Studi: Harapan Menjadi Faktor Penting dalam Mengatasi Kecemasan

National Geographic Indonesia Dipublikasikan 08.30, 22/10/2019 • Gita Laras Widyaningrum
Ilustrasi hidup bahagia dan positif.

Nationalgeographic.co.id - Ketika berbicara tentang kesehatan mental, pengalaman yang dialami setiap orang berbeda-beda sehingga tidak ada satu perawatan yang bisa diaplikasikan untuk semua. Meski begitu, studi terbaru yang dipublikasikan pada Behavior Therapy menyatakan bahwa ada sebuah elemen kunci yang bisa membantu pengidap kecemasan: yaitu harapan.

 

Harapan, menurut studi ini, merupakan prediktor yang kuat untuk memulihkan kecemasan. Para terapis yang menanamkannya dalam terapi perilaku kognitif (CBT) cenderung melihat adanya kemajuan positif dari pasien. 

"Harapan" memang istilah yang masih sangat luas, tapi dalam dunia psikologi, itu mengerucut pada konstruksi positif seperti optimisme dan efikasi diri yang diketahui berkaitan dengan ketahanan seseorang pada gangguan emosional. 

Dalam lingkup psikoterapi, harapan menggambarkan kapasitas pasien untuk mengidentifikasi strategi dan motivasi dalam mencapai tujuan. 

 

Studi yang dipimpin oleh Dr Matthew Gallagher dari University of Houston ini, menguji peran harapan dalam membantu pemulihan dengan menyatukan uji klinis pada 223 orang dewasa yang menjalani CBT. 

Hasilnya menunjukkan bahwa harapan meningkat secara perlahan selama CBT pada pasien yang mengalami gangguan panik, kecemasan sosial, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan kecemasan umum. Selain itu, diketahui ada peningkatan harapan pada pasien. Oleh sebab itu, para peneliti menyimpulkan bahwa harapan merupakan faktor kunci dalam mendorong pemulihan.

"Saat melakukan penelitian di antara presentasi klinis yang beragam, kami menemukan bahwa harapan menjadi elemen umum serta prediktor kuat pemulihan pasien," kata Gallagher. 

"Jika terapis menemui pasien yang tidak mengalami kemajuan, harapan mungkin bisa menjadi mekanisme penting untuk mengarahkan mereka menuju kesembuhan," imbuhnya. 

Walaupun harapan memiliki hasil yang positif, penting juga dicatat bahwa memberikan tekanan pada pasien untuk merasakan hal-hal yang mungkin tidak ingin atau tidak dapat mereka lakukan saat ini, dapat membawa efek yang merugikan.

 

Artikel Asli