Siapa Bilang Lari dengan Jaket Parasut Bikin Kurus? Itu Hoaks! Ini Beberapa Hoaks Olahraga Lari yang Perlu Diketahui

Intisari Dipublikasikan 00.00, 23/08/2019 • K. Tatik Wardayati
Benarkah lari menggunakan jaket bikin kurus? Itu hoaks!

Intisari-Online.com – Olahraga yang paling banyak diminati beberapa tahun belakangan ini adalah olahraga lari.

Tentu saja, selain tidak memerlukan biaya besar untuk perlengkapannya, olahraga ini bisa dilakukan kapan dan di mana saja.

Sehingga ajang lomba lari di Indonesia dari tahun ke tahun semakin diminati.

Sayangnya, tingginya minat terhadap olahraga lari tersebut belum diimbangi dengan pengetahuan kesehatan terkait olahraga ini.

Masih banyak hoaks terkait olahraga lari yang beredar di masyarakat. Informasi kesehatan yang keliru atau tidak teruji secara medis bisa berdampak pada masalah kesehatan serius.

Ada risiko cedera hingga kasus kematian mendadak akibat penanganan yang keliru, misalnya.

Lalu, apa saja hoaks terkait olahraga lari yang banyak beredar di masyarakat?

*1. Lari menggunakan jaket parasut agar kurus *

Lari menggunakan jaket parasut tidak akan membuat kurus. Demikian ditegaskan Ketua pelaksana ajang lari keluarga besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), KedokteRAN 2019, dr. Jack Pradono Handojo, MHA.

Dia menyebut, sepanas-panasnya suhu ketika mengenakan jaket parasut, menurut dia, tidak akan mencapai 100 derajat celcius.

Suhu maksimal dengan metode itu hanya berkisar 38-39 derajat Celcius. Nah, suhu tersebut tidak cukup untuk meluruhkan lemak.

Kondisi yang terjadi ketika kita memaksakan lari menggunakan jaket parasut adalah proses penguapan yang terhambat, dan membuat badan mengalami overheat.

"Kemudian mengalami heat stroke (sengatan tinggi)," kata Jack di kampus FKUI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2019) kemarin.

*2. Mengurangi minum selama lari karena takut ke toilet *

Hoaks terkait lari lain adalah tidak minum selama lari, karena malas ke toilet di tengah sesi lari.

Padahal, minum sangat diperlukan untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang melalui keringat.

Bahkan, ketika mengikuti ajang lari disarankan membagi strategi hidrasi menjadi tiga. Pertama, sebelum ajang lari sekitar 240-300 ml. Kedua, di sela lari setiap 15 menit sekali.

Namun, usahakan minum perlahan, dan tidak terlalu banyak agar perut tidak kembung.

"Disarankan, di setiap water station minum dan tidak menunggu haus karena kalau sudah haus berarti tubuh sudah dehidrasi," kata dia.

Ketiga, setelah ajang lari. Biasanya, peserta diberi botol minum ukuran 600ml setelah menyelesaikan perlombaan.

"Biasanya dihabiskan untuk mengembalikan (cairan yang hilang) pasca-event," tutur Jack.

*3. Carbo-loading *

Menurut Jack, banyak orang yang akan mengikuti half marathon (HM) dan full marathon (FM) ingin kuat berlari lama.

Lalu, sebelum perlombaan mereka mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah besar. Beberapa karbohidrat yang biasa dikonsumsi antara lain kentang, nasi, spaghetti, dan lainnya.

Padahal, untuk pelari jarak 5-10km, hal tersebut tidak bermanfaat. "Malah kontraproduktif. Karena kalau sudah selesai lari bukannya kurus malah gemuk," ucapnya.

Selain tiga hoaks tersebut, mungkin masih ada beberapa hoaks lainnya.

Melalui KedokteRAN 2019, Ikatan Alumni UI (ILUNI UI) tak hanya ingin mengajak masyarakat beraktivitas fisik, namun juga ingin memberikan edukasi untuk meluruskan hoaks kesehatan tersebut.

KedokteRAN 2019 akan diselenggarakan di Kampus UI Depok pada 17 November 2019, dengan rangkaian pre-event bertajuk "Road to KedokteRAN 2019" selama Agustus-Oktober 2019.

Topik-topik edukasi kesehatan yang akan dibahas antara lain mengenai cedera ketika lari dan pencegahan mati mendadak pada Agustus.

Lalu, pelatihan Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada September dan hidrasi sehat saat olahraga pada Oktober.

Informasi lebih lanjut bisa didapat dengan mengakses akun Instagram @kedokteran2019. (Nabilla Tashandra)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Waspadai dan Pahami, Hoaks soal Olahraga Lari"

 

Artikel Asli