Tekuk Ganda Jepang, Ahsan/Hendra Juara BWF World Tour Finals 2019

kumparan Dipublikasikan 11.07, 15/12/2019 • Yoga Cholandha
Ahsan/Hendra beraksi di BWF World Tour Finals 2019. Foto: Dok. PBSI

Ganda putra terbaik Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berhasil menjadi juara di BWF World Tour Finals 2019.

Bermain menghadapi ganda Jepang, Hiroyuki Endo/Yuto Watanabe, Minggu (15/12/2019) sore WIB, di Guangzhou, China, Ahsan/Hendra menang dua gim langsung 24-22 dan 21-19.

***

Ahsan/Hendra dengan segera mengambil kendali laga di awal gim pertama. Mereka berhasil unggul 3-1 hanya dalam waktu singkat. Akan tetapi, Endo/Watanabe kemudian merespons dengan penuh gegas pula.

Pasangan Jepang tersebut tak hanya menyamakan kedudukan menjadi 4-4. Mereka bahkan bisa berbalik unggul 6-4 atas Ahsan/Hendra. Untungnya, The Daddies tidak panik. Narasi laga berhasil kembali mereka kuasai.

Dari menyamakan skor menjadi 7-7, Ahsan/Hendra kemudian sukes menutup interval dengan keunggulan 11-8. Keunggulan tersebut didapat setelah mereka memenangi reli-reli panjang yang sempat muncul beberapa kali.

Selepas interval Ahsan/Hendra sempat sedikit kewalahan dan Endo/Watanabe pun sukses menyamakan skor menjadi 12-12. Pada titik ini kedua pasangan mencapai puncak performanya di gim pertama.

Ahsan/Hendra beraksi di BWF World Tour Finals 2019. Foto: Dok. PBSI

Reli-reli panjang jadi pemandangan lazim. Selain itu, yang tak kalah sering ditampakkan adalah smes-smes tajam dari kedua pasangan. Dengan agresivitas yang mereka tampilkan, Endo/Watanabe bisa membalikkan keadaan jadi 15-14.

Setelah itu, karakter laga mengalami perubahan. Agresivitas menurun dan kedua pasangan lebih memilih taktis dalam bermain. Di situ, Ahsan/Hendra berhasil mencuri poin lewat permainan depan net.

Walau demikian, Endo/Watanabe juga enggan menyerah begitu saja. Game point Ahsan/Hendra berhasil mereka curi dan deuce pun tercipta di angka 20-20. Masih alot, deuce kemudian bergeser ke skor 21-21 dan 22-22.

Akhirnya, gim pertama ini jadi milik pasangan Indonesia. Dua poin kemenangan berhasil mereka raih dengan memanfaatkan detail kecil, termasuk satu challenge yang berhasil di poin ke-24.

Pada gim kedua, Endo/Watanabe mencoba untuk langsung menggebrak dan upaya mereka itu berhasil. Dengan segera mereka unggul 4-1 atas Ahsan/Hendra.

Namun, tentu saja, The Daddies tak mau diam begitu saja. Mereka perlahan mulai mengejar perolehan poin lawan hingga akhirnya cuma tertinggal satu angka 4-5.

Ahsan/Hendra sendiri tampak kesulitan menyerang. Beberapa kali mereka dipaksa bertahan dalam reli-reli panjang dan itu membuat pasangan kawakan itu kehilangan angka.

Di sisi lain, Endo/Watanabe tampil ceroboh. Alhasil, Ahsan/Hendra pun sanggup menyamakan skor menjadi 7-7. Akan tetapi, mereka kemudian mampu menguasai diri dan kembali mencatatkan keunggulan 11-7 di interval.

Keunggulan yang dicatatkan Endo/Watanabe memang terlihat jauh, tetapi Ahsan/Hendra tidak serta merta mengendurkan permainan. Mereka sukses menemukan celah di serangan pasangan Jepang dan memanfaatkannya untuk meraih dua poin.

Hanya, memang, celah tersebut tak selalu muncul. Setelah itu bahkan Endo/Watanabe mampu memperlebar jarak menjadi 14-9. Setelahnya, reli 64 pukulan tercipta dan Ahsan/Hendra keluar sebagai pemenang sehingga bisa mendapat poin kesepuluh.

Dari situ Ahsan/Hendra perlahan bisa merangkak mendekati Endo/Watanabe. Selisih poin lantas mereka tipiskan menjadi 16-17 setelah smes Ahsan gagal dikembalikan dengan sempurna oleh Endo. Tak lama kemudian, The Daddies sukses menyamakan skor lalu membalikkan keadaan jadi 19-18.

Mental juara pun berbicara. Di situasi genting, Ahsan/Hendra berhasil meraih game point 20-19. Pukulan menyilang Ahsan kemudian membawa pasangan Indonesia menyegel kemenangan 21-19 sekaligus gelar juara.

Artikel Asli