Tak Ada Jokowi Effect, Pasar Tunggu Menteri Ekonomi Definitif

Tempo.co Dipublikasikan 01.36, 22/10/2019 • Rr. Ariyani Yakti Widyastuti
Karyawan melintas di depan layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan
Investor di pasar modal masih menunggu siapa saja menteri ekonomi yang akan diumumkan Presiden Jokowi untuk masa pemerintahan 2019 - 2024.

TEMPO.CO, Jakarta - Investor di pasar modal masih menunggu siapa saja menteri ekonomi yang akan diumumkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk masa pemerintahan 2019 –2024.

Pada perdagangan Senin kemarin, pergerakan indeks harga saham gabungan atau IHSG berada di zona hijau meskipun bergerak bervariasi. Adapun, IHSG sempat menyentuh titik tertinggi yakni 6.228,23 sebelum akhirnya menyentuh titik terendah yakni 6.187,36 pada sesi kedua.

IHSG kemarin akhirnya ditutup menghijau 6.198,98 atau naik tipis 0,11 persen. Penguatan IHSG ditopang penguatan pada sektor konsumer yang naik 0,82 persen dan agrikultur sebesar 0,73 persen.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan kondisi pasar saham saat ini cenderung menanti pengumuman menteri ekonomi pada Kabinet Kerja Jilid II. Adapun, sejumlah nama yang datang memenuhi undangan presiden pada Senin kemarin cukup memberikan secercah optimisme terhadap perubahan ke arah yang lebih baik.

“Saya kira market juga masih menunggu siapa yang akan menjadi pembantu presiden terutama yang membawahi bidang ekonomi,” ujar Samsul, Senin, 21 Oktober 2019.

Samsul menyebut masuknya kalangan muda di kabinet diharapkan bisa membawa semangat tanpa memperlebar rentang perbedaan sehingga iklim yang tercipta tetap kondusif bagi investasi. Namun, menurut dia, harapan yang dibawa oleh kalangan muda yang bakal masuk kabinet cenderung tak langgeng.

Dia menilai pelaku pasar bakal memperhatikan sosok yang dikenal memiliki rekam jejak positif di bidang terkait dengan posisi yang ditugaskan nantinya tanpa memandang usia atau asalnya. Pasalnya, pada akhirnya, pasar menginginkan kemampuan dan aksi pengisi jabatan menteri khususnya di bidang ekonomi menjaga kestabilan di Tanah Air. “Pasar modal lebih kepada bagaimana mereka (menteri) men-deliver. Menteri tidak dilihat dari mana dan siapa tetapi bagaimana (kerjanya),” katanya.

Sementara itu, Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan mengawali periode 2019-2024 kepemimpinan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, tak ada lagi Jokowi Effect yang menjadi pemanis pasar modal. Dia menyebut kinerja pasar tak terkerek naik seperti yang terjadi pada 2014.

Oleh karena itu, fokus utama pelaku pasar saat ini merupakan rekam jejak menteri ekonomi. Investor, katanya, menitikberatkan pada sosok-sosok yang dikenal memiliki kemampuan mumpuni di bidang-bidang yang digawangi. Bila pada pengumuman kabinet baru yakni Rabu besok, sosok pilihan presiden mencerminkan ekspektasi pasar, IHSG bisa terkerek naik signifikan.

“Jokowi effect sudah tidak ada. Fokus utamanya pemilihan calon menteri kalau sesuai pasar dan mungkin akan boost kedua kali,” kata Maximilianus.

Di sisi lain, tak hanya IHSG yang menghijau, pasar obligasi juga akan menikmati imbas positif bila Bank Indonesia mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan lanjutan. Aliran dana asing akan mengalir baik ke pasar saham maupun ke pasar obligasi.

“Kalau (menteri yang dipilih) sesuai (dengan ekspektasi pasar), capital inflow akan datang. Didukung dengan pemangkasan (suku bunga oleh) BI, pasar obligasi dan saham capital inflow akan masuk,” katanya.

BISNIS

Artikel Asli