Siapakah Turis Terbaik di Dunia?

Kompas.com Dipublikasikan 05.21, 17/09/2019 • Yana Gabriella Wijaya
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Pertunjukan parade Mikoshi saat Festival Jak-Japan Matsuri di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (7/9/2019). Acara ini digelar untuk memeringati 61 tahun hubungan persahabatan Indonesia dan Jepang dengan tema Indonesia & Japan Always Together, yang memiliki makna bahwa Jepang dan Indonesia akan selalu bekerja sama bahu-membahu dalam segala hal.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menurut sebuah studi internasional baru-baru ini yang dilakukan oleh perusahaan analisis data YouGov, turis Jepang merupakan turis terbaik di dunia.

Analisis ini berdasarkan responden dari 26 negara-negara di Eropa, Asia dan Arab, serta Amerika Serikat, Australia. Semuanya (kecuali Italia) menobatkan turis Jepang sebagai pelancong terbaik.

Di Finlandia, Spanyol, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, pengunjung dari Negeri Matahari Terbit ini dianggap sebagai turis yang lebih unggul daripada pengunjung dari negara lain.

Studi itu juga menyebutkan bahwa hasil dari jajak pendapat 26 negara, memilih turis Jepang sebagai turis terbaik. Reputasi turis Jepang terkenal menjujung tinggi kesopanan saat berkunjung ke suatu destinasi wisata.

Contohnya saja saat Piala Dunia tahun lalu. Suporter Jepang membersihkan stadion di Rusia usai mendukung tim nasional Jepang yang bertanding melawan Pantai Gading di Piala Dunia, Rusia 2018.

Menurut situs Inquisitr, sekitar ratusan pendukung tim Jepang tetap tinggal di stadion setelah tim nasional mereka kalah dengan skor 2-1, untuk mengambil sampah yang mengotori stadion.

Gerakan sportif itu tertangkap oleh fotografer dan foto-foto itu menjadi viral. Para pendukung tim Jepang memiliki reputasi sebagai tamu yang ramah di negara-negara tuan rumah Piala Dunia.

Kegiatan membersihkan sampah di stadion sudah dilakukan suporter Jepang pada Piala Dunia di Preancis pada 1998 dan Piala Dunia di Jerman pada 2006.

Turis Jepang di Yogyakarta dan Jakarta

Kisah serupa juga terjadi di Yogyakarta. Dilansir dari TribunJogja, seorang turis Jepang membersihkan sampah di sepanjang Jalan Malioboro seorang diri.

Bermodal sebuah kantung kresek putih, ia memunguti sampah yang ada di kolong bangku jalan ikon Kota Yogyakarta tersebut.

Hal yang sama juga terjadi di Gelora Bung Karno (GBK) saat perayaan Asian Games 2018. Para turis dari Jepang memungut puntung rokok yang ada di taman GBK. Mereka juga membersihkan poto-pot yang di dalamnya terdapat puntung rokok.

Dalam budaya Jepang, orang-orang diharapkan untuk membersihkan sampah mereka sendiri. Tindakan membuang sampah sembarangan dianggap ilegal di beberapa wilayah di Jepang.

Dilansir dariLive Japan, inti ajaran kesopanan tersebut adalah dua konsep yang mendarah daging secara budaya, yaitu omotenashi dan tatemae. Omotenashi merujuk pada sikap keramahtamahan.

Orang Jepang beranggapan melayani tamu dengan sepenuh hati karena hal itu merupakan dasar dari kebaikan.

Tatemae adalah bagaimana orang-orang di Jepang menampilkan diri mereka ke dunia luar yaitu dengan menjaga penampilan dan menjaga nama baik serta kehormatan diri mereka. Hal tersebut ialah "upaya untuk terlihat baik di mata orang lain".

Penulis: Yana Gabriella WijayaEditor: Ni Luh Made Pertiwi F.

Artikel Asli