Sering Tidak Terdiagnosis, Kenali Penyakit Autoimun Sjogren's Syndrome

Kompas.com Dipublikasikan 12.30, 07/08 • Shierine Wangsa Wibawa
Ilustrasi Penyakit autoimun.

KOMPAS.com - Banyak orang belum mengenal atau bahkan tidak pernah mendengar Sjogren’s Syndrome.

Padahal, Sjogren’s Syndrome adalah penyakit autoimun kronik dan sistemik, yang 90 persen penderitanya perempuan.

Dr. dr. Alvina Widhani, SpPD, K-AI, Divisi Alergi Imunologi Klinik Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM/RSUI dan Dewan Pembina Yayasan Sjogren’s Syndrome Indonesia menjelaskan mengenai penyakit ini dalam webinar PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe), Kamis (6/8/2020).

Alvina berkata bahwa ada banyak faktor yang bisa menyebabkan Sjogren's Syndrome. Memiliki bakat genetik saja sering kali tidak serta merta memunculkan penyakit ini, melainkan harus ada pencetusnya, seperti faktor lingkungan, hormon dan stres.

Baca juga: Kasus Penyakit Autoimun Meningkat Drastis, Apa Pemicunya?

Ketika sudah bermanifestasi, penyakit Sjogren’s Syndrome sering kali menyerang kelenjar, seperti kelenjar air mata, air liur dan keringat, sehingga keluhan awal dari penyakit ini biasanya berupa mata kering, mulut kering dan kulit kering.

Namun, jika berlanjut, penyakit ini bisa menyebabkan keluhan sistemik, mulai dari rasa lelah yang terus menerus, neuropati dan perubahan sensasi rasa jika menyerang saraf hingga gangguan memori.

Beragamnya gejala dari Sjogren’s Syndrome membuat penyakit ini sering kali tidak terdiagnosis atau baru terdiagnosis di usia 40-an.

Dia mengatakan, saat ini prevalensi Sjogren’s Syndrome di Indonesia belum diketahui, kemungkinan karena penyakit ini memiliki banyak gejala yang mirip dengan penyakit lain sehingga menyulitkan diagnosis.

"Gejala juga dapat muncul tidak dalam satu waktu sehingga pasien kadang tidak menyadari dan tidak menganggapnya sebagai suatu masalah yang perlu diobati,” ujarnya lagi.

Baca juga: Ashanty Didiagnosis Idap Penyakit Autoimun, Kenali 14 Jenisnya

Kisah Penyintas

Ir. Yennel S. Suzia, MSc, adalah penyintas Sjogren’s Syndrome yang sudah merasakan sendiri betapa sulitnya mendapatkan diagnosis yang tepat dari penyakitnya.

Dalam webinar yang sama, Yennel bercerita bahwa dia butuh waktu dua tahun untuk mengetahui penyakitnya.

Padahal, Yennel sudah merasakan gejalanya selama dua tahun sebelum terdiagnosis.

Pada awalnya, dia hanya sering merasa haus. Dalam perjalanan ke kantor, misalnya, dia bisa menghabiskan dua liter air.

Dia kemudian menjadi mudah lemas atau merasa nyeri, sehingga berkonsultasi ke dokter saraf. Akan tetapi, dokter saraf yang menanganinya tidak menemukan permasalahan apa-apa sehingga kondisinya disebut akibat stres saja.

Baru setelah mengalami kelumpuhan di rumah dan mengira stroke, Yennel melakukan serangkaian pemeriksaan di rumah sakit, termasuk pemeriksaan autoimun, yang berlangsung selama 50 hari.

"Akhirnya saya diberitahukan oleh dokter bahwa menderita sindrom Sjogren," ujar Yennel.

Untungnya, diagnosis dan penanganan yang tepat bisa mengembalikan kemampuan Yennel untuk berjalan kembali. Dia pun tidak mengalami gejala sisa.

Baca juga: Bisakah Orang dengan Penyakit Autoimun Tertentu Memiliki Penyakit Autoimun Lain?

Diagnosis dan penanganan Sjogren's Syndrome

Alvina berkata bahwa gejala yang dialami oleh Yennel tergolong lengkap, yakni tidak hanya menyerang kelenjar saja tetapi juga sudah sistemik.

Namun, kebanyakan kasus Sjogren's Syndrome tidak menunjukkan gejala selengkap Yennel. Hal ini menyulitkan dokter dalam mendiagnosis Sjogren's Syndrome.

Namun, bila ada kecurigaan Sjogren's Syndrome maka bisa dilakukan prosedur diagnosis yaitu anamnesis (wawancara dengan pasien atau orangtua pasien), mengidentifikasi gejala-gejala yang sesuai dan melakukan pemeriksaan penunjang sesuai kecurigaan dokter, seperti tes produksi air mata (tes schirmer) atau tes produksi saliva.

Diagnosis Sjogren's Syndrome kemudian bisa dilakukan dengan melakukan tes ANA karena 83 persen pasien penyakit ini positif tes ANA.

Apabila benar mengidap Sjogren's Syndrome, maka penanganannya bisa berupa:

1. Perubahan pola hidup
- Berhenti merokok
- Menghindari minum yang mengandung kafein, menjaga kebersihan gigi dan mulut, mengurangi konsumsi gula
- Menghindari lingkungan yang kering, tidak terlalu lama di depan komputer atau membaca dan menggunakan kacamata
- Manajemen stres
- Melakukan Aktivitas fisik
- Mengonsumsi vitamin D, seperti vitamin Prove D3-1000 IU dan Prove D3 Drops dari PT Kalbe Farma Tbk.

2. Terapi simtomatik untuk mengurangi gejala

3. Mengonsumsi obat yang memodulasi sistem tubuh

Penulis: Shierine Wangsa WibawaEditor: Shierine Wangsa Wibawa

Artikel Asli