Tak Hanya Fintech, Perbankan Hadapi Tantangan Neobank

iNews.id Dipublikasikan 13.03, 15/08 • Kunthi Fahmar Sandy
Selain fintech, kehadiran neobank atau the challenger bank patut diwaspadai oleh industri perbankan. (Foto: ilustrasi/Okezone)
Selain fintech, kehadiran neobank atau the challenger bank patut diwaspadai oleh industri perbankan. (Foto: ilustrasi/Okezone)

JAKARTA, iNews.id - Teknologi dinilai telah mengubah wajah industri perbankan. Industri itu kini menghadapi tantangan besar dari financial technology (fintech) dan neobank (challenger bank).

Mantan CEO Bank CIMB Niaga Arwin Rasyid mengatakan, selain fintech, neobank atauthe challenger bank patut diwaspadai. Neobank adalah bank yang beroperasi penuh secara digital, tanpa kehadiran kantor cabang. Neobank lahir dari aplikasi teknologi chatting atau aplikasi sosial media lainnya.

"Seperti Kakao Bank di Korea yang lahir dari KakaoTalk, Klarna Bank di Swedia yang lahir dari Shopping Apps ShopNowPayLater, WeBank di Tiongkok yang lahir dari WeChat. Bayangkan, betapa dahsyatnya jika Whatsapps yang memiliki dua miliaractive users mendirikan neobank," kata dia, Sabtu (15/8/2020).

Menurutnya, tantangan dari neobank memang tidak main-main. Di Eropa misalnya, saat neobank berhasil menggaet 15 juta nasabah, pada saat yang sama bank konvensional justru kehilangan dua juta nasabah. Di Korea, Kakao Bank hanya dalam dua hari beroperasi, menggaet 240 ribu nasabah, dan pada Juli 2019 meraih 10 juta nasabah.

Dia menambahkan, kehadiran fintech dan neobank tak lepas dari kelanjutan perkembangan teknologi digital era 3G dan 4G. Apalagi sebentar lagi akan memasuki era 5G yang ditandai dengan berbagai kemajuan teknologi menakjubkan dan revolusioner seperti Artificial Intelligence (AI), Big Data, Cloud Computing, Robotics, Biometrics Recognition, Blockchains, Internet of Things, Virtual Reality, Augmented Reality, dan sebagainya.

“Menghadapi dua tantangan utama perbankan dari fintech dan neobank, setidaknya ada tiga agenda besar yang harus dilakukan perbankan. Pertama, bank harus segera bersiap menyambut datangnya era 5G dan mengadaptasi berbagai teknologi digital yang relevan bagi peningkatan layanan perbankan," ucap mantan bankir tersebut.

Kedua, transformasi digital adalah keniscayaan dan harus dijalankan sepenuh hati, berdasarkan empat pilar budaya yaitu inovasi, customer and user experience (CX & UX),cross-selling yang efektif, dan SDM yang terlatih baik. Ketiga, bank harus mengantisipasi bisnis ke depan yang tak hanya berorientasi pada pertumbuhan aset namun juga pada pengembangan konten.

“Bank hendaknya menyadari bahwa nasabah dalam situasi kehidupan yang semakin complexed and complicated ini akan selalu mencari alternatif yang nyaman, praktis, cepat dan aman dalam aktivitas perbankan mereka. Terlebih dalam situasi pandemi covid-19 saat ini, di mana digital services semakin menarik dibanding conventional services. Saatnya bank menyusun langkah strategis baru sebagai agenda besar bank ke depan,” ujarnya.

Artikel Asli