Studi Ini Menguak Sel Kekebalan Manusia Tenyata Sudah Mengenali Virus Corona COVID-19

Liputan6.com Diupdate 11.05, 07/08/2020 • Dipublikasikan 11.05, 07/08/2020 • liputanenamdotcom
Virus Corona COVID-19 dari Mikroskop
Gambar menggunakan mikroskop elektron yang tak bertanggal pada Februari 2020 menunjukkan virus corona SARS-CoV-2 (oranye) muncul dari permukaan sel (abu-abu) yang dikultur di laboratorium. Sampel virus dan sel diambil dari seorang pasien yang terinfeksi COVID-19. (NIAID-RML via AP)

Liputan6.com, Jakarta Studi baru mengungkap infeksi sebelumnya dengan virus flu biasa dapat melatih sistem kekebalan untuk mengenali SARS-CoV-2, Virus Corona yang menyebabkan COVID-19.

Studi yang diterbitkan di jurnal Science itu menemukan bahwa sel kekebalan tubuh atau sel T yang sudah mengenali Virus Corona penyebab flu biasa juga dapat mengenali bagian tertentu pada SARS-CoV-2, termasuk dari spike protein atau protein lonjakan yang digunakan untuk mengikat dan menyerang sel manusia.

Melansir livescience.com, Jumat (6/8/2020), "memori" sistem kekebalan yang ada ini dapat menjelaskan mengapa beberapa orang mengalami infeksi COVID-19 yang lebih ringan dibandingkan dengan yang lain. Meski begitu, peneliti menekankan bahwa hipotesis ini "sangat spekulatif" dan membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

Sebab, tidak diketahui secara pasti seberapa besar peran sel T dalam melawan COVID-19. Karena seperti yang diketahui, sel T hanyalah satu bagian dari kumpulan molekul dan sel yang kompleks yang membentuk sistem kekebalan tubuh manusia.

"Kami sekarang telah membuktikan bahwa, pada beberapa orang, memori sel T yang sudah ada sebelumnya terhadap virus corona lain dapat saling mengenal dengan SARS-CoV-2, hingga ke struktur molekul yang tepat," kata salah satu penulis utama studi Daniela Weiskopf, asisten profesor di La Institut Imunologi Jolla di La Jolla, California.

"Ada kemungkinan bahwa reaktivitas kekebalan dapat diwujudkan ke tingkat perlindungan yang berbeda terhadap COVID-19. Memiliki respons sel T yang kuat, atau respons sel T yang lebih baik dapat memberi Anda kesempatan untuk meningkatkan respons yang jauh lebih cepat dan lebih kuat," kata rekan penulis studi Alessandro Sette, seorang profesor di La Jolla Institute for Immunology.

 

Temuan Bukti Penelitian Sebelumnya

Gambar menggunakan mikroskop elektron yang tak bertanggal pada Februari 2020 menunjukkan virus corona SARS-CoV-2 (oranye) muncul dari permukaan sel (hijau) yang dikultur di laboratorium. Sampel virus dan sel diambil dari seorang pasien yang terinfeksi COVID-19. (NIAID-RML via AP)

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lebih dari 50% orang yang tidak pernah terpapar COVID-19 memiliki sel T yang mengenali SARS-CoV-2. Fakta ini telah terlihat pada orang-orang di seluruh dunia, di Belanda, Jerman, Inggris Raya, dan Singapura yang membuat ilmuwan berhipotesis bahwa kekebalan yang ada ini dapat disebabkan oleh infeksi sebelumnya dengan Virus Corona jenis lain, khususnya yang menyebabkan infeksi flu biasa.

Dalam studi baru, para peneliti menganalisis sampel darah yang dikumpulkan dari orang-orang antara 2015 dan 2018, jauh sebelum COVID-19 pertama kali muncul di Wuhan, China. Sampel darah ini mengandung sel T yang bereaksi terhadap lebih dari 100 situs spesifik SARS-CoV-2.

Para peneliti menemukan bahwa sel-sel T ini juga bereaksi terhadap situs serupa dengan empat jenis Virus Corona berbeda yang menyebabkan infeksi flu biasa.

"Studi ini memberikan bukti molekuler langsung yang sangat kuat bahwa memori sel T dapat mengingat ciri ciri yang sangat mirip antara virus corona biasa dengan SARS-CoV-2," kata Sette.

Tak Hanya Mengenali Protein Lonjakan

Sel Timus dalam gambar mikrokopis (Facebook.com/Biocell)

Selain mengikat protein lonjakan, sel T juga mengenali protein virus lain di luar lonjakan.

Saat ini, sebagian besar kandidat vaksin COVID-19 menargetkan protein lonjakan, tetapi temuan baru menunjukkan bahwa memasukkan protein lain dalam vaksin, selain lonjakan, mungkin memanfaatkan reaktivitas silang sel T ini dan berpotensi meningkatkan potensi vaksin, peneliti, meskipun diperlukan lebih banyak penelitian untuk menunjukkan hal ini.

Para penulis mencatat bahwa temuan mereka tentang reaktivitas silang dengan sel T berbeda dari apa yang telah dilihat dengan antibodi yang diperoleh dari sel B yaitu antibodi penetral, senjata lain dari sistem kekebalan yang menghalangi patogen menginfeksi sel.

Menurut penelitian sebelumnya, para penulis mngungkapkan bahwa antibodi penawar terhadap virus flu biasa adalah tidak menunjukkan reaktivitas silang dengan SARS-CoV-2.

 

Reporter: Vitaloca Cindrauli Sitompul

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Artikel Asli