Terjadi Lonjakan Kasus Covid-19, WHO: Lockdown Total Mungkin Dilakukan

Kompas.com Dipublikasikan 03.02, 13/07 • Gloria Setyvani Putri
SHUTTERSTOCK/ZAMAN JORJ
Ilustrasi lockdown

KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, lockdown lanjutan dimungkinkan di seluruh dunia. Ini mengingat beberapa negara justru mengalami lonjakan kasus Covid-19 setelah karantina diri dilonggarkan.

Dr Michael Ryan, direktur eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO mengatakan dalam konferensi pers pada Jumat (10/9/2020), lockdown total mungkin bisa menjadi satu-satunya pilihan yang harus dilakukan beberapa negara atas lonjakan kasus Covid-19.

Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan lonjakan yang terjadi mengindikasikan bahwa penyebaran virus tidak terkendali, bahkan semakin buruk.

"Jumlah kasus Covid-19 yang tercatat di negara-negara seluruh dunia bertambah dua kali lipat dalam rentang enam minggu," kata Tedros dalam konferensi pers hari Jumat (10/7/2020).

Baca juga: Tarif Rapid Test di Indonesia Rp 150.000, Seberapa Efektif Tes Ini?

Dalam pemberitaan CBS News, Ryan mengatakan bahwa dalam situasi saat ini, kita sangat tidak mungkin dapat memberantas atau menghilangkan virus SARS-CoV-2.

"Ada banyak lingkungan yang mengalami hal ini, seperti kepulauan dan tempat lainnya. Bahkan, risiko itu bisa muncul lagi (di masa depan)," ungkapnya seperti dilansir Science Alert, Minggu (12/7/2020).

"Pola yang lebih mengkhawatirkan adalah kelompok besar kasus dapat terjadi terkait dengan penyebaran superspread, peristiwa yang terjadi saat orang-orang berkerumun dalam jumlah besar," imbuh Ryan.

Sebab itu, Ryan berkata, setiap negara harus berupaya untuk "memadamkan bara sekecil apa pun".

Maksudnya, negara harus segera ambil tindakan saat menemukan tanda-tanda awal gelombang kedua sebelum virus itu menyebar ke seluruh negeri.

Baca juga: Pernyataan Resmi WHO, Virus Corona Menyebar di Udara dan Menular

Di hari Kamis (9/7/2020), WHO mengeluarkan laporan yang berisi seberapa mudah virus dapat menyebar. Hari itu, secara resmi WHO menyatakan bahwa virus corona jenis SARS-CoV-2 berada di udara dan dapat ditularkan melalui udara.

Pernyataan ini menyusul aksi ratusan ilmuwan di 32 negara yang mendesak WHO memperbarui rekomendasi.

Sejak virus corona baru pertama kali dilaporkan pada bulan Desember, ia telah menginfeksi lebih dari 13 juta orang dan membunuh setidaknya 571.518 orang di seluruh dunia sejauh ini. Data ini berdasar catatan Worldmeters pada Senin (13/7/2020) pagi.

Sebuah laporan situasi yang dirilis 10 Juli mengatakan lebih dari setengah dari total kasus yang diidentifikasi di seluruh dunia berada di Amerika, di mana setidaknya 20 negara Amerika Selatan telah bergulat dengan kemiskinan, infrastruktur yang lemah, dan sistem layanan kesehatan yang berlebihan untuk menghadapi situasi yang memburuk yang telah menginfeksi jutaan orang.

Di AS, banyak tempat mulai dibuka kembali pada Mei meskipun ada rekomendasi dari pakar kesehatan masyarakat.

Sementara di Indonesia, tercatat ada lebih dari 75.000 kasus di Tanah Air dengan jumlah meninggal 3.606 orang dan total sembuh 35.638 pasien.

Penulis: Gloria Setyvani PutriEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli