Sudahkah Tottenham Hotspur Layak Disebut Tim Besar?

Bola.com Diupdate 15.30, 21/10/2019 • Dipublikasikan 15.30, 21/10/2019 • Gregah Nurikhsani
Tottenham Hotspur
Harry Kane melakukan latihan bersama skuat Tottenham Hotspur. (Dok. Tottenham Hotspur)

Bola.com, Jakarta Tottenham Hotspur cenderung menunjukkan tren negatif di Premier League musim 2019/2020. Alih-alih bisa bersaing di perebutan juara, The Lilywhites justru masih kesulitan menemukan konsistensi di tiap pertandingan, setidaknya hingga pekan ke-9.

Dalam 10 musim ke belakang, Tottenham terbilang konsisten di 10 besar. Bahkan, musim 2016/2017, manajer Mauricio Pochettino sanggup membawa tim London Utara itu bercokol di posisi runner up.

Manajer Harry Redknapp merupakan sosok yang dianggap berjasa membentuk Spurs hingga menjadi salah satu tim kuat di Inggris. Meski urung memberikan gelar juara prestisius, kerangka tim yang ia ciptakan menyisakan legacy buat suksesornya, seperti Andre Villas Boas, Tim Sherwood, hingga Mauricio Pochettino.

Tidak seperti tim-tim kaya raya lainnya di Inggris yang cenderung jor-joran ketika transfer, Tottenham justru tidak ragu untuk mengorbitkan pemain muda, baik itu dari akademi maupun pembelian langsung.

Nama-nama seperti Gareth Bale, Luka Modric dan Kieran Trippier hanyalah sedikit dari lusinan eks Spurs yang sukses diorbitkan dan tengah menikmati karier sepak bola di tempat lain.

Saat ini, pemain-pemain seperti Harry Kane, Ryan Sessegnon, Dele Alli, Harry Winks, Oliver Skipp, sampai Kyle Walker-Peters siap kembali menjadi bukti kesuksesan pengelolaan bakat muda di Tottenham.

Sadar Spurs memiliki potensi untuk menjadi salah satu tim besar Premier League, manajemen klub menyokong perkembangan dengan sejumlah cara, termasuk melakukan renovasi White Hart Lane guna meningkatkan reputasi tim.

Sayang, musim ini performa Spurs terbilang kurang menggigit. Akankah tim yang tengah dalam transisi menuju tim besar kembali menyandang klub kuda hitam?

Manuver Transfer Keliru

3. Mauricio Pochettino - Menjadi langganan media dunia bahwa Pochettino selalu dikaitkan dengan Real Madrid. Bahkan isu kepindahan pun merebak sebelum Zidane mulai menangani Los Blancos. (AFP/Ian Kington)

Musim ini Tottenham membeli tiga penggawa anyar. Jack Clarke yang dibeli dari Leeds United langsung dipinjamkan kembali sebagai bagian dari klausul transfer.

Sementara itu, Spurs juga menjual tiga pemainnya, yakni Trippier, Vincent Janssen dan Georges-Kevin N'Koudou. Fernando Llorente yang sulit bersaing dengan Kane akhirnya dilepas cuma-cuma menuju Napoli.

Dari tiga pemain yang dijual, yang paling disayangkan adalah hengkangnya Trippier ke Atletico Madrid. Sebab, Spurs kini tinggal menyisakan Serge Aurier dan Kyle Walker-Peters di pos bek kanan.

Jauh sebelumnya, manajemen klub juga melego Kyle Walker ke Manchester City. Dilepasnya dua bek kanan itu ke klub lain tanpa ada pengganti yang sepadan membuat lini pertahanan Spurs tak berimbang.

Aurier dinilai belum bisa memerankan perannya di kanan pertahanan Spurs sebaik Walker dan Trippier. Pelapisnya, bek muda Kyle Walker-Peters juga kurang matang, terutama ketika dipercaya bermain menghadapi tim-tim besar.

Sementara itu, pemain-pemain baru yang didatangkan justru membuat lini tengah Spurs menumpuk. Sebut saja Tanguy Ndombele, Sessegnon dan Giovani Lo Celso (pinjam dari Real Betis). Mereka harus lebih dulu bersaing dengan Moussa Sissoko, Victor Wanyama, Eric Dier, Alli, hingga Christian Eriksen.

Terbebani Status Klub dan Ekspektasi

Son Heung-Min (Tottenham Hotspur). (AFP/Anthony Devlin)

Dahulu Premier League hanya mengenal istilah big four. Namun, kini istilah tersebut 'melar' menjadi big five, bahkan big six.

Istilah big four atau top four tercipta karena adanya dominasi tim-tim yang itu-itu saja sejak era 2000-an di empat besar. Mereka adalah Arsenal, Chelsea, Liverpool dan Manchester United.

Di luar empat klub tersebut, ada empat tim di luar top four clubs yang sempat merusak tatanan empat besar klasemen akhir di era 2000-an, yaitu Leeds United, Newcastle United, Everton, dan Tottenham Hotspur.

Memasuki tahun 2010, dimulailah era big six atau top six clubs. Dua klub lain yang berhasil memasuki jajaran elit tersebut yakni Spurs dan Manchester City.

Klub-klub seperti Spurs dan Everton sejak dulu dikenal sebagai kuda hitam yang selalu merusak peta persaingan Premier League. Bahkan, Leicester City sempat menggoyang 'liga terbaik dunia' itu ketika berhasil keluar sebagai juara di musim 2015/2016.

Opini pun pecah di Inggris. Sebagian orang menganggap Spurs sebagai tim kuat dan kerap difavoritkan menjadi juara dalam beberapa musim belakang. Namun, banyak pengamat sepak bola Inggris menilai status itu justru membebani.

Ekspektasi yang dipikul Spurs pun di sisi lain membuat mereka tertekan. Hugo Lloris cs seringkali tak bisa bermain lepas baik ketika menghadapi lawan-lawannya.

Artikel Asli