Suntikan Moral Duncan Ferguson Untuk Everton

Pandit Football Dipublikasikan 17.10, 14/12/2019 • Dzikry Lazuardi
Suntikan Moral Duncan Ferguson Untuk Everton

Setelah hanya meraih 14 poin dari 15 laga, Marco Silva resmi dipecat oleh Everton. The Toffees kemudian menunjuk staf pelatih sekaligus ikon klub, Duncan Ferguson, sebagai pelatih interim. Ferguson memang bukan figur sembarangan yang asing didengar oleh fans Everton.

Pria 47 tahun tersebut merupakan pemain Everton era 1994 hingga 1998 dan 2000 hingga 2006. Berposisi sebagai striker, ia mencatatkan 230 penampilan dan torehan 58 gol dalam dua periode tersebut. Everton juga menghargai kontribusi Ferguson dengan memberikan pertandingan testimonial pada 2015 lalu.

“Semasa saya di Everton, Goodison Park seperti rumah kedua, dengan suporter klub dan orang-orang di kota tersebut menjadi rumah kedua bagi saya,” ujar Ferguson pada 2007 lalu. Meski ia memiliki darah biru Everton dan dikagumi oleh fans, tak serta merta hal tersebut mengurangi tekanannya untuk membawa Everton ke posisi yang lebih baik di Premier League. Ia bahkan harus menghadapi Chelsea di laga perdananya sebagai arsitek Everton. 

“Kita harus berdarah di pertandingan besok. Jenis pesan seperti itulah yang kami berikan ke pemain. Kami harus berdarah untuk klub ini,” ucap Ferguson sehari sebelum laga perdananya. Benar saja, Everton mampu mengalahkan Chelsea dengan skor meyakinkan, 3-1.

Secara taktik, Ferguson memang melakukan perubahan. Meski formasi yang diusung Silva musim ini mayoritas adalah 4-2-3-1, namun Ferguson mencoba formasi 4-4-2 dengan Dominic Calvert-Lewin dan Richarlison sebagai striker. Keduanya berhasil mencetak gol dengan nama pertama sukses mencetak dua gol kemenangan Everton.

“Saya tahu 4-4-2 akan berjalan dengan baik. Kami ingin merebut bola. Dengan dua striker Anda bisa mengacak-acak lini tengah lawan. Kami melakukan itu dengan baik. Kami memblokir lini tengah dan ketika bola melebar, kami menekan dengan keras. Itu juga bekerja dengan baik,” ujar Ferguson seusai pertandingan.

Tapi sepakbola tidak melulu soal taktik, melainkan determinasi dan rasa lapar untuk menang juga menjadi faktor penting untuk tim meraih kemenangan. Ferguson sukses menyuntikkan determinasi ke timnya. Mereka bermain tanpa lelah menghadapi skuat muda Chelsea yang juga memiliki energi yang baik.

Ferguson ditunjuk setelah Everton mengalami kekalahan 5-2 dalam derbi Merseyside. Ia hanya memiliki 3 hari untuk mempersiapkan tim sebelum pertandingan berikutnya melawan Chelsea. Dalam selang waktu itu, hanya ada satu sesi latihan yang ia punya untuk mempersiapkan timnya menghadapi Chelsea.

Ferguson berhasil memanfaatkan 3 hari yang ia punya dengan sangat baik. Hari pertama ia habiskan untuk menyaksikan semua pertandingan Chelsea bersama Frank Lampard dan menganalisanya. Hari kedua ia menjalani sesi latihan bersama tim. Dan hari ketiga ia membakar mental para pemainnya agar menunjukan determinasi tinggi di lapangan.

Satu hal yang dia ubah dari peraturan yang diterapkan Marco Silva adalah larangan untuk berteriak di ruang ganti Everton. Marco Silva selalu menginginkan ruang ganti dalam kondisi tenang dan nyaman, karena itu, para pemain dilarang untuk berisik saat berada di ruang ganti pemain. Ferguson tidak sepakat dengan ini, sebelum pertandingan melawan Chelsea, Ferguson justru menyuruh para pemainnya untuk saling berdebat dan menyemangati satu sama lain dengan suara yang keras.

Hasilnya, permainan Everton berubah drastis dibanding pertandingan-pertandingan sebelumnya. Pemain-pemain Everton terlihat sangat ganas di lapangan dan membuat pemain-pemain muda Chelsea tidak nyaman saat menguasai bola. Meski sedikit terlihat sporadis dan tak berpola, namun cara ini ternyata ambuh untuk membuat Chelsea tidak berhasil mengembangan permainan.  

Dari pertandingan ini, catatan statistik tekel Everton pun mendapat perhatian banyak pengamat. Mereka melakukan 60 tekel selama pertandingan dan 36 di antaranya berhasil merebut bola. Angka tersebut menjadi angka terbesar yang dapat diraih oleh tim dalam sebuah pertandingan Premier League musim ini. Berbeda jauh dengan tiga pertandingan sebelumnya melawan Liverpool (19 tekel), Leicester (20 tekel), dan Norwich (20 tekel). Angka tersebut memperlihatkan keinginan besar pemain Everton untuk kembali mendapatkan bola ketika Chelsea menguasai bola.

Pada acara BBC Match of the Day, Gary Lineker dan Martin Keown memuji determinasi Everton. “Everton bermain dengan semangat yang sebenarnya. Mereka menekel seperti hidup mereka bergantung pada itu,” ujar Lineker.

“Saya rasa dia (Ferguson) membangunkan raksasa yang sedang tertidur. Mereka sudah mulai dari awal pertandingan. Agresif, menutup ruang, mengerubungi lawan. Saya tidak pernah melihat tim berubah banyak seperti ini. Satu tekel setelah tekel lainnya. Setiap pemain mereka sangat luar biasa. Anda harus memberi pujian pada manajer,” ungkap Keown.

Kecintaan Ferguson terhadap Everton terlihat dari energinya ketika memimpin anak asuhnya di lapangan. Selain menggunakan gelang biru yang sama seperti ia pakai ketika masih menjadi pemain, ia juga selalu merayakan gol dengan berlari dan memeluk anak gawang. Emosinya untuk berteriak seakan meluap terlebih dengan peraturan Silva yang sebelumnya melarang berisik di ruang ganti apapun situasinya.

Ia juga memiliki kedekatan dengan beberapa pemain muda Everton seperti Calvert-Lewin, Mason Holgate, dan Tom Davies. Bahkan Ferguson dan Calvert-Lewin dikethaui memiliki hubungan yang erat. Selama menjadi staf pelatih, Ferguson menyisihkan waktu setelah latihan untuk melatih penyelesaian akhir Calvert-Lewin selama tiga tahun. Buktinya, setelah mencetak gol kedua, Calvert-Lewin dan Davies berlari ke arah Ferguson untuk memeluknya sembari merayakan gol bersama.

Usai pemecatan Silva, manajemen Everton sebenarnya langsung mencari pengganti secepatnya, namun pernyataan terbaru adalah Ferguson akan tetap memimpin Everton bertandang ke Old Trafford, Manchester United pada Minggu (15/12) mendatang.

Menanggapi aktivitas manajemen dalam mencari pelatih permanen, Ferguson kembali menunjukkan kelasnya, ia tidak berambisi untuk memegang kendali Everton, namun ia berharap yang terbaik bagi klubnya tersebut. “Selama mereka membutuhkan saya, saya ada untuk mereka. Saya ada untuk menstabilkan kapal sampai mereka menemukan siapa pun. Saya akan selalu ada untuk Everton. Kami adalah Everton dan saya bagian dari Everton.”

Menghadapi Manchester United bukanlah hal yang mudah, terlebih anak asuh Ole Gunnar Solksjaer baru memetik dua kemenangan melawan tim besar lainnya, Tottenham dan Manchester City. Menarik dinanti apakah suntikan moral Ferguson terhadap punggawa Everton bisa membuat kejutan lainnya di Manchester. Jika kembali meraih hasil baik, manajemen Everton tentu akan dilema antara tetap mencari manajer baru atau mempercayakan posisi itu ke Ferguson, setidaknya hingga akhir musim. Meski belum memiliki pengalaman sebagai manajer, suntikan moral Ferguson terbukti mampu mengangkat performa Everton di laga perdananya.

Pertandingan Manchester United vs Everton dapat disaksikan di Mola Parabola dan Mola Polytron Streaming Device pada Minggu (15/12) pukul 21.00 WIB.

 

Artikel Asli