Setelah Unilever, Giliran Microsoft Berhenti Beriklan di Facebook

Kompas.com Dipublikasikan 11.31, 02/07 • Wahyunanda Kusuma Pertiwi
cnet.com
ilustrasi Microsoft

KOMPAS.com - Bisnis iklan Facebook kian tergerus. Setelah ditinggal Unilever, Coca-cola, Adidas, dan beberapa besar perusahaan lain, kini giliran Microsoft yang mengonfirmasi akan menghentikan penayangan iklannnya di Facebook dan Instagram. 

Perusahaan software raksasa ini sebenarnya sudah menangguhkan iklan di Facebook dan Instagram mulai bulan Mei lalu di Amerika Serikat. Namun kini, Microsoft memperluasnya hingga ke ranah global,setidaknya hingga Agustus mendatang.
Baca juga: Coca-cola dan Unilever Setop Beriklan di Facebook, Mark Zuckerberg Rugi Rp 103 Triliun

Kendati demikian, Microsoft berdalih bahwa kebijakan penangguhan iklan di Facebook bukan hanya "meramaikan"' aksi boikot iklan Facebook seperti yang dilakukan perusahaan besar lain. 
Microsoft beralasan keputusan ini didasari kekhawatiran jika iklan mereka muncul di konten tidak pantas. "Yakni konten ujaran kebencian, pronografi, terorisme," kata CMO Microsoft, Chris Capossela tanpa mencontohkan konten mana yang dimaksud.
Tergantung langkah Facebook

Capossela mengatakan saat ini Microsoft sedang dalam diskusi dengan para petinggi Facebook dan Instagram tentang bagaimana upaya yang harus dilakukan agar Microsoft bisa kembali beriklan.

Kembalinya iklan Microsoft ke Facebook dan Instagram, kata Capossela, bergantung pada langkah positif yang dilakukan Facebook dan Instagram. Ini bukanlah pertama kalinya Microsoft menyetop iklan ke sebuahplatform media sosial.

Sebelumnya, perusahaan yang bermarkas di Redmond, Washington, AS tersebut juga pernah menangguhkan iklan ke Youtube dengan alasan yang sama. Namun Microsoft sudah mulai beriklan kembali ke platform berbagi video itu.

"Pengalaman kami menunjukkan bahwa cara paling berdampak untuk menghasilkan perubahan jangka panjang adalah melalui dialog langsung dan tindakan yang berarti dengan mitra media kami, termasuk penangguhan dollar," kata Capossela.
Baca juga: Facebook Pecat Karyawan yang Protes Kebijakan Zuckerberg soal Unggahan Trump

Menurut informasi yang dihimpun KompasTekno dari Axios, Kamis (2/7/2020), pada tahun 2019 Microsoft membelanjakan 115 juta dollar AS atau Rp 1,6 triliun untuk beriklan di Facebook, berdasarkan riset perusahaan analis iklan Pathmatics.

Bisnis iklan Facebook terseok lantaran sederet perusahaan besar bergabung dalam aksi boikot iklan di Facebook. Dilaporkan, sejumlah koalisi hak asasi manusia (HAM), termasuk Anti-Defamation League (ADL) dan NAACP, menyuarakan kampanye #StopHateforProfit.

Kampanye ini mendorong perusahaan besar untuk menangguhkan atau membatalkan iklan di Facebook. Para pengiklan kompak ingin Facebook mengambil langkah tegas untuk memberangus konten berisi ujaran kebencian, rasisme, dan mendukung kekerasan.

Facebook dibanjiri kritikan

Nick Clegg, VP Global Affairs and Communications, Facebook, mengakui bahwa perusahaannya dibanjiri kritikan dalam beberapa minggu terakhir, karena membiarkan unggahan kontroversial Presiden Donald Trump yang dianggap mengglorifikasi kekerasan.

"Saya ingin menegaskan secara jelas, Facebook tidak memperoleh keuntungan dari kebencian," kata Clegg dalam keterangan resmi yang diterimaKompasTekno.
Baca juga: Facebook Peringatkan Pengguna Saat Akan Share Berita Lawas

Clegg mengatakan, pengguna Facebook dan Instagram mengirimkan miliaran unggahan setiap harinya. Membasmi ujaran kebencian pun ibarat mencari jarum dalam tumpukan sekam.

Padahal, kata Clegg, Facebook telah berinvestasi miliaran dollar setiap tahun untuk mengembangkan teknologi dan merekrut pegawai untuk menjaga platform dari penyebaran konten negatif.

"Kami tambah jumlah orang-orang yang bekerja di area keselamatan dan keamanan hingga lebih dari 35,000 orang. Kami adalah pelopor dalam teknologi kecerdasan buatan untuk menghapus konten yang penuh kebencian dalam skala besar," jelas Clegg.

Clegg sesumbar bahwa, menurut laporan komisi Eropa baru-baru ini, Facebook memproses 95,7 persen laporan ujaran kebencian dalam waktu kurng dari 24 jam, lebih cepat dari YouTube dan Twitter.

Pada bulan Juni 2020, Facebook mengklaim telah menemukan 90 persen ujaran kebencian dan telah menghapusnya lebih dulu sebelum ada laporan pengguna.
Baca juga: Iklan Politik di Facebook Akan Bisa Dimatikan
Pada kuartal pertama 2020, Facebook mengambil tindakan terhadap 9,6 juta konten, naik 5,7 juta dari kuartal sebelumnya. Sebanyak 99 persen konten ISIS dan Al Qaeda, diklaim telah dihapus sebelum ada pengguna melaporkannya.

"Kami mungkin tidak pernah dapat menghapus kebencian seluruhnya dari Facebook, tetapi kami berkembang semakin baik untuk mencegah kebencian itu terjadi setiap waktu," pungkas Clegg.

Penulis: Wahyunanda Kusuma PertiwiEditor: Oik Yusuf

Artikel Asli