Table for Two Karena Cinta Selalu Milik Berdua Nggak Lebih - Part3

Storial.co Dipublikasikan 06.49, 03/04/2020 • Mizan Media Utama
Bab 2

TING!

Denting timer oven membuatku langsung meletakkan majalah kuliner yang sedang aku baca dan berlari menuju dapur. Aku sudah tidak sabar melihat kue buatanku! Masih belum punya mood mengerjakan skrip-shit, eh, skripsi, tadi pagi aku memutuskan untuk mencoba resep terbaru yang aku temukan di internet, oatmeal pumpkin muffin.

Sedetik setelah aku membuka pintu oven, aroma manis yang khas dari labu kuning langsung mengisi dapur. Aroma yang berhasil membuatku tersenyum lebar. Kemungkinan besar kueku berhasil! Penuh semangat aku mengeluarkan loyang yang penuh dengan muffin dan memindahkannya ke rak pendingin. Sekarang aku hanya harus menunggu muffin-muffin itu dingin sebelum mencicipi rasa dan kelembutannya.

“Akh!” Hampir saja aku menjatuhkan loyang bekas muffin karena terkejut mendengar dering smartphone yang aku kantongi.

Setelah meletakkan loyang ke tempat cuci piring, aku memeriksa smartphone-ku. Ternyata Mama yang menghubungiku melalui WhatsApp.

Mama: Cha, ke klinik, ya.

Sekarang.

Sejak aku kuliah, aku bekerja paruh waktu di Tiny Tots. Tapi, semester ini aku memutuskan untuk berhenti. Aku ingin fokus mengerjakan skripsi setelah semester lalu gagal menyelesaikannya. Aku terlalu asyik di Tiny Tots dan juga di kelas dasar pastry yang aku ikuti.

Asha Chandraningtyas Gunawan: Ngapain?

Aku, kan, udah nggak kerja lagi, Ma.

Tidak perlu menunggu lama, pesan balasan dari Mama masuk.

Mama: Kasihan Rama dia kesepian di klinik.

Omooo! Aku tertawa membaca pesan balasan dari Mama. Sejak aku curhat tentang Kak Rama, Mama selalu mencari kesempatan untuk menggodaku. Seperti sekarang, misalnya. Aku yakin bahwa itu bukan alasan sebenarnya Mama memintaku datang ke Tiny Tots.

Mama: Mama mau ngajak kamu dinner, Cha.

Udah lama kita nggak dinner bareng.

Asha Chandraningtyas Gunawan: Lagi malas keluar rumah, Ma.

Aku nggak bohong. Sejak Jakarta semakin macet, aku jadi malas keluar rumah, kecuali ada hal yang sangat penting atau aku tidak perlu menyetir mobil sendiri. Membayangkan kemacetan dan pegal setelahnya selalu membuatku membatalkan rencana keluar rumah.

Mama: Sekalian nonton, deh.

Kamu naik taksi aja. Ntar Mama ganti.

Asha Chandraningtyas Gunawan: Beneran?!

Oke! Cha siap-siap dulu, ya.

Aku langsung mengantongi smartphone-ku dan mulai merapikan dapur. Membersihkan meja dapur, membawa peralatan kotor ke tempat cuci, lalu mencuci bersih semuanya. Sejak aku kecil, Mama selalu mengingatkanku bahwa dapur tidak boleh berantakan karena itu jauh dari kesan higienis. Setelah semua peralatan bersih dan dapur kembali rapi, aku memasukkan muffin buatanku yang sudah dingin ke dalam kotak, tentu saja setelah mencicipinya. Enak banget! Setelah itu, baru aku mandi dan bersiap menuju Tiny Tots.

Kemacetan membuat waktu tempuh yang seharusnya hanya 45 menit menjadi hampir dua jam. Untung saja aku naik taksi, jadi aku tidak harus stres menyetir menembus jalanan yang semakin tidak bersahabat. Jakarta kapan, sih, bisa nggak macet?

Setelah membayar ongkos taksi, aku langsung turun dan menaiki tangga menuju pintu masuk Tiny Tots dengan sedikit kerepotan. Repot karena bawaan yang memenuhi kedua tanganku. Tote bag kesayangan di bahu kiri, map formulir pendaftaran kelas pastry lanjutan yang belum sempat aku isi terkepit di lengan kiriku, dan kotak berisi muffin di tangan kanan. Beruntung aku bisa sampai di depan pintu masuk tanpa menjatuhkan satu benda pun.

“Tumben mampir, Sha?” Sapaan Kak Rama mengejutkanku, membuatku menjatuhkan map yang terkepit di lengan kiriku.

“Kak Rama!” Aku berteriak kesal, tapi kekesalanku tidak bisa bertahan lama. “Hobi banget, ya, ngagetin orang? Kalau aku jantungan terus meninggal, gimana? Mau tanggung jawab?”

“Kecil!” Kak Rama mengambil map yang aku jatuhkan. “Reaksimu harus banget, ya, pake lebay begitu? Nih.”

“Biarin! Lagian Kakak iseng banget, sih!” Aku berpura-pura kesal. “Eh iya, mapnya tolong Kakak bawain dulu, ya, tangan aku udah kepenuhan, nih.”

Kak Rama tersenyum. “Kamu itu sebenarnya manis kalau nggak teriak-teriak kayak tadi.”

“Nggak usah gombal, Kak.” Aku memanyunkan bibirku.

“Siapa yang gombal?” Kak Rama menggoda sambil membukakan pintu Tiny Tots. “Yuk, masuk!”

Omooo! Aku berusaha menahan diri untuk tidak berteriak dan histeris ketika melihat keadaan ruang tunggu yang penuh dengan anak kecil. Bukannya aku tidak suka anak kecil. Tapi, melihat ruangan yang setiap sudutnya penuh dengan anak kecil yang berlari, menangis, dan saling berteriak, ditambah dengan babysitter yang sama histerisnya dengan mereka, membuatku mendadak panik dan sakit kepala.

Ruang tunggu Tiny Tots hari ini tidak ada bedanya dengan play ground mal pada akhir pekan atau hari libur. Penuh dengan anak-anak, ramai, dan berisik! Setahun belakangan ini pasien Mama memang lebih banyak anak-anak. Sebagian besar dari mereka membutuhkan pengaturan pola makan bukan karena alasan sakit atau alergi tertentu, melainkan lebih karena obesitas. Pola makan yang tidak terjaga juga banyaknya restoran siap saji membuat anak-anak menjadi sangat rentan mengalami kelebihan berat badan, ditambah dengan gaya hidup modern yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget. Bukan rahasia umum kalau obesitas pada anak merupakan salah satu tantangan kesehatan yang paling serius pada abad ini.

“Kak Asha!” Yasmin, pasien lama di sini, menyadari kehadiranku dan seketika perhatian mereka tertuju kepadaku. “Hari ini Kakak bawa kue? Mau dong, Kak!”

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan anak itu, anak-anak yang lain mendekat dan mengelilingiku sambil meminta hal yang sama, kue. Ini salahku. Ketika masih bekerja paruh waktu, aku sering membawakan mereka kue hasil percobaanku dan sejak itu setiap kali mereka melihatku mereka pasti akan meminta kue.

Aku menatap mereka satu per satu. Ada perasaan kasihan dan tidak tega mengingat mereka masih kecil, lucu, dan menggemaskan, tapi harus berjuang keras menahan keinginan mereka untuk tidak menikmati camilan favorit mereka. Mata mereka membuatku menyerah dan mulai membagi-bagikan muffin yang aku bawa.

“Mbak Asha, Aldo beneran boleh makan kue ini? Dokter Wina ngelarang Aldo makan kue-kuean gitu.” Seorang babysitter bertanya ragu kepadaku.

Satu hal yang membuatku kesal, banyak orangtua yang memasrahkan semua urusan anak mereka ke babysitter termasuk untuk urusan kesehatan seperti ini. Padahal, Mama selalu mewanti-wanti bahwa diet, terutama pada anak kecil, harus dibantu dan didukung oleh seluruh keluarga.

Seperti Aldo yang baru berusia delapan tahun, tapi sudah mengidap diabetes tipe 2, penyakit kronis yang membuat tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan tingkat glukosa tubuh normal. Tidak ada obat untuk diabetes tipe ini. Yang mungkin dilakukan hanya mengatur pola makan, berolah raga, dan menjaga berat badan ideal. Seorang anak tidak mungkin bisa melakukan itu tanpa dukungan dari seluruh keluarga dan orangtua yang menjadi panutan. Diet bukan hal yang mudah terutama untuk anak-anak yang belum mampu mengendalikan keinginannya.

“Tenang aja, Mbak.” Aku tersenyum agar terlihat meyakinkan. “Aku udah ngitung kalorinya. Aku juga ganti gula dengan madu. Jadi, aman buat dietnya Aldo.”

“Gitu, ya, Mbak? Maaf saya nanya-nanya. Saya juga sebenernya suka kasihan sama Aldo. Dia suka banget sama kue, tapi sekarang nggak boleh lagi.”

“Kata siapa Aldo nggak boleh makan kue?” Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Boleh, kok. Asal, kuenya itu nggak berkalori tinggi dan kadar gulanya juga dijaga. Aku punya beberapa resep kue yang rendah kalori dan sehat, Mbak mau? Kalau mau, aku print-in.”

“Mau banget, Mbak!” Babysitter Aldo terlihat bersemangat. “Tapi, beneran nggak apa-apa kalau dimakan sama Aldo, kan?”

“Beneran. Aku juga udah diskusiin resep ini sama Dokter Wina, kok.” Aku berjalan menuju meja yang biasa aku gunakan. “Tapi, resepnya jangan diubah-ubah, ya! Kalau labunya mau diganti dengan wortel atau puree sayuran lain, boleh. Tapi, untuk bahan yang lain nggak boleh diganti.”

“Iya, Mbak.” Dia mengekoriku.

Sambil memindahkan file resep yang ada di smartphone ke akun Dropbox, diam-diam aku melirik ke arah Kak Rama yang sedang berkonsentrasi dengan komputernya. Mungkin dia sedang membuat rencana diet untuk salah seorang pasien yang ditanganinya.

Ketika pandangan kami bertemu, aku langsung mengalihkan pandanganku. Aku tidak ingin dia berpikir aku memperhatikannya. Dari sudut mata aku kembali melirik Kak Rama dan dia masih memandang ke arahku sambil memamerkan senyumannya. Fokus, Sha! Aku berteriak di dalam pikiran dan berusaha untuk kembali berkonsentrasi dengan smartphone, Dropbox, komputer, dan printer.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencetak resep kue dan kembali menjelaskan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh kepada para babysitter. Iya. Selama aku mencetak, ternyata babysitter Aldo membagi informasi kepada babysitter yang lain. Catatan untukku, jangan pernah meremehkan jaringan informasi para babysitter!

Setelah urusan resep selesai, karena bingung mau melakukan apa sementara menunggu Mama, aku memutuskan untuk mengerjakan hal yang biasa aku lakukan ketika masih bekerja di sini. Beberapa menit kemudian aku sudah tenggelam dalam berbagai kartu konsultasi gizi, menemani pasien kecil yang menangis tanpa sebab, dan bermain bersama mereka agar tidak bosan selama menunggu waktu konsultasi dengan advisor.

“Nggak jadi berhenti kerja di sini, Kecil?” Entah sejak kapan Kak Rama sudah berdiri di samping mejaku.

“Jadi.” Aku membalas senyumannya. “Cuma, hari ini ada janji sama Mama. Mau ditraktir makan sama nonton. Daripada bengong mending aku bantu-bantu, kan?”

“Kamu ngapain berhenti, sih?” Entah sudah berapa kali Kak Rama menanyakan pertanyaan ini sejak aku memberitahukan keputusanku.

“Aku mau fokus bikin skripsi, Kak.” Dan, aku selalu memberikan jawaban yang sama.

“Aku bantuin deh skripsinya, tapi kamu nggak usah berhenti,” dia berkata dengan nada memohon.

“Nggak bisa, Kak.” Aku menarik napas panjang. “Ingat kejadian semester kemarin?”

Kak Rama tertawa. “Itu, sih, salah kamu sendiri. Kenapa juga skripsinya nggak dikerjain?”

“Tahu, ah!” Aku menyimpan kartu konsultasi yang sudah aku rapikan. “Lagian, berhenti kan bukan berarti aku nggak bakalan ke sini lagi. Aku janji, deh, bakalan sering main.”

Kak Rama kembali tertawa dan mengusap kepalaku lembut. Tepat saat itu pintu ruang konsultasi Mama terbuka. Mama dan pasiennya.

Sebentar. Rasanya aku mengenal pria yang berjalan keluar dari ruang konsultasi.

“Om Bima?” Aku bertanya sambil mendekati mereka. “Om, Om Bima, kan?”

“Asha? Ya, Tuhan! Sekarang kamu udah gede, ya? Kapan kali terakhir kita ketemu? Lima atau enam tahun yang lalu?” Om Bima memelukku erat.

“Tujuh tahun, tepatnya.” Aku membalas pelukannya yang hangat. “Apa kabar, Om? Asha kangen banget, lho, sama Om Bima!”

“Baik, baik banget. Aduh, kamu udah beda banget. Kalau kita papasan di jalan, Om pasti nggak bisa ngenalin kamu.” Om Bima melepaskan pelukannya.

Om Bima adalah sahabat Papa yang sudah seperti keluarga sendiri. Dulu ketika Papa masih bersama kami, Om Bima sering main ke rumah, berlibur bersama, atau membawaku bermain ke Dufan.

“Om juga kangen sama kamu, Sha!” Om Bima menjawil hidungku. Aku sedikit risi, tapi sepertinya walaupun aku sudah berusia 21 tahun, Om Bima masih menganggap aku berusia 14 tahun. “Gunawan pasti bangga sama kamu.”

Sesaat aku melihat kilat kesedihan di mata Mama. Kilat yang selalu hadir setiap kali ada yang membicarakan Papa. Papa sudah lama tiada, tapi Mama tidak pernah bisa benar-benar melupakan kesedihannya.

“Om Bima, kok, di sini?” Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Tidak hanya karena kilat kesedihan di mata Mama, tapi juga karena sampai sekarang aku masih belum bisa membicarakan tentang Papa dengan santai. “Om nggak kena diabetes atau darah tinggi, kan?”

Om Bima tergelak. “Kamu sama perhatiannya dengan Wina. Nggak, Om ke sini bukan karena Om harus diet, kok. Om ada urusan di sekitar sini dan iseng mampir. Kamu sendiri kenapa ada di sini? Mau jadi ahli gizi kayak Mama kamu?”

Aku menggeleng sambil tertawa kecil. “Wah! Sayangnya Asha nggak sepintar Mama, Om. Asha cuma part time di sini.”

“Ya, ya.” Om Bima mengangguk-angguk. “Om pamit dulu, ya. Ada janji. Kapan-kapan kita harus ngobrol lama.”

“Pasti, Om.” Aku menganggukkan kepala.

“Gimana kalau kita makan siang bareng, hm … lusa?” Mama tiba-tiba bertanya. “Sekalian aku ketemu sama keponakan kamu untuk lihat kondisinya.”

Keponakan? Keponakan Om Bima itu berarti … dia? Aku menelan ludah. Mendadak mulutku terasa kering. Apa benar dia yang mereka bicarakan?

Tapi, aku tidak berani untuk bertanya. Aku takut pada jawaban yang akan mereka berikan.

Om Bima terlihat berpikir sebelum akhirnya mengiyakan tawaran Mama dan kembali berpamitan kepadaku. Aku cuma menjawab sekenanya, pikiranku masih sibuk mempertanyakan keponakan yang mereka bicarakan. Aku begitu tenggelam dalam pikiranku hingga tidak sadar Mama memanggil-manggilku sampai Mama menepuk bahuku.

Lusa. Dua hari lagi. Apakah aku akan bertemu dengannya lagi?

Dia. Seseorang yang ingin aku hindari. Selamanya.

Artikel Asli