem-- dan tim promosi seperti Norwich City saja mampu menjungkalkan mereka.

So, apa saja yang harus dipersiapkan untuk mengalahkan City?

City punya kelemahan. Foto: REUTERS/Toby Melville

Pasang Garis Pertahanan Rendah

Cara paling simpel adalah dengan menduplikasi sistem permainan Wolves dan Norwich, kedua kesebelasan yang sukses menjungkalkan Fernandinho dan kawan-kawan sejauh ini.

Benang merahnya, Wolves dan Norwich sama-sama mengaplikasi garis pertahanan rendah. Plus, menumpuk para pemain mereka di kotak penalti.

Formula itu terbukti moncer. Pengisi second line City macam Bernardo Silva, David Silva, dan Ilkay Guendogan kesulitan untuk menembus jantung pertahanan. Pun demikian dengan Raheem Sterling dan Aguero yang mengalami kebuntuan untuk menyisir dari sisi tepi.

Jadi, mau tak mau City kemudian mengalihkan skema serangannya via umpan lambung. Ini buruk, sebab mereka tak punya penyerang yang jago soal duel udara.

Pertandingan Manchester City melawan Wolverhampton Wanderers di Stadium Etihad, Manchester, Inggris, Minggu (6/10/2019). Foto: REUTERS/Andrew Yates

Gamblangnya, semakin tinggi intensitas City melakukan crossing, semakin kesulitan pula mereka dalam menembus pertahanan lawan. Tercatat City telah melepaskan 31 umpan silang saat berhadapan dengan Norwich dan 30 saat bersua Wolves.

Agresivitas City dalam mengepung pertahanan lawan mengundang efek samping: Garis pertahanan tinggi. Nah, situasi semacam ini yang kemudian sukses dimanfaatkan Wolves melalui Adama Traore. Begitu pula dengan skema gol kedua Norwich via Todd Cantwell.

Maksimalkan Bola Mati

Well, bukan perkara mudah untuk mengelabui pertahanan City via skemaopen-play. Ya sulit, wong, merebut bola dari mereka saja bikin ngos-ngosan. Tercatat, City cuma kemasukan 4 kali dari metode open-play dan jadi yang terendah di Premier League.

Namun, lain cerita bila melalui skema set-piece. Taktik bola mati meningkatkan probabilitas serangan menjadi 50:50. Kebetulan, City amat rentan alam mengantisipasi metode tersebut.

Norwich jadi salah satu tim yang sukses memanfaatkannya. Melalui sepak pojok, Kenny McLean sukses mencetak gol pembuka 'Si Kenari' pada pertengahan bulan lalu.

Gol Norwich ke gawang Manchester City. Foto: Reuters/John Sibley

Bila ditotal, City sudah kemasukan 12 kali dari skema bola mati --sepak pojok dan tendangan bebas --sejak awal musim lalu. Jika dihitung-hitung, persentasenya mencapai 37,5% dari total 32 gol secara keseluruhan. Ironisnya, persentase ini menjadi yang terburuk di antara kontestan Premier League lainnya.

Pressing

Sulit dimungkiri bahwa pressing adalah anti-taktik darijuego de posicion milik Guardiola. Tekanan yang dilakukan secara masif dan terstruktur nyatanya berulangkali sukses mematikan kreativitas City.

Buntutnya, suplai bola ke lini depan menjadi minim. Itulah yang membuat 3 gol dalam 4 perjumpaan terakhir di lintas ajang. Parahnya lagi, mereka juga cuma mampu memenangi satu laga dalam renang waktu tersebut.

Liverpool kala bersua Manchester City di perempat final Liga Champions musim 2017/18. Foto: Getty Images/Laurence Griffiths

Eh, ada tapinya… Tak semua tim bisa menerapkan sistem pressing sebagaimana yang diterapkan Liverpool di bawah arahan Juergen Klopp. Dibutuhkan skuat yang mumpuni, meliputi determinasi, stamina, dan pengorganisasian yang terstruktur.

Artikel Asli