Sinetron Bisa Saja Saingi Drakor, asal...

Kompasiana Dipublikasikan 11.40, 30/10 • Steven Chaniago
Sinetron Anak Langit dan Drakor Descendants of the Sun | idntimes.com
Sinetron Anak Langit dan Drakor Descendants of the Sun | idntimes.com

Menanggapi masuknya Gelombang Hallyu, masyarakat dibuat bingung, mau memilih cinta produk lokal atau cinta kualitas Internasional.

Belakangan gelombang Kpop dan drakor semakin gencar-gencarnya masuk ke Indonesia. Gerakan itu beberapa hari yang lalu dibahas oleh sesama Kompasianer, bapak Rudy Gunawan, yang dalam artikelnya menyebut gerakan tersebut sebagai Gelombang Hallyu.

Gelombang Hallyu tersebut tak bisa dipungkiri berdampak luas terhadap perkembang budaya di Indonesia. Dari segi fashion, makanan, film, musik, sampai gaya berbicara pun ikut berubah seiring pesatnya kecintaan akan Kpop dan drakor di Indonesia.

Mari kita kesampingkan sejenak persoalan Kpop, dan fokus ke bagian drakor saja. Indonesia sejatinya punya "drakor" nya sendiri dalam bentuk sinetron. Namun sayang, sinetron sendiri sepertinya kurang mendapat apresiasi dari masyarakat Indonesia, terutama dari kaum remaja. Hampir tak ada support berarti dari kaum remaja terhadap perkembangan sinetron.

Hal ini pun seringkali dijadikan perdebatan di kalangan pecinta film di Indonesia. Remaja penyuka sinetron biasanya memberikan statement "cintailah produk lokal" kala beradu argumen dengan remaja penyuka drakor. Sementara penyuka drakor, mereka selalu menekankan kualitas drakor yang sangat jauh lebih unggul apabila lawannya adalah sinetron.

Terang saja, bila menilai secara objektif memang kualitas yang ditawarkan drakor jauh lebih baik ketimbang yang ditawarkan sinetron, mau dari manapun. Alur cerita, lokasi shooting, kreativitas, editing, pengambilan gambar, semuanya diperhitungkan secara matang oleh sutradara dan penulis cerita yang membesut suatu drakor.

Kualitas tersebutlah yang sesungguhnya dinanti para remaja di Indonesia untuk diimplementasikan kedalam Sinetron. "Aduh bingung mau memulai dari mana, terlalu banyak yang harus diperbaiki". Baiklah, dari sudut pandang orang awam, inilah 3 aspek yang patut menjadi prioritas utama.

1. Alur (Jalan Cerita)

Illustrasi Pembuatan Jalan Cerita

Kita pasti sudah tidak asing dengan kalimat "lebay banget cinta-cintaannya", "kok nangis terus sih tiap episode?", atau "halah, udah nebak kok akhirnya begini". 3 kalimat tersebut seringkali muncul dari mulut teman-teman saya ketika berdiskusi mengenai sinetron.

Apa yang membuat mereka mempunyai paradigma demikian? Ya apalagi kalau bukan karena jalan ceritanya yang monoton. Fitur "flashback" dan "plot twist" jarang sekali diperlihatkan dalam sebuah sinetron. Kalau pun ada, ya hanya sekedar ada saja, nothing special.

Sekedar contoh, flashback dalam drakor biasanya mengenang masa kecil si karakter yang tidak diperlihatkan di episode-episode sebelumnya. Sedangkan sinetron, biasanya flashback yang digunakan adalah adegan yang sudah ada di episode-episode sebelumnya.

Dari segi plot twist pun demikian. Dalam drakor, plot twist seringkali menghebohkan seperti di drama "Who Are You: School 2015" dimana penggemar (termasuk saya) yakin betul Lee Eun-bi akan menjadi pasangan Gong Tae-kwang. Ehh yang terjadi malah Lee Eun-bi jadian dengan Han Yi-an, so sad.

Sementara dalam sinetron, sejauh yang saya amati, plot twist hanya akan dipakai bila ada kebutuhan mendadak saja. Contohnya di sinetron "Anak Langit" yang pemeran utamanya adalah Ammar Zoni dan Ranty Maria, tiba-tiba ditengah jalan berganti menjadi Immanuel Caesar Hito dan Marcella Daryanani yang notabene adalah pemeran pendukung.

Adegan menangis, kecelakaan, serta percintaan pun kadang dibuat tak realistis dalam sinetron, tidak seperti halnya drakor (walaupun drakor romantis juga sudah mulai bisa ditebak alurnya). Maka dari itu, di sinilah peran penulis naskah berkualitas dibutuhkan. Fitur flashback, plot twist, dan relevansinya dengan adegan yang akan dilakukan, wajib menjadi PR penulis naskah sinetron apabila benar-benar ingin berbenah.

2. Pemangkasan Jumlah Episode

Potret Sinetron Tukan Bubur Naik Haji The Series | kapanlagi.com

Jumlah episode ini jelas sangat berpengaruh dalam dunia perfilman. Tingkat kebosanan, jumlah pemain, kualitas film secara keseluruhan, serta alur cerita dapat terpengaruh dari jumlah episode yang disajikan.

Drakor sendiri terkenal dengan hanya membuat 16 atau 24 episode saja per judulnya. Bila benar-benar hits atau kemauan sutradara dan pihak bersangkutan lainnya, barulah akan dibuatkan season keduanya seperti "Dream High", "Welcome to Waikiki", dan "Love Alarm". Dari pengamatan yang saya lakukan pula, episode terpanjang untuk suatu judul drama di Korea adalah "Happiness in the Wind" dengan 173 episode saja.

Sedangkan sinetron, sudah menjadi rahasia umum apabila suatu judul laris di pasaran maka jumlah episodenya akan mencapai ratusan bahkan ribuan. Hal inilah yang kadang mempengaruhi jalan cerita sehingga menjadi tidak relevan dengan cerita aslinya diawal.

Kita ambil contoh sinetron "Tukang Bubur Naik Haji the Series" dengan 2185 episode per tanggal 25 November 2019, berdasarkan Merdeka.com. Jumlah episode yang membludak ini sangat tidak cocok untuk para kaum remaja. Jangan kan mulai menonton, melihat angka 2185 episode saja, mata saya sudah lelah duluan.

Dengan episode sebanyak itu pula, mustahil apabila kita ingin rewatch serial tersebut dari awal kalau-kalau ingin flashback. Tak seperti drakor yang bisa di rewatch saat rindu dengan drama tersebut, sinetron Indonesia dengan ribuan episode tersebut jelas tak bisa di rewatch.

Saran saya, bila memang tak mampu mengubah yang awalnya ribuan menjadi 16 episode saja, setidaknya buatlah menjadi 100an terlebih dahulu. Walaupun masih tetap banyak, setidaknya ada kemauan untuk berkembang. Masa membuat film yang notabene ribuan episode bisa, giliran ratusan episode saja bingung?

3. Bila Memang Serius, Rogoh Kocek Sedikit Dalam

Illustrasi Uang | carakanews.com

Drama Korea dibuat sedemikian rupa bagusnya bukan tanpa alasan. Mereka berani merogoh kocek yang cukup dalam guna membuat drama yang berkualitas, karena kru dan pihak yang bersangkutan memiliki visi bahwa dramanya tak hanya akan laris di Korea saja, melainkan juga di seluruh dunia.

Berlandaskan visi itulah, drama "The Heirs" berani melakukan syuting di California, drama "Encounter" mengambil beberapa episode awal di Kuba, dan terbaru drama "Crash Landing On You" yang memilih Swiss sebagai tempat awal romansa Ri Jung Hyuk dan Yoon Se Ri dimulai. Benar saja, judul-judul tersebut laris manis di pasaran, terutama "The Heirs" yang kerennya tak termakan perkembangan zaman.

Bila membandingkan aspek ini dengan sinetron di Indonesia, agaknya akan cukup miris. Dari target penonton saja, sinetron yang tayang sekarang lebih memilih menyasar kaum ibu-ibu ketimbang remaja. Apalagi masyarakat Internasional, sudah jelas mereka bukan target market yang diinginkan para pembuat sinetron.

Hal ini berdampak pula pada lokasi syuting yang bisa dibilang itu-itu saja. Bila sinetronnya tentang remaja, maka tempat syutingnya tak jauh dari sekolah, rumah, dan taman atau mall. Bila sinetronnya seperti "Tukang Bubur Naik Haji" dan "Tukang Ojek Pengkolan", lokasi syutingnya ya tak lepas dari pengkolan, rumah makan, warung, jalan raya dan tempat tinggal karakternya.

Memang tempat yang bagus tak selalu menjadi kunci kesuksesan, tempat yang biasa-biasa saja pun akan jadi menawan bila dikerjakan dengan niat. Seperti drakor "The World of the Married" yang latar tempatnya hanya perumahan biasa di Korea, namun malah menjadi pelopor ditayangkannya drakor di Televisi Nasional.

Kembali lagi, hal ini disebabkan karena perbedaan visi dari sinetron dan drakor sedari awal. Drakor punya visi mendapat penonton Internasional serta merambah aplikasi perfilman seperti Viu, Netflix, dan bahkan menjual lisensi penayangannya di Televisi Nasional Negara lain.

Sementara "Drakor Lokal" alias sinetron, punya visi yang menargetkan hanya penonton Nasional dengan spesifikasi tertentu saja. Memang bukan perbandingan yang apple to apple, itulah sebabnya visi pada struktur pembuatan sinetron wajib di "Revolusi" guna bisa setingkat dengan drakor.

***

Itulah 3 poin yang wajib dibenahi terlebih dahulu apabila ingin memudarkan citra buruk sinetron di masyarakat dan menggaet pasar Internasional. Dengan begitu, menyaingi drakor bukan lagi angan-angan belaka.

Penulis: Steven Chaniago

Artikel Asli