SpongeBob dan Cerita dari Bikini Atoll

Historia.id Diupdate 11.57, 27/05 • Dipublikasikan 11.57, 27/05 • historia.id
Ledakan bom Baker di Bikini Atoll pada 25 Juli 1946. (Wikimedia Commons).

Setelah rilis pada 1999, serial animasi SpongeBob SquarePants langsung populer. Serial ini masuk dalam peringkat atas animasi anak dan bahkan memiliki jutaan penggemar dewasa. Menariknya, serial ini disebut-sebut berkaitan dengan Bikini Atoll, lokasi uji coba bom atom pada masa Perang Dingin.

SpongeBob SquarePant menceritakan kehidupan seekor spons laut kotak berwarna kuning yang tinggal di sebuah rumah nanas. Bersama teman-temannya, SpongeBob hidup dan bekerja seperti manusia. Kota tempatnya tinggal bernama Bikini Bottom, yang sering dikaitkan dengan Bikini Atoll.

Sementara itu, Stephen Hillenburg, pencipta SpongeBob adalah seorang sarjana biologi kelautan. Meski tidak secara langsung mengatakan Bikini Bottom terinspirasi oleh Bikini Atoll, berbagai petunjuk tampaknya dimunculkan dalam serial. Salah satunya adalah footage ledakan bom Baker di Bikini Atoll pada 1946 yang ia masukan dalam episode Dying for Pie.

Bikini Atoll

Kepulauan Marshalls terletak di Samudera Pasifik dan posisinya berada di tengah-tengah antara Hawaii dan Papua Nugini. Kepulauan ini dibentuk oleh letusan gunung berapi di dasar laut jutaan tahun lalu. Ketika gunung berapi kembali tenggelam, karang-karang tumbuh dan membentuk serangkaian laguna yang dikelilingi cincin pulau karang yang disebut atol. Bikini Atoll adalah salah satunya.

Sekitar dua ribu tahun yang lalu, manusia datang ke Marshalls dari pulau-pulau lain di Pasifik. Mereka mendayung dengan sampan untuk mencari tempat hidup baru. Selama berabad-abad kemudian, mereka membangun dan beranak-pinak di kepulauan itu.

“Pulau-pulau itu menyediakan semua yang dibutuhkan orang,” tulis Connie Goldsmiths dalam Boms Over Bikini, The World’s First Nuclear Disaster.

Sejak abad ke-16, orang-orang di luar penduduk awal Marshalls mulai berdatangan. Pada 1529, penjelajah Spanyol mencapai kepulauan itu. Kemudian pada 1788, John Marshall, seorang Kapten Inggris mengunjungi kepulauan itu dan menamainya dengan namanya sendiri, Marshall. Para misionaris dari New England tiba selanjutnya pada 1850-an dan mengubah banyak penduduk pulau menjadi penganut Kristen.

Selama Perang Dunia I (1914–1918), Jepang menguasai Marshalls yang sebelumnya menjadi koloni Jerman. Jepang mendirikan stasiun cuaca di Bikini Atoll dan membangun pangkalan militer besar di Kwajalein dan Enewetak. Mereka juga memaksa penduduk pulau membangun benteng militer dan anak-anak harus pergi ke sekolah Jepang untuk belajar matematika dan bahasa Jepang.

Menjelang akhir perang, Amerika Serikat mengalahkan Jepang di Kwajelein dan Enewetak. Kedua atol itu kemudian menjadi pangkalan Amerika Serikat. Kekuasaan Jepang di Marshalls yang telah berlangsung selama sekitar 30 tahun pun berakhir.

Sementara itu, persaingan militer dan politik selama Perang Dingin (1945–1991) membawa Kepulauan Marshalls ke dalam bencana lainnya. Amerika Serikat mengembangkan persenjataan nuklir dan Bikini Atoll dipilih sebagai lokasi uji coba bom atom.

Orang-orang Bikini, yang kala itu berjumlah 167 orang, dipindahkan ke pulau lain di Marshalls. Mereka harus meninggalkan tanah kecil leluhur mereka yang telah dihuni sekitar 2000 tahun lamanya.

Operation Crossroads

Kurang dari setahun setelah bom atom di Hiroshima dan Nagasaki dijatuhkan, Amerika Serikat meluncurkan program baru yang disebut Operation Crossroads. Tujuan uji coba bom nuklir ini adalah untuk mempelajari tentang efek bom nuklir dan radiasi pada kapal laut dan hewan. Hasilnya juga digunakan untuk mengembangkan kekuatan kapal-kapal perang Amerika Serikat.

Operation Crossroads adalah salah satu operasi militer terbesar pada masanya yang menghabiskan anggaran 1,3 miliar dolar Amerika Serikat. Tiga bom rencananya akan diledakan. Satu di udara dan dua di laut. Sebelum itu, Amerika Serikat juga telah mengawali kerusakan Bikini Atoll dalam persiapan uji coba ini.

“Di Bikini, para kru menghancurkan karang, membuldozer pasir, dan menempatkan balok beton besar di laguna sambil membangun tempat sementara, menara instrumen, dan bunker kamera di pantai,” tulis James P. Delgado dalam Nuclear Dawn, The Atomic Bomb From The Manhattan Project to The Cold War.

Pada 1 Juli 1946, bom yang dinamai Able dijatuhkan dan menjadi atom pertama yang diledakan di masa dunia sedang damai. Kumpulan kapal perang yang rusak dan ketinggalan zaman yang telah ditempatkan di Bikini Atoll hancur lebur. Awan jamur api dan gas yang berputar-putar naik lebih dari 12 kilometer di udara.

Menurut Connie Goldsmith, dalam operasi ini banyak binatang juga dikorbankan. Sebulan sebelumnya kapal USS Burleson yang dijuluki Bahtera Nuh dikirim ke Bikini Atoll. Kapal itu memuat 146 babi, 176 kambing, 57 babi guinea, dan 3.139 tikus. Binatang-bintang itu digunakan untuk mempelajari efek radioaktif pada makhluk hidup.

Pada 25 Juli 1946, bom kedua yang dinamai Bravo diledakan di bawah air. Gelombang kejutnya menggali kawah raksasa di dasar laguna sekitar 61 meter di bawah permukaan air. Sementara itu, kubah air laut meletus dan gelembung bola api melemparkan 2,2 juta ton air, pasir, dan bubuk batu koral ke udara. Radiasinya jatuh mencemari perairan dan puing-puing mengepul sejauh 11 kilometer.

“Selama tes ‘Baker’, massa air radioaktif dan uap yang mendidih menembus hampir setiap kapal target yang mengapung dan mencemari air laguna,” tulis Delgado.

Bencana nuklir akibat uji coba Amerika Serikat tak hanya sampai di situ. Pasalnya, program ini dilanjutkan pada 1948 dan antara 1946 dan 1958, Amerika Serikat telah meledakan enam puluh tujuh bom nuklir di Bikini dan Enewetak. Dari sekian banyak bom itu, Bravo, bom nomor 12 adalah bom yang paling terkenal.

Bom ini bagian dari Operation Castle, serangkaian ledakan yang dimaksudkan untuk menguji bom jenis baru. Bravo adalah bom fusi. Ledakan Bravo memiliki kekuatan seribu kali dari bom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Sementara itu, orang-orang Bikini yang telah mengungsi sebelumnya, harus pindah lebih jauh lagi karena radiasi. Pada 1969, Amerika Serikat melakukan program dekontaminasi dan mengatakan bahwa Bikini Atoll sudah aman ditinggali. 140 orang kemudian kembali ke Bikini Atoll antara 1969 hingga 1971. Namun, radiasi tampaknya belum hilang. Kanker dan kematian menghantui Bikini Atoll.

Artikel Asli