Sudah Dipanggil Jokowi ke Istana, Ini Rekam Jejak Nadiem Makarim

Tempo.co Dipublikasikan 05.10, 21/10/2019 • Rahma Tri
Presiden Joko Widodo atau Jokowi berbicara dengan CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, dan perwakilan Go-Viet saat menghadiri peluncuran Go-Viet di Hotel Melia, Hanoi, Vietnam, Rabu, 12 September 2018. Go-Viet merupakan produk aplikasi penyedia jasa transportasi di Vietnam yang berkolaborasi dengan Go-Jek Indonesia. (Foto: Biro Pers Setpres)
Nama Nadiem Makarim semakin melejit saat Gojek mencapai level decacorn.

TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Go-Jek Nadiem Makarim memastikan bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah memintanya menjadi salah satu menteri. "Ini suatu kehormatan yang luar biasa saya diminta untuk bergabung kabinet Pak Presiden," kata Nadiem Makarim usai dipanggil Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2019.

Nadiem menyatakan menyanggupi tawaran tersebut. Meski ia tidak tahu bakal ditempatkan sebagai menteri apa. "Masalah posisi spesifiknya saya belum bicara mengenai itu karena itu hak prerogatif presiden," ujar dia.

Pria bernama lengkap Nadiem Anwar Makarim ini lahir di Singapura 4 Juli 1984. Meski begitu dia dan keluarganya berkewarganegaraan Indonesia.

Nama Nadiem Makarim mulai dikenal masyarakat sejak beberapa tahun belakangan ini. Namanya semakin melejit, pada saat perusahaan rintisan atau startup Gojek mencapai level decacorn.

CB Insights dalam daftar The Global Unicorn Club memuat nama Gojek di urutan ke-19 startup dunia yang menembus status decacorn. Gojek, seperti dikutip dari situs CB Insights, memiliki valuasi sebesar US$ 10 miliar.

Saat ini, Gojek beroperasi di Thailand, Vietnam, Filipina, dan Singapura. Masing-masing negara memiliki perbedaan produk sesuai dengan tingkat kebutuhannya.

Sebelum mendirikan Gojek, Nadiem Makarim merupakan Co-Founder dan managing editor dari Zalora Indonesia. Kemudian dia menjabat sebagai chief innovation officer di Kartuku.

Nadiem menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas di Singapura. Selanjutnya, dia pindah ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan strata satu di Brown University. Pada jenjang strata dua, dia melanjutkan studi di Harvard Business School.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyatakan telah memutuskan untuk mengangkat menteri dari kalangan muda, atau di bawah 30 tahun. Meskipun berusia belia, kata Jokowi, calon menteri itu telah memiliki pengalaman manajerial yang cukup. “Sebenarnya banyak calon dari anak-anak muda, mereka tampil percaya diri. Tapi begitu diteliti pengalaman manajerialnya, ternyata lemah,” ujarnya, Rabu, 14 Agustus 2019.

Ia menjelaskan calon dari kalangan muda ini tak berasal dari partai politik. Dia akan mengisi pos kementerian lama.

Selain itu, Jokowi menyatakan sejumlah kementerian memang akan diubah, disesuaikan dengan kebutuhan. Ada pula kementerian baru yang antara lain menangani urusan investasi dan digital.

Namun Presiden baru akan mengumumkan nama menteri dalam Kabinet Jokowi Jilid II setelah dilantik pada 20 Oktober 2019. "Pengumuman ya secepatnya setelah pelantikan, nomenklatur (kementerian) juga ada yang baru," ungkap Jokowi.

HENDARTYO HANGGI | AHMAD FAIZ | BERBAGAI SUMBER

Artikel Asli