Tak Dibayar, Tukang Parkir Minimarket Ancam “Kusuruh Orangku Maling di Rumahmu!”

Trending Now! Dipublikasikan 03.00, 16/07
Photo by Unsplash/von_co
Photo by Unsplash/von_co

Juru parkir atau yang kerap disebut sebagai tukang parkir ini memang banyak tersebar salah satunya marak terjadi di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Seperti yang dikeluhkan oleh seorang pengguna Facebook baru-baru ini. Ia membagikan ceritanya ketika ditagih oleh seorang tukang parkir saat berbelanja.

Ia menjelaskan, kala itu tengah pergi bersama anaknya ke minimarket. Saat hendak memutarkan kendaraanya, ia diberi ancaman oleh tukang parkir tersebut karena dianggap ingin kabur tanpa membayar parkir.

“Aku beli sama anakku, mutar motor dulu kan terus naikan anakku ke motor dulu karena bukan motor matic jadi susah, nah belum sempat ambil uang parkir ehh ibunya bentak saya ‘Eh uang parkir bungul, kusuruh orang-orangku buat malingin rumahmu ya. Hati-hati aja’ Baru tau saya ternyata ibu-ibu itu komplotan maling,” tulisnya dalam Facebook.

Keluhan ini kemudian ramai dibahas oleh warganet, hingga dibagikan ulang diberbagai lini media sosial seperti di @txtsamarinda.

((( E H H H U A N G P A R K I R B U N G U L ))) pic.twitter.com/Kubl3t81Pz

— txtdarisamarinda (@txtsamarinda) July 14, 2020

Cuitan ini menuai berbagai reaksi dari warganet, mereka merasa geram dengan tindakan sejumlah oknum parkir yang dinilai seperti preman.

Sebagian warganet mengenali tukang parkir meresahkan tersebut, mereka menyebut sosok ‘Acil’ itu memang kerap membuat masalah.

Keluhan mengenai tukang parkir ini bukanlah yang pertama.

Pada tahun 2019 lalu terdapat video viral yang menampilkan sekumpulan anggota ormas memaksa pemerintah kota Bekasi serta sebagian pengelola minimarket agar “bekerja sama”, mereka meminta pihak minimarket memberikan izin kepada ormas untuk memungut retribusi di lahan parkir.

Agus Pambagio sebagai Pengamat Kebijakan Publik mengatakan bahwa praktik tersebut tidak dapat dibenarkan, sebab tindakan itu lebih kepada premanisme

“Yang berhak menarik (retribusi) kan adalah ASN atau petugas kantor wali kota, yang tentunya bisa ke dinas pajak. Masak kaya debt collector begitu,” ujar Agus Informasi selengkapnya dapat dibaca DI SINI