Siang Ini, Yogyakarta Alami Fenomena Hari Tanpa Bayangan

Kompas.com Dipublikasikan 01.59, 13/10/2019 • Gloria Setyvani Putri
NASA/SDO (AIA)
Ilustrasi matahari

KOMPAS.com - Siang nanti (13/10/2019), Yogyakarta akan mengalami fenomena hari tanpa bayangan.

Kulminasi utama hari tanpa bayangan di kota Yogyakarta akan terjadi pada pukul 11.24.53 WIB, sementara kabupaten Sleman kulminasi utamanya terjadi pada pukul 11.24.57 WIB.

Untuk kabupaten Wonosari, Bantul dan Wates, fenomena hari tanpa bayangan akan dialami besok Senin (14/10/2019). Kulminasi utamanya, masing-masing pada pukul 11.23.44 WIB, 11.24.48 WIB, dan 11.25.32 WIB.

Setelah Yogyakarta, ada tiga kota lain yang akan mengalami fenomena hari tanpa bayangan di tahun 2019.

Baca juga: Jadwal Lengkap Hari Tanpa Bayangan Oktober, dari Jakarta, Surabaya sampai Denpasar

Tiga kota itu adalah Denpasar (16 Oktober 2019), Mataram (16 Oktober 2019), dan berakhir di Kupang (20 Oktober 2019).

Jadwal untuk kulminasi utama di provinsi berikutnya adalah:

  • Denpasar pada 16 Oktober 2019 pukul 12.04.49 WITA
  • Mataram pada 16 Oktober 2019 pukul 12.01.16 WITA
  • Kupang pada 20 Oktober 2019 pukul 11.30.34 WITA

Untuk kulminasi utama di kota-kota lainnya, Anda dapat melihat pada link BMKG ini.

Fenomena hari tanpa bayangan

Astronom amatir Marufin Sudibyo menjelaskan, hari tanpa bayangan atau lengkapnya hari tanpa bayangan Matahari adalah suatu hari bagi suatu tempat tertentu di mana obyek yang berdiri tegak akan kehilangan bayang-bayangnya.

"Hal ini terjadi ketika Matahari mencapai titik kulminasi atas (istiwa'), atau dengan kata lain mengalami kondisi transit," kata Marufin kepada Kompas.com.

Marufin menjelaskan, setiap hari di antara terbit dan terbenamnya Matahari menempuh lintasan khayali di langit yang tercermin dari dua parameter, yakni altitud Matahari dan azimuth Matahari.

Kulminasi atas terjadi saat altitud Matahari mencapai maksimum pada hari itu.

Situasi tersebut terjadi bersamaan dengan saat azimuth Matahari bernilai 180 derajat atau 0 derajat, fenomena yang disebut sebagai transit Matahari.

"Sehingga pada saat kulminasi atas terjadi, bayang-bayang benda tegak yang dibentuk oleh pancaran sinar matahari akan tepat mengarah ke utara atau ke selatan. Hari tanpa bayangan Matahari terjadi manakala altitud Matahari tepat 90 derajat, sehingga Matahari tepat berada di titik zenith (titik tertinggi yang bisa dicapai peredaran benda langit)," jelasnya.

Baca juga: Suhu Panas di Jawa, Benarkah Penyebabnya Hari Tanpa Bayangan?

Dilansir dari siaran pers BMKG, sederhananya, fenomena hari tanpa bayangan terjadi karena bidang ekuator atau rotasi Bumi tidak tempat berimpit dengan bidang ekliptika atau revolusi Bumi.

Alhasil, posisi Matahari dari Bumi akan terlihat berubah terus sepanjang tahun antara 23,5 derajat LU sampai dengan 23,5 derajat LS. Hal ini disebut sebagai gerak semu harian Matahari.
Dikarenakan posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator, maka kita pun bisa mengalami kulminasi utama di wilayah Indonesia dua kali dalam setahun, ketika Matahari berada di khatulistiwa.

Untuk diketahui, pada tahun ini Matahari tepat berada di khatulistiwa pada 21 Maret 2019 pukul 05.00 WIB dan 23 September 2019 pukul 14.51 WIB.

Sumber: Kompas.com (Shierine Wangsa Wibawa)

Penulis: Gloria Setyvani PutriEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli