Swallow Review: Psychological Thriller Yang Begitu Nyata

CULTURA.ID Dipublikasikan 20.32, 02/08 • Reza Nur Aprillia
swallow-movie-review
IFC Films

Pica, sebuah penyakit mental yang ditandai oleh konsumsi barang-barang yang tidak dapat dimakan dan dapat menyebabkan luka dalam, bahkan kematian. Beberapa pengidap penyakit tersebut mengonsumsi metal, kertas, kaca, rambut, bahkan tanah atas impuls mereka sendiri.

Melihat bagaimana pica sering kali diidap oleh ibu hamil, sutradara sekaligus penulis skenario, Carlo Mirabella-Davis memutuskan untuk membuat kisahnya sendiri untuk layar lebar.

Swallow

Swallow

Hunter adalah seorang perempuan muda yang baru saja menikahi dan pindah ke rumah megah bersama suaminya yang kaya raya, Richie. Berasal dari keluarga kelas menengah bawah, Hunter selalu menjaga sikapnya dan menyatakan bahwa dirinya merasa sangat beruntung dapat memulai kehidupan baru bersama Richie. Akan tetapi, tekanan dari keluarga suaminya dan kurangnya perhatian dari Richie membuatnya melakukan hal baru yang tak terduga di awal masa kehamilannya.

Sederhana, mengganggu pikiran, dan tepat dalam segala aspek. Mungkin ketiga hal tersebut yang dapat dirasakan dari film ini. Swallow menceritakan kisah Hunter melalui kesederhanaan yang dapat ditemukan dalam profil sang protagonis sendiri. Mulus, bertutur kata lembut, dan tidak memiliki celah, Hunter selalu bermain aman dalam kehidupan barunya. Namun ketika semua tekanan dan beban sejak masa kecilnya menyerang secara bersamaan, Hunter mulai melakukan hal-hal yang sangat mengganggu dan tidak nyaman untuk disaksikan.

Swallow Review

IFC Films

Seluruh hal dalam Swallow memiliki rasio yang tepat, sangat cukup tanpa kekurangan sedikit pun. Sinematografi yang diambil oleh Katelin Arizmendi menunjukkan sebuah kehidupan kelas atas yang tidak memiliki celah dan penuh dengan kilauan. Tetapi ketika kamera diarahkan close up ke Hunter–yang diiringi oleh bisikan-bisikan dalam kepalanya–kilauan dalam dunia tersebut seakan langsung hancur dalam kepalsuannya.

Desain produksi Swallow juga sangat memukau, bukan hanya karena memperlihatkan rumah modern yang megah dengan pemandangan yang indah, tetapi juga bagaimana rumah baru Hunter dan Richie sangat menggambarkan isolasi dan suramnya kehidupan Hunter saat itu.

Dalam salah satu adegan, Hunter mengatakan bahwa dirinya senang karena ia tidak perlu bekerja keras lagi hanya untuk dapat hidup. Setelah menikahi Richie, dirinya bisa hidup dengan nyaman tanpa bekerja sedikit pun, tetapi ia harus selamanya menjadi trophy wife yang berpenampilan dan berkelakuan baik setiap saat.

Hunter memang sudah berhasil lolos dari siksaan kapitalisme, tetapi ia hanya berpindah lubang menjadi terjebak dalam siksaan patriarki di pernikahannya bersama Richie.

Swallow

IFC Films

Hal yang paling berdiri kuat dalam film ini adalah penokohan Hunter sendiri. Meski tidak terlihat secara langsung ataupun sejelas langit, Hunter tidak hanya mengidap pica karena kehamilannya, tetapi justru kehamilannya yang membangkitkan trauma yang dia emban sejak kecil.

Rasa tidak pantas dilahirkan sebagai seorang anak hasil dari kasus pemerkosaan, ditambah dengan perannya dalam pernikahannya sendiri yang tidak memiliki kendali apa pun. Hal-hal tersebut digambarkan secara tersirat tetapi masih sangat mudah untuk ditangkap oleh para penonton.

Aktris Haley Bennett patut diacungi jempol atas performanya sebagai Hunter. Dengan arahan dari Carlo Mirabella-Davis, Hunter digambarkan sebagai istri idaman yang sangat penurut dan menerima segala perlakuan terhadapnya dengan senyum manisnya.

Tetapi peran Haley Bennett yang dapat menunjukkan ketidaknyamanan Hunter hanya melalui kibasan bulu mata dan perubahan posturnya sangat membantu menggambarkan permasalahan yang ada. Ditambah dengan perilaku cerianya setiap setelah menelan suatu benda berbahaya. Hunter dapat berubah dari gadis baik-baik menjadi gadis yang ‘tidak’ baik-baik saja.

Dengan berakhirnya Swallow diiringi oleh para perempuan yang silih berganti masuk dan keluar dari toilet umum di sebuah pusat perbelanjaan, kisah Hunter diakhiri seakan-akan yang telah berlalu selama satu setengah jam ke belakang hanyalah rahasia antara sang karakter dan para penonton.

Bagaikan sebuah simbol bahwa penyakit dalam pikiran hanya akan berada dalam pikiran, tanpa diketahui oleh orang lain, hingga menyebabkan luka fisik yang nyata.

Artikel Asli