Seri Hewan Nusantara: LIPI Temukan Kecoak Laut Raksasa di Selat Sunda

Kompas.com Dipublikasikan 01.02, 16/07 • Ellyvon Pranita
Dok. LIPI
Kecoak laut raksasa ditemukan pertama kalinya di Selat Sunda dalam ekspedisi LIPI.

KOMPAS.com - Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menemukan kecoak laut raksasa pertama di laut dalam Indonesia.

Kecoak laut raksasa merupakan jenis baru krustasea (udang-udangan) Bathynomus yang berhasil dideskripsikan pada tahun 2020 ini.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi mengatakan bahwa penemuan jenis baru Bathynomus raksasa ini dinilai menjadi capaian penting keilmuan, khususnya dalam bidang ilmu taksonomi yang relatif sepi peminatnya.

"Penemuan jenis baru merupakain capaian besar seorang taksonomis apalagi jenis spektakuler dari sisi ukuran bahkan ekosistem di mana jenis tersebut ditemukan," kata Cahyo.

Baca juga: Seri Hewan Nusantara: Landak Jawa, Satwa Dilindungi dan Durinya Kaya Nutirisi

Cahyo berkata, penemuan jenis baru ini mengingatkan kita betapa besar potensi kenekaragaman hayati Indonesia yang belum terungkap.

"Masa depan pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia berkejaran dengan laju kepunahan jenis dan mungkin juga taksonom sebagai garda terdepan," ujarnya.

Lokasi penemuan berada di Selat Sunda, selatan Pulau Jawa pada kedalaman 957-1.259 meter di bawah permukaan laut.

Spesimennya dikoleksi pada kegiatan ekspedisi South Java Deep Sea Biodiversity Expedition (SJADES) yang merupakan ekspedisi LIPI bersama National University of Singapore.

Adapun koordinator penelitian ini adalah Dwi Listyo Rahayu dan Peter Ng pada tahun 2018.

Penemuan jenis baru Bathynomus raksasa ini telah dipublikasikan pada junral ZooKeys pada tanggal 8 Juli 2020.

Morfologi Bathynomus

Identifikasi Bathynomus raksasa ini dilakukan dari holotype jantan berukuran 363 milimeter dan paratype betina berukuran 298 milimeter.

"Secara umum, Bathynomus raksasa paling mirip dengan bathynomus giganteus dan Bathynomus lowryi dalam rentang ukuran dan karakter di bagian ekor atau pleotelson," jelas Conni.

Ia juga menjelaskan, perbedaan dengan dua jenis tersebut terdapat pada karakter anterna, organ ujung kepala, tekstur permukaan, duri ekor dan beberapa karakter lainnya.

Untuk diketahui, ekspedisi SJADES juga memperoleh empat spesimen Bathynomus pra-dewasa dan muda dari perairan Selat Sunda dan selatan Jawa.

Conni berkata, spesimen tersebut tidak dapat kami identifikasi ke tingkat jenis, karena karakter diagnostik jenis biasanya belum berkembang pada tahap pra-dewasa atau lebih muda.

Tetapi, yang pasti spesimen ini bukan Bathynomus raksasa karena adanya perbedaan bentuk ekor, ekor samping, dan duri ekor.

Bathynomus jenis baru ini memiliki keunikan tubuh yang menarik, sebagai berikut:

  • Tubuh pipih dan keras
  • Tidak memiliki karapaks atau cangkang keras yang melindungi organ dalam pada tubuh krustasea
  • Matanya berukuran besar, pipih dan memiliki jarak cukup lebar di antara keduanya
  • Organ di bagian kepala adalah sepasang antena panjang, sepasang antena pendek di ujung kepala, dan mulut
  • Anggota tubuh yang bermodifikasi untuk alat makan di segmen bagian bawah kepala
  • Bathynomus ini memiliki tujuh pasang kaki jalan dan lima pasang kaki renang

Baca juga: Seri Hewan Nusantara: Katak Mini Endemik Selatan Sumatera, Suaranya Senyaring Jangkrik

Kenapa disebut raksasa?

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Conni Margaretha Sidabalok menjelaskan, pemilihan istilah raksasa sebagai nama jenis ini mengacu pada ukuran tubuh yang masuk dalam kategori besar (giant) dan sangat besar (super giant).

Bahkan, ukurannya bahkan mencapai ukuran di atas 15 centimeter di usia dewasa.

"Ukurannya memang sangat besar dan menduduki posisi kedua terbesar dari genus Bathynomus," jelas Conni.

Ia menambahkan, beberapa penelitian terdahulu telah menemukan lima jenis Bathynomus berkategori super giant di Samudera Hindia dan Pasifik.

Untuk diketahui, Bathynomus merupakan salah satu ikon krustasea laut dalam dengan ukuran relatif besar dan tampilan keseluruhan yang khas.

"Penemuan Bathynomus pertama dari laut dalam Indonesia ini sangat penting bagi riset taksonomi krustasea laut dalam, mengingatlangkanya riset sejenis di Indonesia," ujarnya.

Penulis: Ellyvon PranitaEditor: Gloria Setyvani Putri

Artikel Asli