Tak Kuat Angkat Beban 408 Kg, Lutut Pria Ini Langsung Patah

Suara.com Dipublikasikan 16.00, 15/08 • Iwan Supriyatna
Atlet angkat besi patah lutut saat angkat beban. (Youtube/Sport Goes Wrong)
Atlet angkat besi patah lutut saat angkat beban. (Youtube/Sport Goes Wrong)

Suara.com - Atlet angkat besi asal Rusia bernama Alexander Sedykh mengalami cedera parah kala mengangkat beban seberat 408 kg. Ia mematahkan kedua lututnya saat berlaga di Kejuaraan World Raw Powerlifting Federation (WRPF) 2020 di Rusia.

Menyadur Sporting News pada Sabtu (15/08/2020), kedua lutut atlet papan tak kuat menahan beban hingga benar-benar patah dan butuh waktu lama untuk masa pemulihan.

Sedykh, pemenang kompetisi WRPF 2019ini awalnya mampu berjalan kembali namun tak lama lututnya memperlihatkan gejala yang wajar.

Atlet angkat besi patah lutut saat angkat beban. (Youtube/Sport Goes Wrong)

Dia segera dilarikan ke rumah sakit dan menjalani enam jam operasi untuk memperbaiki lutut dan paha depan.

"Hal yang paling utama adalah saya harus berbaring tak bergerak di tempat tidur selama dua bulan," kata Alexander Sedykh."

"Perlu waktu untuk memulihkan diri. Paha depan saya dijahit kembali dan lutut saya disatukan kembali."

Ia juga harus belajar berjalan kembali setelah dua bulan istirahat di tempat tidur. Tentu saja hal ini jadi pertimbangan Sedykh untuk kembali ke dunia angkat besi.

Alexander Sedykh bukan atlet pertama yang cedera parah di dunia angkat besi. Pada 2019, Gaelle Nayo-Ketchanke dari Perancis mematahkan lengannya ketika berkompetisi.

Nayo-Ketchanke berhasil mendapatkan palang di atas kepalanya tetapi saat dia berusaha keras untuk menahannya di udara, lengan kirinya tertekuk di bawah beban yang sangat berat.

Ketchanke dilepas dengan tandu setelah lengan kirinya patah di dua tempat, serta siku terkilir.

Atlet angkat besi patah lutut saat angkat beban. (Youtube/Sport Goes Wrong)

Pada 2018 di Commonwealth Games di Gold Coast, Laurel Hubbard asal Selandia Baru mengalami nasib yang sama.

Hubbard terlihat sangat tertekan ketika siku kirinya berusaha merebut rekor Olimpiade seberat 132kg, ketika dia sudah memimpin kompetisi dengan berat badan 120kg.

Terlahir dengan nama Gavin Hubbard, ia mewakili Selandia Baru dalam acara angkat besi pria sebelum beralih jadi wanita di usia 30-an.

Ia sangat berprestasi dan memenangkan dua medali perak dalam kategori + 90 kg putri di kejuaraan dunia tahun lalu.

Artikel Asli