Singapura hingga Jerman Dihantam Resesi, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

kumparan Dipublikasikan 04.19, 16/07/2020 • kumparanBISNIS
Warga beraktivitas di rumahnya berlatar belakang hunian bertingkat di kawasan Sunter, Jakarta Utara, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Sejumlah negara secara resmi mengalami resesi ekonomi tahun ini. Penyebabnya tak lain karena pandemi virus corona, yang telah menekan aktivitas ekonomi di banyak negara.

Singapura mengalami resesi setelah dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi alias minus di tahun ini.

Selama kuartal II 2020, ekonomi Singapura minus 41,2 persen secara kuartalan (qtq) dan minus 12,6 persen secara tahunan (yoy). Realisasi tersebut jauh merosot dibandingkan kuartal I 2020 yang juga minus 3,3 persen (qtq) dan minus 0,3 persen (yoy).

Selain Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis sebelumnya juga masuk ke jurang ressi. Ekonomi Jepang anjlok 2,2 persen (yoy) di kuartal I 2020, setelah sebelumnya 7,1 persen di kuartal IV 2019.

Jerman juga mengalami resesi di kuartal I 2020, di mana perekonomiannya minus 2,3 persen (yoy), penurunan yang lebih dalam dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 0,4 persen (yoy).

Begitu juga dengan Prancis yang minus 5,3 persen (yoy) di kuartal I 2020, dari kuartal sebelumnya minus 0,1 persen (yoy).

Agen perjalanan dan industri pariwisata berdemonstrasi menuntut bantuan keuangan dari pemerintah Jerman saat wabah virus corona. Foto: REUTERS / Fabrizio Bensch

Perekonomian Indonesia akan sangat bergantung pada pemulihan di kuartal III 2020. Sebab di kuartal II ini, ekonomi RI diperkirakan mengalami kontraksi. Pemerintah bahkan memproyeksikan ekonomi di April-Juni 2020 minus 4,3 persen (yoy). Sementara hingga akhir tahun ini, perekonomian nasional ditargetkan minus 0,4 persen hingga maksimal tumbuh 1 persen.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, mengatakan resesi ekonomi bagi Indonesia sudah di depan mata. Tinggal bagaimana pemerintah bisa memulihkan ekonomi secara bertahap hingga akhir tahun ini.

“Kontraksi ekonomi di kuartal II dan III, kemungkinan berlanjut di kuartal IV. Selama wabah masih berlangsung, kontraksi ekonomi sulit dielakkan,” kata Piter kepada kumparan, Kamis (16/7).

Gelontoran Bantuan Sosial untuk Atasi Resesi

Ekonom Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI, Eric Sugandi, menuturkan untuk bisa keluar dari resesi pemerintah perlu menjaga daya beli. Contohnya, memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) hingga tidak membuat kebijakan menaikkan harga yang diatur pemerintah, termasuk tarif dasar listrik.

“Supaya demand side perekonomian bisa berangsur pulih dan sebisa mungkin kendalikan wabahnya,” ujarnya.

Selain itu, pembukaan sembilan sektor ekonomi di masa new normal juga dinilai membantu mendorong daya beli masyarakat. Namun hal ini harus dilakukan beriringan dengan pengendalian wabah.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Gerindra, Kamrussamad, menjelaskan bahwa saat ini seluruh negara yang terkena COVID-19 memberikan stimulus fiskal. Tujuannya untuk memulihkan perekomian mereka.

“Sekarang ini kan sudah 213 negara yang terdampak COVID-19. Mereka mengeluarkan kebijakan fiskal, di samping stimulus kesehatan, untuk menopang ekonominya dari resesi,” tuturnya.

Beberapa negara tersebut dinilai ‘jor-joran’ memberikan stimulus kepada rakyatnya. Sementara Indonesia dinilai masih rendah.

Kementerian Sosial salurkan bantuan sosial (bansos) untuk lanjut usia (lansia) terdampak pandemi corona di 5 provinsi. Foto: Kemensos

Pemerintah menganggarkan dana pemulihan ekonomi nasional untuk sejumlah sektor, mulai dari kesehatan, UMKM, hingga dunia usaha dan BUMN senilai Rp 695,2 trilium. Angka ini hanya 4,3 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang sebesar Rp 15.833,9 triliun.

“Kalau kita lihat negara lain, Australia ini stimulus fiskalnya 9,9 persen dari PDB mereka, AS 13,6 persen, Singapura 19,2 persen, Malaysia bahkan 10,5 persen. Stimulusnya hampir-hampir mirip, ada untuk UMKM, pekerja, pajak. Indonesia termasuk yang kecil,” jelasnya.

UMKM Perlu Dipulihkan

Saat krisis keuangan melanda Indonesia, di 2008 bahkan 1998, ekonomi nasional mampu bertahan karena sektor UMKM masih sangat kuat. Saat ini, kondisi UMKM justru yang paling terdampak dari pandemi.

Pemerintah pun diminta untuk memperkuat sektor UMKM sebagai pendorong ekonomi. Kamrussamad juga meminta agar pemerintah bisa mempercepat seluruh stimulus atau insentif kepada UMKM demi mendorong daya beli.

“Sejauh ini memang fokus untuk meningkatkan ekonomi, terutama untuk UMKM. Saat ini semuanya terdampak. Saat ini, kita juga harusnya bisa mencontoh negara lain yang berhasil mengatasi pandemi ini,” tukas Kamrussamad.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya dapat memanfaatkan momentum resesi di Singapura. Misalnya, mengalihkan investasi dan perdagangannya ke Tanah Air.

Shinta Widjaja Kamdani. Foto: Nugroho Sejati/kumparan

Namun, ada banyak tantangan bagi Indonesia untuk memanfaatkan hal tersebut. Menurut Shinta, Indonesia dinilai perlu untuk meningkatkan daya saing dan iklim investasi nasional menjadi lebih stabil.

“Kita perlu meningkatkan daya saing iklim investasi nasional menjadi lebih predictable dan stabil. Kalau tidak, kondisi ini tidak akan pernah menjadi menguntungkan untuk Indonesia,” katanya.

Selain itu, peralihan transaksi dagang dan investasi dari Singapura bisa terjadi jika jasa serupa di Indonesia lebih efisien atau lebih kompetitif. Apalagi, iklim usaha di Singapura secara keseluruhan terganggu, lebih parah dibandingkan Indonesia.

“Bisa karena market atau pengguna jasa itu sendiri meningkat sebelum circuit breaker policy atau kebijakan pembatasan pergerakan orang di Singapura karena COVID-19 berakhir. Asalkan jasa serupa itu bisa lebih efisien dan kompetitif di sini,” tambahnya.

Artikel Asli