Taylor Swift: Folklore Album Review

CULTURA.ID Dipublikasikan 11.40, 14/08 • Bernadetta Yucki
Taylor-Swift-Folklore
Photo via YouTube/Taylor Swift

Belum move on dari era album “Lover” dimana ular telah berubah menjadi kupu-kupu, Taylor Swift kembali dengan album kejutan, “Folklore” pada 24 Juli lalu. Pada album ke-8 ini, Tay semakin memeluk jati dirinya sebagai musisi yang memiliki bakat istimewa dalam menulis lirik.

Setelah bersenang-senang dengan komposisi musik Pop yang catchy dan lirik yang kontroversial beberapa tahun belakangan, kali ini Taylor Swift kembali menunjukan warna musiknya yang murni tentang cinta. Tak ada kritik politik, sosial, atau syair sarkastik tentang patah hati. Hanya sederet track tentang kisah cinta atau sekadar nostalgia masa lalu.

“Folklore” terbentuk dari berbagai track dengan kisahnya masing-masing. Beberapa track bahkan memiliki alur cerita sendiri. Salah satunya adalah kisah Teenage Love Triangle yang terbentuk dari 3 track; ‘Cardigan’, ‘August’, dan ‘Betty’. ‘Cardigan’ sendiri menjadi single utama untuk album "Folklore". Track ini merupakan cerita melalui perspektif perempuan bernama Betty yang sedang mengenangkan hubungannya dengan karakter yang kedepannya akan dikenal sebagai James. Ketiga track ini memiliki “keyword” dalam lirik masing-masing yang akan membuat kita memahami apa yang terjadi pada Betty dan James pada musim panas di bulan Agustus.

“And when I felt like I was an old cardigan/ Under someone’s bed/ You put me on and said I was your favorite”

‘Invisible String’ juga merupakan track yang mengandung dongeng cinta ajaib. Terinspirasi dari mitologi China kuno, yang percaya bahwa setiap orang berhubung dengan benang kasat mata yang menyatukan setiap orang pada belahan jiwanya. Lagu ini mengeksplorasi perasaan ajaib dan fantasi merasakan ikatan pada seseorang yang bahkan belum kita temui.

Sementara ‘Epiphany’ merupakan track yang terinspirasi dari kisah kakek Taylor Swift yang pernah bertugas di kemiliteran. Kita akan kembali melihat lirik-lirik yang ditulis dengan plot, latar waktu, dan skenario yang dirangkai oleh Taylor menjadi syair berima yang indah.

“All along there was some Invisible string tying you to me?”

Tracklist yang dirangkai juga sangat menarik untuk disimak. Salah satu detil kecil yang disesuaikan adalah ‘Seven’ yang menjadi lagu ke-7 dalam tracklist. Kemudian ‘August’ yang menjadi track ke-8 sesuai dengan bulan Agustus sebagai bulan ke-8 dalam kalender. Buat penggemar berat Taylor Swift, “Folklore” akan sangat menyenangkan untuk didengarkan berkali-kali, menganalisa setiap liriknya, dan berusaha menyatukan berbagai hint yang bisa menjadi easter eggs.

Namun ada banyak juga track yang diangkat dari materi lirik yang sebelumnya sudah pernah Taylor tulis. Seperti track ‘The 1’ yang kisahnya cukup serupa dengan ‘I Almost Do’. Kemudian ‘Exile’ yang berkolaborasi dengan Bon Iver, cukup serupa konsepnya dengan ‘The Last Time’ pada album “Red”. Dimana Taylor Swift berkolaborasi dengan Gary Lightbody (Snow Patrol), dengan dua warna vokal yang kontras, membawakan lagu tentang titik terendah dalam sebuah hubungan. Sementara ‘Mad Woman’ memiliki makna lirik yang serupa dengan single fenomenal ‘Look What You Make Me Do’.

Dalam segi aransemen musik, ‘Folklore’ didominasi dengan genre Pop Folk yang lembut. Tak ada track Pop yang up beat dan catchy dalam album ini. Semua track melebur menjadi satu dengan komposisi musik yang sederhana bagai dongeng pengantar tidur yang menenangkan. Taylor banyak bermain dengan komposisi instrumen gitar dan piano sebagai statement. Membawa kita kembali pada era awal karir Taylor Swift yang terkenal sebagai penyanyi Country dengan gitarnya. Ada beberapa track yang disempurnakan dengan instrumen string hingga synthesizer sebagai pelengkap mastering setiap track.

‘Hoax’ menjadi track penutup yang memiliki aransemen musik menarik dengan segala kesederhanaannya. Penulisan chord piano untuk lagu ini terdengar seperti kotak musik antik yang berharga dan langkah. Dengan liriknya yang suram namun secara ajaib menenangkan. ‘Hoax’ terdengar seperti hubungan cinta yang toxic namun hal tersebut yang diinginkan oleh sang penyanyi. Track ini menjadi penutup kisah “Folklore” Taylor Swift yang akan “menghantui” pendengarnya.

“Don’t want no other shade of blue but you/ No other sadness in the world would do”

“Folklore” merupakan album yang kaya akan kisah dan syair cinta yang menunjukan keahlian Taylor Swift dalam bercerita melalui lagu. Aransemen musik yang sederhana dan raw membuat lirik yang bermakna lebih menonjol untuk diperhatikan. Di tengah situasi dunia yang kacau dengan berbagai isu sosial dan politik, Taylor tak berusaha menjadi relevan, Ia hendak membawakan dongeng pada pendengarnya untuk melupakan kehidupan nyata dan istirahat sejenak.

Artikel Asli