Sikut-sikutan Perlombaan Bom Atom Amerika-Jerman

Historia.id Diupdate 13.05, 07/08/2020 • Dipublikasikan 13.05, 07/08/2020 • historia.id
Penampakan ledakan bom atom yang dijatuhkan Amerika di kota industri Hiroshima (Foto: loc.gov/National Archives)

ENAM Agustus 1945 menjadi hari tak biasa di kota Hiroshima yang sedang musim panas. Sekira pukul 8.15 pagi, dinamika kota itu berubah seketika. Bom atom “Little Boy” yang dijatuhkan Amerika Serikat dari pesawat pembom B-29 Superfrotress “Enola Gay” mengubah wajah kota industri itu dalam hitungan detik.

Sekira 80 ribu orang menjadi abu, 50 ribu lainnya berangsur-angsur tewas akibat luka yang tak kunjung pulih akibat ledakan bom tersebut.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini warga Hiroshima menggelar peringatan tragedi bom atom di Hiroshima Memorial. Walau dalam peringatan ke-75 kali ini sedikit berbeda lantaran masih pandemi virus corona, peringatan tetap dihadiri Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe.

“Pada 6 Agustus 1945, sebuah bom atom menghancurkan kota kami. Rumor pada waktu itu menyatakan takkan ada yang bisa tumbuh lagi di sini setelah 75 tahun. Akan tetapi, Hiroshima pulih, menjadi sebuah simbol perdamaian,” tutur Walikota Hiroshima Kazumi Matsui, dikutip BBC, Kamis (6/8/2020).

Kota Hiroshima yang menjadi “abu' beserta 80 ribu jiwa seketika pasca-dijatuhkan bom atom “Little Boy” (Foto: Libraro of Congress)

Adalah  Amerika Serikat (AS) yang menjatuhkan bom atom “Little Boy” yang mendatangkan petaka bagi warga Hiroshima itu. Menjelang akhir Perang Dunia II, AS menjadi satu-satunya negara yang memiliki bom atom. Kepemilikan itu tak lepas dari eksodus ilmuwan Jerman anti-Nazi ke negeri itu. Jerman merupakan salah satu negara yang pada saat perang telah mengembangkan senjata pemusnah massal itu dan bahkan nyaris mendahului Amerika.

Kemajuan Riset Bom Atom Jerman

Tak bisa disangkal, kemajuan pengembangan persenjataan Jerman mencapai kemajuan pesat ketika rezim Adolf Hitler berkuasa sejak 1933. Senjata-senjata mutakhir seperti roket V-1, misil balistik Vergeltung-2 (V-2), atau pesawat tempur bermesin jet lahir di masa itu.

Sementara senjata-senjata mutakhir itu lahir, di laboratorium-laboratorium Jerman segudang ilmuwan handal bidang kuantum mekanis dan pembelahan inti uranium terus merisetnya untuk nuklir. Lima tahun sebelum Amerika membuat Manhattan Project pada 1942, riset tentang pembelahan inti atom sudah dihasilkan duet ilmuwan Jerman Otto Hahn dan Fritz Strassmann dari Kaiser-Wilhelm-Institut für Chemie lewat jurnal ilmiah Naturwissenschaften (Desember 1938). Hasil riset Hahn-Strassmann itu diberi judul “Über den Nachweis und das Verhalten der bei der Bestrahlung des Urans mittels Neutronen entstehenden Erdalkalimetalle”.

Mengutip Mark Walker dalam Nazi Science: Myth, Truth, and the German Atomic Bomb, intisari laporan riset itu adalah keberhasilan Hahn dan Strassmann mendeteksi dan mengidentifikasi elemen barium usai menggempurkan uranium dengan partikel-partikel neutron, sampai terjadilah pembelahan inti uranium tersebut.

Alat yang digunakan Otto Hahn dan Fritz Strassmann dalam pembelahan inti atom (Foto: deutsches-museum.de)

Namun, temuan itu tak mendapat tanggapan serius dari Hitler dan para petinggi militernya. Perhatian serius baru diberikan setelah Hitler diyakinkan Menteri Persenjataan dan Produksi Perang Albert Speer. Speer sebelumnya menerima proyek yang diajukan Paul Harteck, ilmuwan Universitas Hamburg, pada April 1939 lantaran tahu arti penting proyek tersebut bagi kemajuan perang dan secara pribadi kenal dengan Harteck lantaran sama-sama duduk di Heereswaffenamt (Pusat Persenjataan Militer) di mana Harteck duduk sebagai salah satu penasihat.

Hitler kemudian mengeluarkan dekrit tentang Reichsforschungsrat (RFR) atau Dewan Riset Negara pada 9 Juni. “Dekritnya berupa reorganisasi RFR sebagai badan terpisah namun masih di bawah Kementerian Produksi Perang, di mana Reichsmarschall Hermann Goering akan bertindak sebagai presidennya. RFR tidak lagi di bawah Kementerian Ilmu Pengetahuan lantaran dianggap kurang efektif,” tulis Walker.

Selain Harteck, sembilan ilmuwan “sisa” –ilmuwan yang Jerman yang tak melarikan diri akibat kebijakan antisemit Hitler; sejumlah ilmuwan seperti Albert Einstein dan terutama Enrico Fermi, yang kelak berada di belakang layar Proyek Manhattan, memilih lari dari Jerman sebelum pecah Perang Dunia II– duduk dalam proyek pengembangan senjata nuklir tersebut.

Sembilan ilmuwan di belakang proyek uranium Jerman-Nazi itu masing-masing bertanggungjawab pada sembilan sektor yang merupakan bagian dari tiga cabang dalam desain riset dan produksi induk. Ketiga cabang itu yakni pemisahan isotop uranium, pembangunan reaktor nuklir, dan produksi uranium dan air berat. Cabang terakhir membutuhkan dana paling besar.

Sabotase Menggagalkan Bom Atom Hitler

Beragam rencana Jerman tadi sudah terdengar di kuping PM Inggris Winston Churchill pada Juni 1942, yang lalu memberitahu Presiden Amerika Franklin D. Roosevelt. PK Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II yang mengutip ulasan Brian Horrocks di majalah mingguan The Listener, 16 Juli 1959, menuliskan, Roosevelt sampai kebakaran jenggot mendengar kabar dari koleganya itu.

Walaupun sejak 1939 Einstein sudah mengingatkan Roosevelt tentang adanya riset rantai reaksi nuklir dalam suatu massa uranium, Inggris dan Amerika kalah start dari Jerman dalam pengembangan nuklir. Saat Churchill mengabarkan Roosevelt, Jerman sudah dalam proses memproduksi air berat dengan salah satu yang terbesar di pabrik Norsk Hydro di Lembah Rukjan, Norwegia.

“Air berat suatu bahan yang penting untuk pembuatan bom atom secara besar-besaran. Churchill menyampaikan kekhawatirannya bahwa Jerman akan mendahului Sekutu dalam pembuatan bom atom. Fatal akibatnya jika ini terjadi dan oleh karenanya harus dicegah dengan segala daya dan cara,” tulis Ojong.

Baca juga: Empat Senjata Jerman yang Mengubah Dunia

Dengan menguasai pabrik Norsk Hydro, Jerman bisa mencapai kemajuan lebih pesat dan Sekutu terancam ketinggalan dalam perlombaan senjata bom atom. Para ilmuwan Jerman hanya perlu menanti punya banyak persediaan air berat untuk memulai percobaan membelah atom uranium.

Supaya tak tertinggal jauh, Sekutu mencoba mengejar dengan membuat Proyek Manhattan pada Agustus 1942. Proyek pimpinan Kolonel James C. Marschall ini melibatkan sejumlah ilmuwan pelarian dari Jerman, termasuk Fermi dan J. Robert Oppenheimer.

Lief Tronstad (kiri depan) ilmuwan Norwegia yang kabur dari penahanan Jerman dan mengabarkan tentang produksi air berat Jerman (Foto: atomicheritage.org)

Namun tetap saja Sekutu telah tertinggal jauh ketika baru memulainya. Hal itu diketahui dari laporan dari Lief Tronstad. Tronstad merupakan ilmuwan Norwegia yang melarikan diri setelah sebelumnya dipaksa ikut terlibat dalam produksi air berat di Norsk Hydro. Dia menjadi otak di balik sabotase terhadap air berat di Norsk Hydro (Februari 1943).

Mengetahui kesuksesan sabotase Tronstad, Sekutu yang tak rela membiarkan Jerman meninggalkannya lebih jauh lalu merancang misi sabotase kembali ketika  Jerman berupaya memindahkan stok air beratnya yang tersisa dari Norwegia ke Jerman menggunakan kapal feri SF Hydro pada Februari 1944. Kali ini misi dipimpin Knut Haukelid, partisan Norwegia yang dilatih di Inggris.

Bersama beberapa rekannya, Haukelid lebih dulu memonitor rute-rute dan cara-cara yang memungkinkan untuk bisa menyusup ke kapal Hydro yang dijaga amat ketat.

“Haukelid dengan kawan-kawannya menyamar sebagai penumpang sebuah truk hingga bisa naik ke kapal itu tanpa kesukaran apapun. Ia membawa dua bom waktu buatan sendiri dari dinamit dan dua jam weker. Ia perhitungkan bahwa waktu peledakannya kapal harus berada di area terdalam Danau Tinn yang dilalui kapalnya. Ia menyetel waktunya untuk meledak pukul 10.45 pagi,” tulis Ojong.

Pabrik Norsk Hydro (atas) & kapal feri SF Hydro yang disabotase partisan Norwegia (Foto: Norwegian Museum of Cultural History)

Kapal Hydro sendiri berangkat pada malam 19 Februari dari Mæl dengan tujuan Tinnoset melalui Danau Tinn. Sebelum Hydro berangkat, Haukelid dan kawan-kawan dengan bantuan salah satu kru kapal sesama orang Norwegia berhasil menyusup ke dasar kapal dan memasangkan bom-bom di titik-titik strategis kapal. Setelah bom-bom itu ditanam, Haukelid dkk. segera meninggalkan kapal itu dan kabur ke pedalaman.

Haukelid lalu mengabarkan Einnar Skinnerland yang akan memantau dari lereng-lereng gunung, bahwa bom sudah disetel untuk meledak pada 10.45 pagi pada 20 Februari atau beberapa jam setelah Hydro berangkat. Ketika Skinnerland memantau dengan seksama dari lereng gunung yang berdekatan dengan rute pelayran Hydro di Danau Tinn, dia melihat kilatan cahaya yang disusul gemuruh ledakan. Tak sampai lima menit, Hydro hancur dan tenggelam ke dasar danau.

“Dengan demikian musnahlah persediaan air berat Jerman yang paling besar dan merupakan suatu pukulan hebat terhadap Jerman. Kerugian itu tak dapat diperbaiki lagi. Sekutu tiba-tiba saja memenangkan perlombaan pembuatan bom atom ketika mereka hampir saja kalah, di mana Amerika akhirnya menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima dan kemudian Nagasaki,” tandas Ojong.

Artikel Asli