Singapura Tutup Sekolah jika Udara Buruk akibat Karhutla RI

CNN Indonesia Dipublikasikan 05.38, 16/09/2019 • CNN Indonesia

Singapura siap menutup sekolah jika kualitas udara kembali memburuk di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

"Seperti pada 2015 lalu, kami akan mempertimbangkan menutup sekolah jika perkiraan kualitas udara pada hari berikutnya mencapai tingkat berbahaya," demikian pernyataan Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) yang dilansir melalui situs resmi mereka, Minggu (15/9).

MOE menjelaskan bahwa kualitas udara mencapai tingkat bahaya ketika Indeks Standar Polutan (PSI) melebihi angka 300 dalam 24 jam belakangan.

Pemerintah Singapura pun memutuskan untuk tetap membuka sekolah karena kualitas udara sudah membaik jika dibandingkan dengan akhir pekan lalu.

"Ketika sekolah kembali dibuka besok, orang tua dapat tenang karena Kementerian Pendidikan menjamin sekolah siap merespons dan mengambil langkah manajemen asap berdasarkan anjuran Kementerian Kesehatan," demikian pernyataan MOE.

"Guru-guru juga akan terus memantau siswa yang tidak sehat atau memiliki masalah jantung. Karena siswa merespons asap dengan berbeda-beda, orang tua harus memastikan anaknya memiliki obat-obatan, seperti alat bantu pernapasan untuk asma," tulis MOE.

Pernyataan ini dirilis sehari setelah Indeks Standar Polutan (PSI) di Singapura menembus tingkat tidak sehat untuk pertama kalinya sejak Agustus 2016 lalu akibat kabut asap dari Indonesia.

Sepanjang akhir pekan, warga pun sibuk melindungi diri sendiri dari dampak kabut asap sampai-sampai masker di berbagai toko dilaporkan ludes.

Namun pada Minggu, kualitas udara di Singapura dilaporkan berangsur membaik. Meski demikian, Singapura tetap menawarkan bantuan untuk menanggulangi karhutla di Indonesia.

"Seperti biasa, kami siap membantu memadamkan api di lapangan. Singapura sudah menawarkan bantuan pemadam kebakaran teknis ke Indonesia dan siap mengerahkan mereka jika diminta oleh Indonesia," ujar Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Air Singapura, Masagos Zulkifli.

Artikel Asli