Suaminya Ditembak Mati Polisi, Winda Minta Keadilan karena 4 Anaknya Tak Lagi Punya Ayah

Tribunnews.com Dipublikasikan 03.40, 21/11/2019
Tribun Medan/Victory Arrival Hutauruk Winda Syahfitri Rangkuti (kiri) saat berada di Kantor LBH Medan. Winda meminta penembak mati suaminya Muhammad Riduan dihukum seadil-adilnya.    Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Suaminya Ditembak Mati Polisi, Winda Minta Keadilan karena 4 Anaknya Tak Lagi Punya Ayah, https://medan.tribunnews.com/2019/11/20/suaminya-ditembak-mati-polisi-winda-minta-keadilan-karena-4-anaknya-tak-lagi-punya-ayah. Penulis: Victory Arrival Hutauruk Editor: Feriansyah Nasution
Tribun Medan/Victory Arrival Hutauruk | Winda Syahfitri Rangkuti (kiri) saat berada di Kantor LBH Medan. Winda meminta penembak mati suaminya Muhammad Riduan dihukum seadil-adilnya. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - LBH Medan mendesak Kapolri mengusut tuntas kasus kematian Muhammad Riduan yang diduga akibat ditembak oleh oknum personil Polrestabes Medan pada tanggal 6 November 2019 lalu.

Hal ini disampaikan Wadir LBH Medan, Irvan Saputra pada konfrensi pers di LBH Medan, Jalan Hindu Medan yang didampingi langsung istri korban Winda Syahfitri Rangkuti, Rabu (20/11/2019).

Irvan menjelaskan kronologi kasus berdasarkan dari keterangan para saksi warga bahwa korban almarhum Muhammad Riduan ditangkap di tempat tinggalnya yang beralamat di Jalan Buntu Gang Umar, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang pada tanggal 5 November 2019.

"Pada saat itu Muhammad Riduan sedang sendirian di rumah. Kemudian datang beberapa orang oknum Kepolisian Polrestabes Medan menangkap Muhammad Riduan lalu membawanya ke dalam mobil. Dalam penangkapan tersebut saksi warga melihat bahwasanya kedua tangan Riduan di Borgol dan tanpa ada perlawanan," jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pada saat itu beberapa saksi juga mendengar salah seorang oknum polisi yang menangkap mengatakan “Memang mau kami matikan anak ini (Muhammad Riduan).

Atas peristiwa tersebut, Zainal Abidin selaku ayah kandung Muhammad Riduan mendatangi Polrestabes Medan untuk menanyakan keberadaan anaknya tersebut pada tanggal 6 November 2019.

"Namun pihak Polrestabes Medan menyatakan bahwasanya tidak ada tangkapan yang bernama Muhammad Riduan dan menyarankan untuk mencarinya ke Polsek," tuturnya.

Lalu, saat Zainal Abidin dalam perjalanan pulang kerumah ia mendapatkan informasi dari seseorang bahwasanya Muhammad Riduan telah meninggal dunia.

Irvan melanjutkan berdasarkan informasi tersebut pihak keluarga berinisiatif mendatangi Rumah Sakit Bhayangkara.

"Saat di Rumah sakit tersebut, keluarga melihat bahwa memang betul Muhammad Riduan telah meninggal dunia. Bahkan keterangan petugas Rumah Sakit Bhayangkara, Muhammad Riduan diantar pada tanggal 6 November 2019 pukul 03.10 WIB dalam keadaan Meninggal Dunia," jelas Irvan.

Lalu Muhammad Riduan diduga meninggal dunia akibat ditembak, hal tersebut dapat dilihat dari adanya luka bekas tembakan di dada sebelah kiri.

"Bahkan dari tubuh korban nampak bekas telah dianiaya dimana hidung korban terlihat patah, terdapat luka di leher bagian bawah, di kuping, di kepala," tutur Irvan.

Irvan menjelaskan bahwa dasar polisi melakukan penangkapan terhadap korban adalah melalui Surat SP Kap No 755/XI/Res18/2019/Reskrim dengan nama korban Muhammad Riduan alias Adek Nameng atas kasus 365 ayat 2 pencurian disertai kekerasan.

Dimana Irvan menyebutkan 14 nama tim penyelidik Polrestabes Medan yang melakukan penangkapan adalah Ipda Sondy Raharjanto, Aiptu HB Purba, Aiptu Jasril Mandai, Aiptu Roni A Irawan, Aipda Idris Tarigan, Aipda Rahmat Ridowan Rangkuti, Bripka DP Rumapea, Bripka Benny Ardinal, Bripka Budy Susatyo, Bripka Zepry Nadapdap, Bripka Ricky Swanda, Brigadir Afrizal, Briptu Zainal Arifin Hasibuan, Bharada Eko Bimantoro.

"Kami tidak dapat memastikan siapa yang melakukan penembakan, tapi nama-nama yang melakukan surat perintah penangkapan adalah orang-orang ini," bebernya.

"Pada saat ditangkap korban tidak ada melakukan perlawanan, tangan diborgol, itu dihadiri dan dilihat langsung oleh para masyarakat setempat. Bagaimana mungkin seorang tangkapan tidak melakukan perlawanan namun ditembak mati dan masyarakat setempat juga menanyakan saat dilakukan penangkapan “ada apa ini pak” statmentnya seperti ini dan masyarakat menjadi saksi kita "kalian tenang aja ini mau dimatikan," tegasnya dengan nada tinggi.

Bahkan saat, meminta jenazah polisi malah menyodorkan surat untuk tidak melakukan penuntutan.

"Oleh karena itu pihak dari keluarga meminta kepada RS bhayangkara untuk memberikan mayat tersebut. Namun sebelum mayat tersebut di berikan pihak keluarga disodorkan dengan surat untuk tidak menuntut, ini sering kali dilakukaan. Oleh karena itu pihak keluarga curiga terkait meninggalnya kenapa. Karena dia diambil dalam keadaan sehat, tidak melakukan perlawanan, tiba tiba keesokan sudah meninggal," ungkapnya.

Atas kejadian tersebut, LBH Medan yang sudah diberiakan kuasa, hari ini, Rabu (20/11/2019) sekitar pukul 11 WIB membuat laporan secara resmi kepada Kapolda Sumjt atas tindak pidana dugaan pembunuhan tersebut.

"Namun apa yang sampai di sana ternyata laporan ditolak oleh petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Sumut. Dengan dalih kita belum bisa menerima. Alasan mereka juga ini ranah propam, berdasarkan surat perintah penangkapan," jelasnya.

Bagi Irvan, hal ini adalah alasan yang tak berdasar karena siapapun yang merasa dirinya korban berhak melaporkan tindak pidana sesuai KUHAP.

"Hal ini menunjukkan bahwasannya Pihak Polda Sumut telah melanggar Hak asasi Klien dalam membuat Laporan Kepolisian Karena klien sebagai masyarakat memiliki Hak yang sama di hadapan hukum Sebagaimana diamanahkan UUD RI 1945," terangnya.

"Oleh karena itu pihak LBH menegaskan bahwasanya seorang korban mempunyai hak untuk melaporkan tindak pidana. Hal ini berdasarkan pasal 5 pasal 7 KUHAP ayat 1 menyatakan kalau orang yang diduga melakukan tindak pidana, polisi mempunyai kewajiban untuk menerima laporan tersebut, wajib dan tidak ada alasan dia untuk mengatakan ke propam dulu atau bagaimana," tambah Irvan.

Bahkan, Irvan menjelaskan hal yang paling janggal adalah LP terhadap korban Riduan sudah keluar sejak April lalu namun baru ditangkap pada bulan November, dimana rentan waktu tersebut cukup panjang.

"Hal yang janggal adalah dimana kasus Riduan itu LPnya tanggal 2 April 2019, tapi baru ditangkap bulan November. Ada 7 bulan rentan waktunya itu adalah waktu yang sangat lama. Kalau memang Riduan mau ditangkap, kenapa ini baru ditangkap langsung ditembak mati untuk kasus 365," jelasnya.

kalau memang mau ditangkap ya di proses, tetap ketika waktunya sangat lama tetap harus digugat terlebih dahulu

Bahkan Irvan menegaskan bahwa perbuatan oknum Polrestabes yang melakukan penembakan mati ini sudah melanggar Hak Azasi Manusia.

Untuk itu LBH Medan akan menyurati langsung Kapolri untuk menyelesaikan kasus ini supaya terang di masyarakat.

"Perbuatan tembak mati ini sudah melanggar hak asasi seseorang, apakah keluarganya tahu dia meninggal kenapa dan mengapa. Kenapa harus disodorkan dia untuk tidak melakukan penuntutan, untuk tidak melakukan laporan, inikan ada indikasi memang sengaja untuk dilakukan," tuturnya.

"Oleh sebab itu kami akan menyurati Kapolri dan meminta Kapolda Sumut agar menerima Laporan atas dugaan penembakan tersebut, guna terciptanya Keadilan, Kepastian dan Kemanfaatan Hukum bagi Klien kami. Karena korban memiliki 4 orang anak yang saat ini tidak memiliki seorang ayah untuk menafkahi," pungkas Irvan.

Sementara Winda Syahfitri Rangkuti berharap orang yang melakukan tindakan keji membunuh suaminya mendapatkan hukuman yang setimpal.

"Harapan saya, orang yang membunuh suami saya harus diadili seadil-adilnya karena saya tidak terima anak-anak saya 4 orang yang masih kecil sudah tidak memiliki ayah. Dan itu mereka juga harus saya hidupi, mereka harus tahu apa yang saya rasakan," jelasnya.

Ia menyadari kesalahan suaminya, tapi hukuman tembak mati tidaklah setimpal dengan perbuatannya. "Saya tahu suami saya salah, kan ada UU nya yang sudah ditetapkan kenapa harus dibunuh seperti itu," tuturnya sambil memelas.

Winda menjelasakan bahwa suaminya sehari-hari adalah seorang sales yang sering berpergian ke luar kota untuk menafkahi keluarga. "Sehari-sehari dia kerja jualan sales sales gitu. Kadang-kadang seminggu dapat ke berastagi, kadang nggak seberapa sih memang. Tapi itulah yang menafkahi kami," ungkapnya.

Ia menjelaskan saat kejadian pada 5 November, HP suaminya sempat hidup beberapa lama hingga akhirnya dimatikan dan kabar meninggal Riduan diterimanya.

"Begitu mereka bawa suami, saya langsung pulang, begitu saya pulang saya hubungi handphone nya beberapa kali, handphone itu aktif. Begitu dijawab langsung dimatikan handphonenya. Sampailah kebesokan harinya adalah orang ngabari sama ayahnya bahwasanya dia udah meninggal," tuturnya sambil meneteskan air mata.

Bahkan, sampai hari ini, ia menjelaskan tidak ada satupun polisi yang hadir dan menjelaskan duduk perkara yang dilakukan suaminya hingga ditembak mati.

"Sampai sekarang kami belum ada dapat kabar apa apa, mereka pun tidak ada kerumah kami, macam tertutuplah semuanya mereka ke suami saya ini," tutupnya.

(vic/tribunmedan.com)

Penulis: Victory Arrival Hutauruk

Editor: Feriansyah Nasution

Artikel Asli