Sering Berantem Saat Kecil, Apakah Anak Bisa Rukun dengan Saudaranya?

Popmama.com Dipublikasikan 06.30, 08/04 • Winda Carmelita
Freepik

Bisa dibilang, punya saudara itu seperti love-hate relationship. Saudara adalah sahabat pertama, sekaligus juga musuh pertama yang kita miliki. Sehari tanpanya rasanya sepi, tapi kalau bertemu tiap hari, berisik dan ributnya setengah mati. Mungkin kejadian-kejadian ini semakin sering terjadi tatkala anak-anak kita sekarang sedang menjalani karantina di rumah saja selama beberapa minggu. Duh, kalau ribut dan bertengkar terus, bagaimana nanti saat dewasa ya? Apakah mereka bakal terus bermusuhan seperti ini?

Seiring bertambahnya usia, anak-anak akan melalui siklus persahabatan dan persaingan. Saat ini mungkin rumah Mama terasa tak pernah sepi karena antara sang Adik dengan sang Kakak selalu timbul pertengkaran. Tapi terlepas dari apakah hubungan mereka saat ini adalah sahabat yang tak terpisahkan atau musuh bebuyutan, perubahan besar pada dinamika hubungan saudara kandung akan berubah ketika mereka tumbuh dewasa.
 

Fase Keributan di Masa Kecil

huffingtonpost.com

Ketika sang Kakak tumbuh remaja, ia menginginkan kemandirian. Teman-teman, hobi dan waktunya sendiri, bahkan ingin memiliki orangtuanya sendiri. Terkadang, mereka merasa bahwa sang Adik menghalangi keinginan tersebut. Sebaliknya, sang Adik pun ingin menjadi seperti sang Kakak yang menurutnya lebih 'keren', sementara mereka berdua sebetulnya sama-sama menginginkan perhatian lebih dari orangtua dan orang dewasa di sekitarnya.

Baik sang Kakak maupun sang Adik yang tumbuh dengan jarak usia yang dekat, mereka seolah terjebak dalam pertempuran terus-menerus untuk mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Hal ini terwujud dalam berbagai cara, mulai dari berdebat siapa yang duduk di kursi mobil sebelah mana, hingga berebut remote televisi. 

Tetapi jangan salah, Ma, persaingan ini ternyata juga memunculkan motivasi dalam diri masing-masing anak. Contohnya, jika sang Adik ternyata lebih cepat bisa berenang, sang Kakak akan termotivasi untuk belajar caranya bisa berenang sebaik sang Adik, walaupun semua ini dilakukan dalam upaya mengalihkan perhatian orangtua dari adiknya.

Kesenjangan Usia Semakin Menyempit Saat Semakin Dewasa

freepik.com/halayalex

Di masa kecil, sang Kakak mungkin merasa risih jika sang Adik ingin terus bersamanya dan meniru semua yang dilakukannya. Tetapi, seiring bertambahnya usia, Mama akan mendapati bahwa lama-kelamaan mereka bisa menyesuaikan diri. Jarak usia boleh memang jauh, akan tetapi kesenjangannya semakin sempit. Terkadang, kesenjangan usia antar saudara kandung terasa lebih besar karena lingkungan sekitar menekankannya sepanjang masa kanak-kanak. "Itu Kakak, kamu harus menghormatinya," dan "Itu Adik, Kakak harus menjaga dan melindunginya." 

Seiring bertambahnya usia, faktor sosial akan menumbuhkan ikatan baru atas kesamaan yang telah mereka bagi selama bertahun-tahun. Jadi, jangan heran jika 'musuh bebuyutan' di masa kecil, justru jadi teman berbagi yang menyenangkan di masa remaja. Antar saudara tak lagi canggung berbagi tentang musik dan film favorit, bahkan meminta saran satu sama lain.

Saat Jarak Memisahkan

Freepik

Ketika salah satu saudara pergi dari rumah, untuk bersekolah di kota lain, bekerja atau pun menikah, saudara yang lain akan merasakan suasana yang berbeda. Karena kesibukan, jarak itu bukan lagi soal tempat melainkan juga relasi dan komunikasi yang berkurang. 

Bagi sebagian orang, ketika berjauhan dari saudaranya mereka justru merasa hubungannya lebih dekat. Ikatannya lebih kuat karena satu sama lain berusaha berbagi dan bersikap lebih baik, bisa jadi karena sebetulnya merasa kesepian di tempat masing-masing. 

Penting bagi orangtua untuk memfasilitasi obrolan, dengan memberi kabar terbaru tentang sang Kakak atau pun sang Adik pada saudara yang lain. Dengan tahu kabar satu sama lain, mereka dapat saling menjangkau sehingga tak lagi canggung tatkala harus memulai topik pembicaraan di obrolan pribadi. Membuat grup chat keluarga juga merupakan cara yang bagus untuk menjaga semua anggota keluarga dalam jaringan yang sama ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah.

'Reuni' Keluarga Tidak Selalu Mudah

Freepik/Freephoto

Saat anak yang lebih besar kembali pulang ke rumah, terkadang situasi tak selalu lebih mudah walau ketika berjauhan semua tampak membaik. Anak yang tinggal di rumah, akan merasa harus bersaing kembali untuk mendapatkan perhatian orangtua. Sementara anak yang lebih besar mungkin merasa telah terbiasa dengan otoritasnya sendiri saat hidup di luar rumah. Belum lagi penyesuaian-penyesuaian kebiasaan yang terasa menantang. 

Di sinilah tugas orangtua untuk menemukan keseimbangan dan membangun dinamika relasi yang baru. Terapkan aturan dan batasan yang jelas mengenai hak bersama, misalnya penggunaan televisi atau mobil keluarga. Bagilah tugas yang adil dan tiap anak harus mengetahui tanggungjawabnya. 

Seperti kata pepatah, "Blood is thickier than water," seperti itulah hubungan antar saudara. Biarkan ikatan anak-anak berkembang dengan alur dan kecepatannya masing-masing. Tugas orangtua adalah membina hubungan yang sehat agar antar saudara memiliki rasa saling menyayangi dan melindungi. Jadi, jika di masa ini sang Kakak dan Adik masih suka bertengkar dan ribut sendiri, tenang, Ma. Akan tiba masanya mereka akan saling memahami kok. 

  • 6 Cara Tepat untuk Meredam Kecemburuan Antar Saudara
  • Dampak Buruk Jika Anak Dibiarkan Terus Cemburu pada Saudaranya
  • Berbagi Kamar dengan Saudara, Ini Tipsnya Agar Terhindar Dari Drama
Artikel Asli