Telefast Indonesia (TFAS) menargetkan penjualan Rp 687,5 miliar tahun ini

Kontan.co.id Dipublikasikan 05.42, 17/09/2019 • Yasmine Maghfira

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (17/9). Emiten startup yang bergerak di bidang digitalisasi untuk software sumber daya manusia (SDM) ini tercatat di papan pengembangan BEI.

TFAS mencatatkan perolehan dana hasil IPO sebesar Rp 75 miliar dari penjualan 416,67 juta saham atau setara dengan 25% dari modal disetor. Harga saham yang ditawarkan Telefast adalah Rp 180 per saham.

"Kami menargetkan penjualan Rp 687 miliar di tahun 2019, sementara untuk bottom line-nya di Rp 19,7 miliar," kata Direktur Keuangan TFAS Setiawan Parikesit usai pancatatn saham perdana, Selasa (17/9). Target pendapatan ini naik 11,01% jika dibandingkan dengan pendapatan tahun 2018 yang sebesar Rp 619,1 miliar.

*Baca Juga: Harga saham Telefast Indonesia (TFAS) melejit pada perdagangan perdana *

Tahun 2020, TFAS menargetkan kenaikan penjualan 26% hingga mencapai Rp 867,1 miliar dengan target laba Rp 23,62 miliar. Sementara untuk tahun 2021, emiten yang baru listing itu menargetkan penjualan naik 16% atau sebesar Rp 1 triliun. 

Berdasarkan laporan keuangan kuartal satu 2019, TFAS mencatatkan total penjualan yang mencapai Rp 134,17 miliar. Anak usaha PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) ini juga mencatkan laba periode berjalan sebesar Rp 5,4 miliar. Sementara, total aset perusahaan kuartal satu 2019 itu sebesar Rp 121,16 miliar.

*Baca Juga: Analis: Saham calon emiten laris manis karena prospek jangka panjang *

Sebagai informasi, Telefast Indonesia merupakan perusahaan startup yang bergerak di bidang sumber daya manusia (SDM) secara digital. Bisnis model Telefast adalah menggabungkan perangkat Human Resources Information System (HRIS), manpower supply specialist, dan digital job application.

TFAS berencana menggunakan dana hasil IPO untuk modal kerja sebesar 70%, belanja modal sebesar 25%, dan sisanya 5% untuk rekrutmen internal perusahaan. Nantinya, alokasi belanja modal yang mencapai 25% itu ditujukan untuk pengembangan aplikasi TFAS, yaitu HR-KU dan Bilik Kerja.

Artikel Asli