Tak Hanya Pernapasan, Rokok Juga Meningkatkan Risiko Penyakit Mata Tiroid

Femina Dipublikasikan 17.00, 16/10/2019 • NF0365

Foto: shutterstock

Masalah kesehatan di Indonesia sangat banyak. Para pakar kesehatan yakin, salah satu yang jadi sumbernya adalah kebiasan merokok pada masyarakat Indonesia yang tinggi. Di Indonesia, jumlah perokok aktif berdasarkan data Bank Dunia, 39,4  dari masyarakat. Menurut data Riskesdas Kementerian Kesehatan RI 2018, ada 33,8% penduduk Indonesia berusia lebih dari 15 tahun yang merokok.

Dalam topik Pengukuhan Guru Besar Prof Imam, Kolaborasi dalam Pengelolaan Tiroid di Indonesia: Fokus pada Pencegahan Oftalmopati pada Penyakit Graves, Prof. Dr. dr. Imam Subekti, SpPD, KEMD, yang juga staf pengajar Divisi Metabolik Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran (FK) UI mengatakan, merokok adalah faktor risiko terpenting untuk timbulnya Oftalmopati Graves (OG).

"OG adalah bagian dari proses autoimun yang kompleks yang melibatkan jaringan orbita dan periorbital pada penyakit Graves," ujar Prof. Imam. Secara awam, mata penderita OG akan terlihat memerah, seperti terus melotot, dan lain-lain.

Ia melanjutkan, bila menggunakan pencitraan CT scan atau MRI orbita, tanda OG dapat dideteksi pada hampir 90% pasien Graves. Meskipun OG dapat muncul pada setiap umur, OG lebih sering ditemukan pada dua kelompok usia, yaitu kelompok 40-44 tahun dan 60-64 tahun untuk wanita dan 65-69 tahun untuk pria. Prevalensi penderita OG pada wanita lebih tinggi dibanding pria. 

“Terdapat beberapa faktor risiko timbulnya oftalmopati pada penyakit Graves sekaligus berperan sebagai faktor risiko yang berpengaruh pada progresifitas OG, yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu Kelompok yang tidak dapat dimodifikasi dan kelompok yang dapat dimodifikasi. Kelompok yang tidak dapat dimodifikasi seperti usia, jenis kelamin, dan genetik (termasuk ras). Sementara kelompok yang dapat dimodifikasi yaitu faktor lingkungan seperti merokok."

OG biasanya berdampak negatif dan jangka panjang pada pekerjaan, hobi dan fungsi psikososial pasien. Sebuah studi di Jerman, mendapati di antara pasien OG yang datang ke klinik terpadu tiroid-mata, melaporkan OG menyebabkan mereka cuti sakit (36%), dinonaktifkan (28%), pensiun dini (5%), dan kehilangan pekerjaan (3%).

Tak hanya meningkatkan risiko mengalami OG, merokok juga dapat membuat terapi tidak efektif, dan meningkatkan keparahan, dan relaps setelah terapi. 

Prof Imam menegaskan, bukti kuat menunjukkan bahwa pemberhentian merokok adalah intervensi yang fundamental dalam hal pencegahan penyakit primer, sekunder, dan tersier. Oleh karena itu, pasien Graves, terlepas dari ada atau tidaknya OG dan keparahannya, harus dimotivasi untuk berhenti merokok. 

Menurutnya sangat penting adanya informasi yang jelas tentang bahaya merokok, yaitu risiko penyakit mata yang parah. Jika perlu bungkus rokok dan poster menampilkan gambar pasien dengan manifestasi okular yang parah. Dokter juga harus menggarisbawahi fakta bahwa jika pasien berhenti merokok, ada kemungkinan penyakit mata akan membaik, dan lebih responsif terhadap terapi. Pasien yang tidak dapat berhenti merokok sendiri perlu dirujuk ke klinik, ataugrup berhenti merokok profesional di mana mereka dapat menerima konseling,  dan terapi perilaku. (f)

Artikel Asli