Situasi bakal makin mendidih, pasukan Rusia sudah masuk ke Suriah

Kontan.co.id Dipublikasikan 14.33, 16/10/2019 • SS. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - BEIRUT. Situasi di Suriah bakal semakin mendidih. Kabarnya, pasukan Rusia sudah menyeberangi Sungai Efrat di Suriah Utara dan mencapai pinggiran Kota Kobani, lalu siap ke arah Timur dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi.

Pergerakan pasukan Rusia terjadi beberapa hari terakhir, setelah SDF membuat kesepakatan dengan Pemerintah Suriah untuk mengerahkan tentara di perbatasan Turki, menyusul invasi Turki ke Timur Laut Suriah pekan lalu.

"Pasukan Rusia mencapai daerah di luar Kobani, sekitar empat-lima kilometer di luar kota, setelah melintasi Efrat," kata Rami Abdulrahman, Direktur Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, pemantau perang berbasis di Inggris, Rabu (16/10), seperti dikutip Reuters.

*Baca Juga: Erdogan: Tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan serangan Turki ke Suriah *

Ditanya tentang laporan tersebut, seorang pejabat SDF mengatakan, dia belum menerima informasi tentang kemajuan pergerakan pasukan Rusia.

Perjanjian militer SDF dengan Damaskus dan sekutunya Moskow menandai perubahan mendadak dalam kebijakan, menyusul pengumuman Amerika Serikat (AS) yang menarik pasukannya Timur Laut Suriah. Di daerah ini, AS bersekutu dengan SDF pimpinan Kurdi untuk menggulingkan Negara Islam.

Sebelumnya, Presiden Turki Tayyip Erdogan menegaskan, serangan Turki ke Timur Laut Suriah akan berakhir jika pejuang Kurdi di wilayah itu menjatuhkan senjata mereka. Ini merupakan solusi tercepat untuk mengakhiri serangan.

Dan, Erdogan memperingatkan, tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan serangan Turki ke Suriah sampai pejuang Kurdi betul-betul menyerah. "Operasi akan berakhir ketika zona aman terbentuk," tegasnya, Rabu (16/10), seperti dilansir Reuters.

Erdogan menambahkan, Turki sama sekali tidak terbuka untuk bernegosiasi.

*Baca Juga: Terkait Suriah, Donald Trump pukul Turki dengan kenaikan tarif dan ancam sanksi lain *

Peringatan Erdogan itu keluar menyusul sanksi ekonomi yang Amerika Serikat jatuhkan atas Turki kemarin (15/10) dan embargo senjata dari sejumlah negara Eropa, seperti Jerman dan Prancis, pada pekan lalu.

Washington memberlakukan sanksi kepada para pejabat Turki, menaikkan tarif, dan menghentikan pembicaraan perdagangan dalam upaya untuk meyakinkan Ankara agar menghentikan serangan terhadap milisi YPG Kurdi di Suriah Timur Laut.

Artikel Asli