Tanggapi Soal Harga Masker yang Melonjak, Terawan: Salahmu Sendiri Kok Beli

Keepo.me Diupdate 04.56, 17/02 • Dipublikasikan 22.10, 16/02 • Dea Dezellynda
Menkes Terawan | nasional.kompas.com
Menkes Terawan | nasional.kompas.com

Harga masker melonjak karena tingginya permintaan pasar

Virus corona yang mewabah sejak akhir tahun 2019 itu hingga kini masih menjadi momok yang menakutkan bagi warga di seluruh dunia. Virus mematikan yang berasal dari Wuhan, China ini sudah membunuh 1.662 orang. Virus ini pun telah menyebar di berbagai negara asia di antaranya Thailand, Singapura dan Malaysia.

Indonesia sempat menjadi perhatian WHO karena belum melaporkan adanya WNI yang terinfeksi virus corona. Hal ini memang dikarenakan belum ada WNI yang positif terinfeksi corona.

Namun meski demikian, warga Indonesia mengantisipasi persebaran virus salah satunya dengan memakai masker. Akibatnya stok masker pun mulai langka dan harganya melonjak drastis.

1.Tanggapan Menkes Terawan

wartakota.tribunnews.com
wartakota.tribunnews.com

Dilansir dari Kumparan.com, Sabtu (15/02/20), meski virus corona tidak sampai ke Indonesia, namun kebutuhan masker sangat tinggi. Hal itu membuat harganya melonjak tajam. Seperti di Pasar Pramuka yang merupakan pusat penjualan alat-alat kesehatan, harga masker meroket hingga 189 persen.

Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto ikut memberikan komentar terkait harga masker yang melonjak tinggi. Menurut Terawan, hal ini dikarenakan permintaan pasar yang terlalu tinggi sehingga masker menjadi langka dan harganya melonjak.

Terawan menghimbau kepada masyarakat tak usah panik dengan virus corona karena di Indonesia belum ada laporan pasien positif corona. Terawan juga menambahkan bahwa masker hanya digunakan untuk orang sakit, sehingga bagi masyarakat yang tidak merasa sakit dihimbau tidak perlu menggunakan masker.

“Masker salahmu sendiri kok beli, ya. Ndak usah (pakai). Masker untuk yang sakit. Itu kan pasar begitu. Kalau dibutuhkan banyak harga naik. Kalau orang nyari malah justru makin mahal kan begitu. Tapi kalau ndak ada yang nyari turun sendiri harganya,” ujar Terawan, Sabtu (15/02/20).

2.Harga masker melonjak

www.suara.com
www.suara.com

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, menyampaikan pihaknya menerima banyak keluhan warga terkait melonjaknya harga masker di pasaran. Hal ini dikarenakan kemunculan virus corona yang membuat masyarakat waspada dengan membeli masker. Sehingga menyebabkan permintaan masyarakat terhadap masker melonjak dan menimbulkan kelangkaan.

Namun Tulus menyebut jika harga masker di pasaran sudah terlampau tinggi dan terlalu eksploitatif terhadap hak-hak konsumen. YLKI juga meminta polisi untuk turut mengusut para distributor masker yang menaikkan harga secara tak wajar.

"Terkait hal itu, YLKI meminta KPPU untuk mengusut kasus tersebut, karena mengindikasikan adanya tindakan mengambil keuntungan berlebihan atau exesive margin, yang dilakukan oleh pelaku usaha atau distributor tertentu," ujar Tulus dalam pernyataan persnya, Kamis (6/2/2020) dilansir dari Suara.com.

3.Disoroti media asing

www.liputan6.com
www.liputan6.com

Melonjaknya harga masker di Indonesia ini juga menjadi sorotan media asing. Hal ini dikarenakan harga masker di Indonesia lebih mahal dibanding emas. Padahal di Indonesia jelas belum ada laporan pasien positif corona.

Pasokan masker selalu ludes terjual setiap kali stok masuk. Hal ini juga membuat masker menjadi barang langka dan mahal. Media Singapura mengulas harga masker di Indonesia dalam artikel berjudul “Coronavirus: Price of a box of N95 masks cost more than a gram of gold in Indonesia.”

"Harga sekotak masker untuk pertama kalinya telah melampaui satu gram emas," kata seorang pengecer masker yang dimuat The Straits Times, Sabtu (15/2/2020) dilansir dari Liputan6.com.

Kini harga emas menyentuh angka Rp800 ribu per gram, sementara harga satu kotak masker N95 3M berisi 20 yang dijual di Pasar Pramuka yang merupakan pasar penjualan perlengkapan kesehatan terbesar di Jakarta mencapai Rp1,5 juta. Harga ini meningkat 7 kali lipat dari harga sebelumnya.

Artikel Asli