Tak Ada Pribumi, Begini Tes DNA Tentukan Asal Usul Orang Indonesia

Kompas.com Dipublikasikan 02.01, 17/10/2019 • Ellyvon Pranita
KOMPAS.COM/ELLYVON PRANITA
Pembukaan pameran ASOI: Asal Usul Orang Indonesia di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (15/10/2019). Terlihat di dalamnya, Hilmar Farid, Edo Kondologit, Hasto Krisyanto, dan Budiman Sudjatmiko.

KOMPAS.com - Tes DNA dengan 16 responden acak orang Indonesia yang dilaksanakan oleh majalah sejarah online Historia.id dalam Proyek DNA Penelusuran Leluhur Orang Indonesia Asli mengungkapkan bahwa ternyata, tidak ada yang dinamakan manusia pribumi atau asli Indonesia.

Proyek DNA ini bertujuan untuk memberikan informasi asal-usul orang Indonesia sesungguhnya.

Berkaitan dengan tes proyek DNA ini, banyak pembaca yang bertanya bagaimana tes DNA tersebut dilakukan dan kenapa hasilnya bisa jauh di luar dugaan orang Indonesia pada umumnya.

Baca juga: Anda Berasal dari Mana? Menelusuri Asal Usul Orang Indonesia lewat DNA

Metode Proyek DNA

16 responden dalam proyek DNA ini merupakan penanda DNA. Mereka mewakili 70 etnik dari 12 pulau yang ada di Indonesia dan dipilih secara acak.

Nah, struktur genetika atau DNA dari 16 responden tersebut, akhirnya yang memberikan informasi terkait asal usul manusia Indonesia.

Hasil tes DNA mereka menunjukkan, tak ada satu pun dari responden yang benar-benar orang Indonesia asli, atau biasa kita sebut sebagai pribumi.

Ini artinya, hasil tes DNA dari penanda genetik (16 responden) memperlihatkan bukti adanya pembauran beberapa leluhur yang datang dari periode maupun dari jalur yang beragam.

Bagaimana tes DNA dilakukan?

Penelitian genetik ini memakai DNA mitokondria yang diturunkan melalui jalur maternal ibu, kromosom Y yang hanya diturunkan dari sisi paternal ayah, serta DNA autosom yang diturunkan dari kedua orang tua.

Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit, dan sifat-sifat khusus manusia.

Dijelaskan Deputi Fundamental Eijkman Institute Prof Dr Herawati Aru Sudoyo, DNA dapat diperoleh dari materi biologis apapun.

"Jadi sumbernya bisa darah, usap pipi, saliva (Air liur), dan lain-lain. Dites yang dilakukan itu digunakan materi dari sel-sel yang diambil dari saliva," ujar Herawati di Museum Nasional, Selasa (15/10/2019).

16 partisipan diminta menempelkan air liurnya dengan sebuah korek kuping dan dimasukkan ke dalam sebuah wadah agar dapat diteliti gen yang ada di dalam liur tersebut.

Dihubungi Kompas.com, Rabu (16/10/2019), Hera menjelaskan setelah sampel DNA diambil, kemudian diisolasi, lalu diperbanyak jutaan kali dengan teknik PCR (polymerase chain reaction), dimurnikan.

Memperbanyak DNA sampai jutaan kali bertujuan untuk mencari marka spesifik "ancestry dengan menggunakan referensi yang sudah ada dalam bank DNA.

"Ada yang tanya, kenapa kok bisa (sampel DNA) hanya dari air liur atau bercak darah? Kalau itu sebenarnya urusan teknologi. Tapi yang kita lakukan secara teknisnya, kita memperbanyak DNA yang ada tersebut sampai jutaan kali, karena itu kita mampu untuk melihat perbedaan-perbedaan (hasil gen) itu,” kata Prof Hera.

Meski semua pokok biologis dari tubuh manusia bisa dijadikan sampel untuk uji DNA, tapi air liur dan bercak darah dianggap sebagai pokok biologis yang mudah dianalisis dengan struktur gen yang ada.

Lamanya proses deteksi DNA dari awal pengambilan sampel sampai mendapatkan hasilnya dari laboratorium Australia, hanya dibutuhkan tiga minggu saja.

Menanggapi banyaknya peminat yang ingin melakukan tes DNA untuk mengetahui identitas asalnya, diakui Hera bahwa Indonesia sendiri belum bisa melakukannya.

Namun bagi masyarakat yang ingin melakukan secara pribadi di laboratorium komersial, umumnya harus mengeluarkan biaya Rp 5,7 juta per tes.

Hasil tes proyek DNA

"Tes DNA ini mampu memberikan data ilmiah soal komposisi ras, penelusuran nenek moyang dan juga lini masa kehadiran ras," kata Hera.

Selain itu menurut Hera, informasi penting yang didapatkan dari tes DNA memberikan pencerahan asal usul, pengaruh luar dan budaya yang menjadikan kita orang Indonesia.

Dengan pengetahuan mendalam soal DNA, harapannya dikatakan Hera, kita lebih bertoleransi, mampu memahami perbedaan satu sama lain, dan menjaga keutuhan bangsa dan budaya.

"Karena dari 16 sampel yang kita pamerkan di Museum Nasional ini bahkan tidak ada yang pribumi asli. Maksudnya yang 100 persen real orang Indonesia, kebanyakan dari mereka besar presentasenya adalah keturunan atau nenek moyangnya, Afrika," ujar Hera.

Baca juga: 16 Responden Indonesia Dites DNA, Ternyata Tidak Ada Pribumi

Sementara itu, Direktur Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dra Triana Wulandari mengatakan, program dan pameran Asal Usul Orang Indonesia (ASOI) di Museum Nasional rencananya akan digelar lebih besar lagi tahun depan.

"Tahun depan akan dibuat pameran yang lebih besar, dan mudah-mudahan semuanya bisa ikut tes. Kami sendiri juga belum. Pameran ini penting banget untuk memberitahukan bahwa Indonesia itu beragam, dan kita semua bersaudara," tutur Triana.

Penulis: Ellyvon PranitaEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli